Rabu 01 Jul 2020 17:08 WIB

BKPM Gandeng AP II Tawarkan 7 Proyek Pengembangan Bandara

BKPM dan AP II menggelar market sounding kemarin.

Rep: Iit Septyaningsih/ Red: Nidia Zuraya
Petugas membersihkan area selasar di terminal kedatangan domestik, Bandara Internasional Minangkabau (BIM), Padangpariaman, Sumatera Barat, ilustrasi.
Foto: Antara/Iggoy el Fitra
Petugas membersihkan area selasar di terminal kedatangan domestik, Bandara Internasional Minangkabau (BIM), Padangpariaman, Sumatera Barat, ilustrasi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) bekerja sama dengan PT Angkasa Pura II menyelenggarakan kegiatan market sounding berbagai proyek PT Angkasa Pura II. Kegiatan ini sebagai persiapan pembukaan kembali ekonomi pada kondisi kenormalan baru.

Market sounding digelar secara daring pada Selasa (30/6) kemarin. Market sounding merupakan tahapan awal dalam penyiapan 7 proyek infrastruktur yang ditawarkan oleh PT Angkasa Pura II.

Baca Juga

Maka, kegiatan tersebut bertujuan mendapatkan masukan publik. Sekaligus mencari mitra strategis dalam pengembangan bisnis proyek infrastruktur yang ditawarkan itu.

Plt Deputi Bidang Perencanaan Penanaman Modal BKPM Nurul Ichwan mengapresiasi PT Angkasa Pura II atas semangatnya melakukan sosialisasi peluang investasi yang dimilikinya pada kondisi pandemi Covid-19 saat ini. BKPM mendukung penuh pembangunan infrastruktur yang dilaksanakan oleh perseroan.

Sebagai pemilik dan pengelola bandara-bandara di Indonesia, PT Angkasa Pura II tidak hanya memiliki visi menjadi fasilitas yang melayani penerbangan. Melainkan juga ingin menjadikan bandara di Indonesia sebagai bandara masa depan berinfrastruktur nyaman dan terintegrasi dengan kawasan di sekitarnya.

“Kami mendukung kegiatan ini karena pembangunan infrastruktur dan kemajuan ekonomi memiliki keterkaitan erat. Ini sudah dibuktikan ketika pemerintah fokus pada pembangunan infrastruktur di wilayah Indonesia Timur," jelas Nurul.

Pada akhirnya, lanjut dia, kegiatan ekonomi khususnya peningkatan investasi di Indonesia Timur semakin baik. "Sehingga apapun yang kita lakukan, infrastruktur harus hadir lebih dulu sebelum bisnis-bisnis lainnya hadir,” tuturnya.

Pada kesempatan ini, PT Angkasa Pura II memaparkan 7 proyek infrastruktur yang ditawarkan yaitu pertama, 4 Stars Hotel at Soekarno Hatta Airport International Terminal, kerja sama pengelolaan hotel sampai 20 tahun. Kedua, Aeroland City Development Project at Tangerang, kerja sama pengembangan lahan untuk Business Park, Service Apartment, residential, sekolah, dan pergudangan.

Ketiga, Retail Area Management for AP II Airports, kerja sama pengelolaan retail area di 17 Airport AP II. Keempat, Concession Agreement for Advertising Management for AP II Airports, kerja sama pengelolaan periklanan pada 17 Bandara AP II, termasuk Bandara Soekarno Hatta. Kelima, Sky City at Soekarno Hatta Airport, kerja sama pembangunan dengan konsep TOD (Transit Oriented Development), Convention Center, dan Service Apartment.

Keenam, Airport City at Kualanamu International Airport, kerja sama pembangunan perumahan lokal dan gedung komersial (theme park, logistic park, dan factory outlet) di lahan 200 Hektar. Ketujuh, Airport City at Supadio International Airport, kerja sama pembangunan leisure mall, condotel, sport club, dan entertainment dalam satu kawasan.

“Kita berharap dari 7 proyek yang ditawarkan tersebut, ketika ada investornya, maka kita akan lihat adanya multiplier effects yang diciptakan. Sehingga dapat memberikan kontribusi yang baik terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia,” tambah Nurul.

Direktur Komersial PT Angkasa Pura II Ghamal Peris Aulia menyampaikan, PT Angkasa Pura II mengelola 19 bandara di seluruh Indonesia. Penyediaan 7 proyek infastruktur ini bertujuan meningkatkan kualitas pelayanan kepada pengguna jasa bandara serta menciptakan customer experience yang baik, efektifitas dan efisiensi sistem operasi, serta model bisnis yang kompetitif.

Sejalan dengan proyeksi akan membaiknya pertumbuhan ekonomi Indonesia, industri penerbangan dan kebandaraan diyakini akan kembali bergairah. Hal ini juga didukung dengan regulasi pemerintah bagi industri penerbangan.

“Perusahaan sebagai pengelola bandara terbesar di Indonesia, yang juga salah satu bandara tersibuk di Kawasan Asia dan dunia, yaitu Bandara Internasional Soekarno Hatta yang melayani penumpang sebanyak 54,2 juta pada tahun 2019 dan secara korporasi sebanyak 94 juta. Tentunya dihadapkan pada tantangan bagaimana membuat akselerasi dalam dinamika bisnis," jelas Ghamal.

Sebagai gambaran, potensi Bandara Internasional Soekarno Hatta sebagai Primary Internasional Hub dan Regional Hub merupakan proyeksi pertumbuhan pergerakan angkutan udara untuk Bandara Internasional Soekarno Hatta yang selalu meningkat dari tahun ke tahun.

"Semoga kesempatan baik yang difasilitasi oleh BKPM ini dapat dimanfaatkan secara optimal oleh para peserta market sounding dan bisa memberikan nilai tambah dalam kerja sama di kemudian hari,” ujar Ghamal.

Mengacu pada potensi pengembangan bisnis di industri kebandaraan yang semakin dinamis, salah satu upaya akselerasi bisnis yang akan dilakukan adalah dengan melakukan program kemitraan dengan investor yang kredibel di bidangnya. Perlu diketahui, 7 proyek tersebut memiliki total nilai sebesar Rp 16 triliun atau lebih dari 1 miliar dolar AS.

Sementara, kerja sama dilakukan secara jangka panjang, sampai 25 tahun. Tujuannya memberikan balik modal yang menjanjikan bagi investor walaupun dalam masa pandemi Covid-19.

Sebagai informasi, kegiatan Market Sounding diikuti oleh lebih dari 250 partisipan dari Indonesia dan luar negeri. Mereka berasal dari perusahaan swasta dan BUMN di bidang konstruksi, pengembang/developer, pengelola bandara, ritel, periklanan, logistik, aviasi, pengelola kawasan, lembaga keuangan, konsultan, dan asosiasi usaha.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement