Sunday, 14 Zulqaidah 1441 / 05 July 2020

Sunday, 14 Zulqaidah 1441 / 05 July 2020

Dipimpin S&P 500, Wall Street Berakhir Positif

Selasa 30 Jun 2020 06:50 WIB

Rep: Retno Wulandhari/ Red: Friska Yolandha

Pemandangan tentang tanda  Wall Street di dekat Bursa Efek New York di New York, New York, AS, 15 Juni 2020. Investor terus mencoba dan memprediksi dampak ekonomi global dari pandemi coronavirus yang sedang berlangsung.

Pemandangan tentang tanda Wall Street di dekat Bursa Efek New York di New York, New York, AS, 15 Juni 2020. Investor terus mencoba dan memprediksi dampak ekonomi global dari pandemi coronavirus yang sedang berlangsung.

Foto: EPA-EFE/JUSTIN LANE
Dengan ancaman resesi yang lebih dalam, investor harapkan lebih banyak stimulus.

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Saham Wall Street ditutup menguat pada perdagangan Senin (29/6). Indeks S&P 500 menuju penguatan terbesarnya secara kuartalan sejak krisis 1998 oleh didorong pemulihan ekonomi. Sedangkan kenaikan Dow Jones ditopang oleh lonjakan saham Boeing.

Baca Juga

Meski demikian, lonjakan kasus Covid-19 di sejumlah negara pekan lalu sempat membawa S&P 500 turun hampir 3 persen. Selain itu, dengan adanya ancaman resesi yang lebih dalam, investor mengharapkan lebih banyak stimulus dari pemerintah.

Namun sentimen peningkatan kasus mampu diredam oleh penetapan harga obat antivirus Covid-19. Perusahaan penghasil antivirus, Gilead Sciences, juga setuju untuk mengirim sebagian besar pasokan obatnya ke Amerika Serikat selama tiga bulan ke depan. 

Langkah Gilead Science itu mendapat respons positif dari pasar. Hal tersebut pun telah mendorong S&P 500 naik lebih dari 17 persen menjelang akhir kuartal II tahun ini. 

Adapun Dow Jones naik 580,25 poin, atau sebesar 2,32 persen, lalu diikuti S&P 500 naik 44,19 poin, atau 1,47 persen. Sedangkan Nasdaq Composite menambahkan naik 116,93 poin, atau 1,2 persen. Sebanyak 11 sektor yang terdapat dalam indeks S&P 500 berada di wilayah positif.

Namun, Wall Street tetap masih membutuhkan lebih banyak langkah-langkah stimulus untuk menopang perekonomian. Analis di Morgan Stanley mengatakan suntikan uang tunai lebih lanjut sangat penting untuk pemulihan ekonomi AS yang berbentuk "V".

The BlackRock Investment Institute menurunkan peringkat ekuitas AS menjadi netral. Hal tersebut lantaran memudarnya stimulus fiskal, meluasnya epidemi serta meningkatnya ketegangan perdagangan AS-China yang baru.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA