Sunday, 4 Zulhijjah 1443 / 03 July 2022

IDI Minta Pemerintah Segera Cairkan Insentif untuk Nakes

Selasa 30 Jun 2020 19:20 WIB

Rep: Rr Laeny Sulistyawati/ Red: Andi Nur Aminah

Sejumlah perawat beristirahat dengan mengenakan alat pelindung diri di Instalasi Gawat Darurat khusus penanganan Covid-19 di RSUD Arifin Achmad, Kota Pekanbaru, Riau, Jumat (5/6/2020). Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Keuangan telah mengalokasi dana insentif dari APBN untuk tenaga kesehatan (Nakes) dalam penanggulangan COVID-19 sebesar Rp1,9 triliun untuk pusat dan untuk daerah Rp3,7 triliun

Sejumlah perawat beristirahat dengan mengenakan alat pelindung diri di Instalasi Gawat Darurat khusus penanganan Covid-19 di RSUD Arifin Achmad, Kota Pekanbaru, Riau, Jumat (5/6/2020). Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Keuangan telah mengalokasi dana insentif dari APBN untuk tenaga kesehatan (Nakes) dalam penanggulangan COVID-19 sebesar Rp1,9 triliun untuk pusat dan untuk daerah Rp3,7 triliun

Foto: Antara/FB Anggoro
Jika pencairan tak segera dilakukan, wajah pemerintah akan tercoreng.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ikatan Dokter Indonesia (IDI) meminta pemerintah segera mencairkan insentif untuk tenaga kesehatan (nakes) yang menangani virus corona SARS-CoV2 (Covid-19). Jika pencairan tak segera dilakukan, wajah pemerintah akan tercoreng.

"Cairkan saja, bagikan saja (insentifnya). Kami tenaga kesehatan yang terdiri atas dokter dan perawat tidak minta lho, itu pemerintah memutuskan mau memberikan dan mengumumkan dimana-mana. Jadi ya kerjain dong," kata Ketua Satgas Covid-19 IDI Profesor Zubairi Djoerban saat dihubungi Republika.co.id, Selasa (30/6).

Baca Juga

Terkait alasan pemerintah lambannya pencairan karena masih menunggu usulan dari fasilitas kesehatan, ia menyebutkan semua data ada di pemerintah. Misalnya data dari rumah sakit (RS) rujukan, pemerintah dan Kementerian Kesehatan sebagai bosnya.

Apalagi, dia melanjutkan, semua data terkomputerisasi, jadi data ada di sistem itu. Kalau ada perubahan, ia menyebutkan bahwa klarifikasi bisa dilakukan melalui telepon. Jika insentif ini tidak segera cair, ia menegaskan itu tidak akan memengaruhi kinerja tenaga kesehatan yang berada di garda terdepan. Padahal, ia menyebutkan sudah puluhan dokter dan perawat yang tertular virus ini.

Ia menegaskan, penanganan Covid-19 menjadi tugas kemanusiaan tenaga kesehatan. Ini terbukti dari nakes yang mengorbankan waktu libur hingga nyawa. "Ya mungkin kami jadi tidak percaya karena ini mencoreng wajah pemerintah," ujarnya.

 

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA