Thursday, 16 Zulhijjah 1441 / 06 August 2020

Thursday, 16 Zulhijjah 1441 / 06 August 2020

Bolehkah Meminta Kembali Harta yang Telah Dihibahkan?

Kamis 02 Jul 2020 12:17 WIB

Rep: Dea Alvi Soraya/ Red: Ani Nursalikah

Bolehkah Meminta Kembali Harta yang Telah Dihibahkan?

Bolehkah Meminta Kembali Harta yang Telah Dihibahkan?

Foto: Pixabay
Ada pengecualian mengenai harta hibah yang boleh diminta kembali.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Meminta kembali hibah yang telah diberikan, diibaratkan seperti menelan kembali muntahan yang telah jatuh ke tanah. Dari Ibnu Abbas RA, Rasulullah SAW bersabda, “Perumpamaan bagi orang yang mengambil kembali hibahnya ibarat orang yang menelan kembali muntahnya." (HR. Bukhari dan Muslim)

Baca Juga

Di hadits lain yang juga diriwayatkan Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW menyebut orang yang mengambil hibahnya kembali ibarat seekor anjing yang muntah lalu menelan kembali muntahnya.

Syeikh Abu Ishaq asy-Syairazi atau lebih dikenal dengan Imam as-Syairazi (w. 476 H) menyebutkan, jika seseorang telah memberikan hibah kepada selain anak dan cucu, maka tidak boleh diminta kembali. Meski begitu, ahli fiqih yang namanya kerap muncul di kitab-kitab fiqh mazhab Syafi'i ini memberikan beberapa pengecualian yang membolehkan mengambil kembali hibah.

"Ada pengecualian dari meminta kembali hibah ini. Jika pemberinya adalah orang tua, diberikan kepada anaknya maka orang tua itu diperbolehkan mengambil kembali hibahnya. Selain itu tak boleh, kecuali atas kerelaan dari orang yang diberi. Termasuk pemberian suami kepada istri atau sebaliknya," tulisnya yang dikutip di buku berjudul Hibah Jangan Salah karangan Hanif Luthfi.  

Pernyataan tersebut dikuatkan dengan perkataan Rasulullah dalam hadits riwayat Abu Daud, Tirmidzi, An-Nasa-i, dan Ibnu Majah. Dari Ibnu Abbas dan Ibnu Umar, Rasulullah SAW bersabda, "Tidaklah halal jika seseorang memberikan pemberian kemudian dia menarik lagi pemberiannya, kecuali orang tua (yang menarik lagi) sesuatu yang telah dia berikan kepada anaknya." (HR. Abu Daud, Tirmidzi, An-Nasa-i, dan Ibnu Majah).

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA TERKAIT

 

BERITA LAINNYA