Wednesday, 17 Zulqaidah 1441 / 08 July 2020

Wednesday, 17 Zulqaidah 1441 / 08 July 2020

Kota Mataram dan Lombok Masih Jadi Zona Merah Covid-19

Rabu 01 Jul 2020 09:07 WIB

Red: Bayu Hermawan

Covid-19 (ilustrasi).

Covid-19 (ilustrasi).

Foto: www.freepik.com
Wagub NTB mengatakan Kota Mataram dan Lombok masih jadi zona merah Covid-19.

REPUBLIKA.CO.ID, MATARAM -- Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Sitti Rohmi Djalilah mengatakan Kota Mataram dan Kabupaten Lombok hingga saat ini masih menjadi zona merah penularan Covid-19 di provinsi tersebut. Wagub NTB mengingatkan masyarakat di dua wilayah tersebut untuk disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan pencegahan Covid-19.

Baca Juga

"Memang episentrum penyebaran Covid-19 di NTB ini ada di dua dan ini menjadi pekerjaan rumah besar kita, yaitu di Kota Mataram dan Kabupaten Lombok Barat. Sehingga penanganan kita harus betul-betul fokus ke depan untuk dua wilayah ini," katanya.

Ia mengatakan bahwa kasus Covid-19 di Kota Mataramdan Lombok Barat masih bertambah, dengan pertambahan masing-masing 12 dan enam kasus menurut data terkini pemerintah. "Peta telah ditentukan, sekarang bagaimana kita menerapkan protokol Covid-19 pada setiap tempat itu. Bersinergi sungguh-sungguh untuk benar benar menjaga aktivitas-aktivitas kita, termasuk obyek wisata yang telah dibuka," katanya.

Wakil Gubernur meminta para pemangku kepentingan terkait memastikan penerapan protokol pencegahan Covid-19 di tempat-tempat wisata yang sudah dibuka. Termasuk memantau disiplin pengunjung memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan.

"Kami dari Provinsi NTB untuk kegiatan menyosialisasikan, telah kami lakukan, mengecek pemakaian masker dan menggunakan masker. Dan ini butuh komitmen Kota Mataram benar-benar dan kita ingin Kota Mataram lebih aktif lagi menyosialisasikan," katanya.

Dia menekankan pentingnya disiplin penerapan protokol kesehatan untuk meminimalkan risiko penularan virus corona penyebab Covid-19 di semua sektor. Selain itu juga meningkatkan upaya penanggulangan wabah penyakit tersebut.

"Yang dulunya tidak kejadian, sekarang telah kejadian, tiap hari ada yang meninggal, ini menunjukkan transmisi lokal telah kencang, inilah kemudian yg menyebabkan kematian ada tiap hari," katanya.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA