Sunday, 14 Zulqaidah 1441 / 05 July 2020

Sunday, 14 Zulqaidah 1441 / 05 July 2020

Pabrik AS Patok Harga Obat Covid-19 Rp 33 Juta per Pasien

Selasa 30 Jun 2020 10:22 WIB

Rep: Ali Mansur/ Red: Nur Aini

Gilead Sciences Inc memublikasikan temuan terpenting dari uji coba pemberian remdesivir slama lima hari dan 10 hari pada pasien Covid-19.

Gilead Sciences Inc memublikasikan temuan terpenting dari uji coba pemberian remdesivir slama lima hari dan 10 hari pada pasien Covid-19.

Foto: EPA
Obat Covid-19 remdesivir diklaim dapat menghambat Covid-19

REPUBLIKA.CO.ID, -- Gilead Sciences Inc mematok harga obat Covid-19 remdesivir sebesar 2.340 dolar AS atau Rp 33 juta per pasien untuk negara-negara kaya. Perusahan setuju untuk mengirimkan hampir semua pasokan obatnya ke Amerika Serikat selama tiga bulan ke depan. 

Baca Juga

Harga obat itu sedikit di bawah kisaran 2.520-2.800 dolar AS yang disarankan oleh kelompok riset penetapan harga obat AS Institute for Clinical and Economic Review (ICER) pekan lalu. Hal itu terjadi setelah para peneliti Inggris menemukan deksametason steroid yang murah dan secara signifikan menurunkan angka kematian di antara pasien Covid-19 parah.

Remdesivir diperkirakan mendapat permintaan tinggi karena satu-satunya pengobatan yang sejauh ini terbukti menghambat Covid-19. Setelah obat yang diberikan lewat pembuluh darah itu membantu rumah sakit mempersingkat waktu pemulihan dalam uji klinis, remdesivir mendapatkan otorisasi penggunaan darurat di Amerika Serikat dan persetujuan penuh di Jepang.

Obat itu diyakini paling efektif dalam mengobati pasien lebih awal daripada deksametason, yang mengurangi kematian pada pasien yang membutuhkan bantuan oksigen dan mereka yang menggunakan ventilator. Namun, remdesivir dalam formulasinya saat ini, hanya digunakan pada pasien yang cukup sakit sehingga perlu rawat inap pengobatan lima hari.

Dalam sebuah surat terbuka, Kepala Eksekutif Gilead Daniel O'Day mengatakan harganya jauh di bawah nilai yang diberikan mengingat bahwa pengeluaran rumah sakit di awal dapat menghemat sekitar 12.000 dolar per pasien di Amerika Serikat.

Pengacara pasien berpendapat bahwa biayanya harus lebih rendah karena remdesivir dikembangkan dengan dukungan keuangan dari pemerintah AS. Sementara perwakilan AS Lloyd Doggett, seorang Demokrat dari Texas, mengatakan harga yang keterlaluan untuk obat yang sangat sederhana.

Remdesivir sebelumnya gagal sebagai pengobatan Ebola dan belum menunjukkan bahwa itu dapat mengurangi kematian Covid-19.

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA