Sunday, 14 Zulqaidah 1441 / 05 July 2020

Sunday, 14 Zulqaidah 1441 / 05 July 2020

Jokowi Ingatkan Daerah tak Buru-Buru Terapkan New Normal

Selasa 30 Jun 2020 11:22 WIB

Rep: Dessy Suciati Saputri/ Red: Nur Aini

Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Foto: Dok
Jokowi meminta daerah memakai data sains untuk menerapkan kenormalan baru.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengingatkan kepala daerah agar tak terburu-buru mengambil kebijakan pembukaan tatanan baru atau new normal di daerahnya masing-masing. Penerapan new normal harus dilakukan melalui tahapan-tahapan yang benar.

Baca Juga

Hal itu disampaikan Jokowi saat memberikan pengarahan melalui konferensi video untuk penanganan Covid-19 terintegrasi di Provinsi Jawa Tengah, Selasa (30/6). “Saya titip jangan sampai membuka pada tatanan baru new normal, tapi tidak melalui tahapan-tahapan yang benar. Setiap kita membuat kebijakan, setiap kita membuat policy, betul-betul tolong, yang namanya data sains itu dipakai,” kata dia.

Jokowi mengatakan, keputusan untuk membuka new normal juga harus dilakukan berdasarkan data saing maupun saran dari para pakar. Dengan demikian, kebijakan yang diambil tak merugikan masyarakat dan justru memperparah penyebaran Covid-19.

“Tadi disampaikan oleh Pak Gubernur, data-data sudah jelas, agar itulah yang kita pakai. Jangan sampai kita berani membuka masuk ke new normal, tetapi keadaan datanya masih belum memungkinkan. Jangan dipaksa. Sehingga tahapan-tahapan harus betul-betul disiapkan,” ucap Jokowi.

Daerah harus melalui beberapa tahapan sebelum membuka new normal, seperti tahapan prakondisi, kemudian memastikan waktu yang tepat untuk menerapkan new normal, dan juga menentukan sektor apa saja yang menjadi prioritas untuk dibuka kembali. “Timing-nya harus tepat. Jangan sampai Rt-nya masih tinggi di atas 1, R0-nya masih tinggi, kita sudah berani buka. Hati-hati, jangan membuat kebijakan tanpa sebuah data sains yang jelas,” kata Jokowi mengingatkan.

Jokowi mengatakan, tak seluruh sektor bisa dibuka nantinya. Karena itu, sektor mana saja yang menjadi prioritas dan memiliki risiko kecil penyebaran Covid-19 harus dipetakan. Selain itu, pembukaan kembali kegiatan masyarakat harus dilakukan dengan pembatasan.

Ia mencontohkan, jika sektor pariwisata kembali dibuka, jumlah pengunjung yang bisa memasuki area wisata pun dibatasi. “Kalau kapasitas biasanya seribu ya 500 dulu. Tidak usah tergesa-gesa karena yang kita hadapi ini dua; kesehatan dan ekonomi yang semuanya harus berjalan dengan baik,” ujar dia.

Terakhir, Jokowi mengingatkan agar daerah terus melakukan pengawasan dan evaluasi terhadap kebijakan yang diputuskan. Dengan demikian, jika terjadi penambahan angka Covid-19 saat new normal nanti diterapkan, pemerintah daerah diharapkan dapat segera mengambil keputusan untuk menutup kembali.

“Kalau memang keadaannya naik ya tutup lagi. Harus berani seperti itu. Harus berani memutuskan seperti itu,” kata Jokowi.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA