Thursday, 25 Zulqaidah 1441 / 16 July 2020

Thursday, 25 Zulqaidah 1441 / 16 July 2020

Ekonom Senior: Jangan Kaget Pertumbuhan Ekonomi RI Minus

Rabu 01 Jul 2020 01:17 WIB

Red: Nidia Zuraya

Pertumbuhan ekonomi

Pertumbuhan ekonomi

Foto: Republika
Pertumbuhan minus ini akan mulai terlihat pada kuartal II 2020.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ekonom senior Raden Pardede mengaku tidak akan kaget jika pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal II-2020 minus hingga 3 persen atau 5 persen, merujuk kondisi di China. Ia menuturkan, pertumbuhan ekonomi China pada triwulan I-2020 minus 6,8 persen padahal wabah Covid-19 sudah ditemukan di Wuhan pada kuartal IV-2019.

"Di kita, dampaknya memang terlihat di bulan Maret, pandemi muncul. Itu pun sudah terlihat penurunan meski masih positif 2,97 persen (kuartal I-2020). Di kuartal II nanti akan sangat mirip dengan yang terjadi di China. Tidak akan jauh dari situ, apa akan minus 3 persen, 5 persen, saya pikir kita tidak terlalu kaget," katanya dalam webinar bertajuk "RUU Cipta Kerja dan Ekonomi Pandemi: Opini Publik Nasional", Selasa (30/6).

Menurut Raden, pertumbuhan ekonomi yang minus bisa terjadi lantaran pemerintah sudah melarang warga untuk bekerja atau bepergian demi melindungi kesehatan. Otomatis kegiatan ekonomi juga harus melambat.

Namun, keadaan ekonomi yang lebih buruk dibandingkan tahun lalu juga terjadi di seluruh dunia akibat pandemi Covid-19. "Satu hal, (krisis) kali ini agak beda dengan krisis lainnya karena secara sengaja pemerintah menghentikan kegiatan. Di krisis sebelumnya, bahkan saat great depression dan Perang Dunia II pun terjadi krisis ekonomi, tapi tidak pernah pemerintah melarang orang bekerja," katanya.

Dengan mulai dibukanya kegiatan ekonomi secara bertahap mulai awal Juni, diharapkan bisa kembali mendorong pertumbuhan ekonomi untuk kuartal berikutnya. Lagipula, kegiatan ekonomi yang mulai dibuka juga lantaran banyak pekerja di sektor nonformal yang tidak mampu bertahan jika tidak bekerja kecuali mendapat aokongan penuh dari pemerintah.

Hal itu, tentu berbeda dengan kondisi di negara maju yang memiliki sistem jaminan sosial mumpuni. "Makanya mulai awal Juni dibuka dan banyak yang bahkan saat dilarang pun masih bekerja, begitu dibuka (pembatasan) maka mayoritas kembali bekerja," tuturnya.


Baca Juga

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA