Thursday, 25 Zulqaidah 1441 / 16 July 2020

Thursday, 25 Zulqaidah 1441 / 16 July 2020

300 Anak AS Alami Sindrom Peradangan Multisistem Covid-19

Selasa 30 Jun 2020 17:04 WIB

Red: Reiny Dwinanda

Lesi ungu sangat mirip dengan cacar air, campak, atau bengkak akibat kedinginan tampak pada pasien Covid-19. Sindrom peradangan multisistem (MIS-C) terpantau dialami oleh 300 anak di AS yang positif Covid-19.

Lesi ungu sangat mirip dengan cacar air, campak, atau bengkak akibat kedinginan tampak pada pasien Covid-19. Sindrom peradangan multisistem (MIS-C) terpantau dialami oleh 300 anak di AS yang positif Covid-19.

Foto: Newsflash / Consejo Jenderal De Colegios Ofic
Sindrom peradangan multisistem memiliki gejala yang sama dengan penyakit Kawasaki.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Hampir 300 kasus sindrom langka yang mengancam jiwa pada anak dan remaja, yang terkait dengan infeksi virus corona ditemukan di Amerika Serikat dalam dua riset di The New England Journal of Medicine. Riset AS yang dipublikasi pada Senin menyusul sejumlah laporan sindrom di kalangan pasien COVID-19 di Prancis, Spanyol dan Inggris.

Multisystem inflammatory syndrome in children (MIS-C) alias sindrom peradangan multisistem pada anak mempunyai gejala yang sama dengan syok toksik dan penyakit Kawasaki. Pengidapnya mengalami demam, ruam, pembengkakan kelenjar, dan pada kasus parah mengalami peradangan jantung.

"Keadaan konsisten yang muncul akibat sindrom terjadi dua sampai empat pekan setelah infeksi virus corona," kata profesor pediatri dan kesehatan anak internasional di Imperial College London, Michael Levin, dalam editorial bersama.

Dalam laporannya, Levin mengungkapkan, sindorm tersebut berdampak pada dua dari 100 ribu anak muda, yang diartikan sebagai usia di bawah 21 tahun, dari 322 pada 100 ribu pasien Covid-19. Sementara sejumlah riset mengidentifikasi sekitar 300 kasus di Amerika Serikat, Levin mencatat bahwa terdapat lebih dari 1.000 kasus yang dilaporkan di seluruh dunia dan proporsi yang relatif tinggi terjadi di kalangan orang kulit hitam, orang Hispanik atau Asia Selatan.

"Terdapat kekhawatiran bahwa anak-anak yang memenuhi kriteria diagnostik MIS-C saat ini merupakan 'puncak gunung es' dan masalah yang lebih besar mungkin bersembunyi di bawah permukaan air," tulis Levin.

Studi pertama, yang dipimpin oleh Rumah Sakit Anak Boston, menemukan 186 kasus MIS-C berada di 26 negara bagian AS, dengan empat dari lima kasus membutuhkan perawatan intensif. Satu dari lima kasus lainnya membutuhkan ventilasi mekanis serta empat pasien meninggal.

Studi kedua, yang memantau pasien di New York dan dilakukan oleh departemen kesehatan setempat, menemukan 95 kasus terkonfirmasi lainnya, dengan 4 dari 5 kasus perlu dipindahkan ke unit perawatan intensif (ICU) dan dua pasien meninggal. Tak diketahui pasti mengapa MIS-C berkembang pada anak-anak dan remaja dan bukan yang lainnya.

Baca Juga

sumber : Antara, Reuters
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA