Sunday, 14 Zulqaidah 1441 / 05 July 2020

Sunday, 14 Zulqaidah 1441 / 05 July 2020

Hagia Sophia, Dilema Erdogan, dan Jalan Terbaik

Senin 29 Jun 2020 17:53 WIB

Rep: Retizen/ Red: Elba Damhuri

Kapal Prancis, Dupuy de Lome (A759) berlayar di Selat Bosporus di Istanbul, Turki dengan latar belakang dua ikon Turki, Hagia Sophia dan Blue Mosque.

Kapal Prancis, Dupuy de Lome (A759) berlayar di Selat Bosporus di Istanbul, Turki dengan latar belakang dua ikon Turki, Hagia Sophia dan Blue Mosque.

Foto: AP Photo/Emrah Gurel
Hagia Sophia bisa menjadi tempat ibadah Muslim dan Kristen dan juga museum.

RETIZEN -- Museum Hagia Sophia kembali mencuat di kancah perbincangan internasional, padahal selama ini adem ayem saja. 

Pernyataan Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, bahwa Hagia Sophia akan dikonversi menjadi masjid (lagi) memantik perdebatan domestik dan global.

Hagia Sophia dulunya adalah gereja, kemudian diubah menjadi masjid, dan sekarang menjadi museum. Nah, Presiden Erdogan ingin mengembalikan Hagia Sophia menjadi masjid lagi.

Erdogan sepertinya sedang mengalami dilema. Di dalam negeri Turki, Erdogan mendapat tekanan kuat dari pendukungnya untuk merealisasikan "mimpi" ubah Hagia Sophia menjadi masjid.

photo
Suara adzan kembali berkumandang pada Jumat (1/7) kemarin dari dalam bangunan Hagia Sophia untuk pertama kalinya sejak 85 tahun. - (hurriyet daily news)

Tapi di sisi lain, tekanan kuat juga datang dari dalam dan luar negeri. Rencana ini menjadi senjata empuk kaum oposisi Turki untuk menyerang pemerintahan Erdogan.

Kalangan Kristen Ortodoks Turki juga tidak setuju atas rencana ini. Mereka mendesak Erdogan untuk tetap mempertahankan Hagia Sophia seperti sekarang yakni sebagai museum yang telah mendatangkan ratusan juta wisatawan dari seluruh dunia selama bertahun-tahun.

Bayangkan, seperti kata mereka, jika Hagia Sophia menjadi masjid, maka dia tidak lagi menjadi ikon menarik bagi wisatawan dari seluruh dunia.

Dilema lain Erdogan adalah desakan tetangga dan negara-negara lain yang protes atas rencana ini. Yunani, Rusia, bahkan Amerika juga menentang.

Bahkan, media-media Arab mengecam rencana Erdogan ini. Mereka memojokkan Erdogan yang terlalu gelap mata.

Lalu, apa solusi terbaik untuk masalah ini?

Saya setuju dengan pernyataan Paroki Kristen Armenia yang menegaskan bahwa Hagia Sophia --yang dibangun selama bertahun-tahun dengan melibatkan belasan ribu pekerja-- dikembalikan fungsinya sebagai tempat ibadah.

Mereka memberi dua opsi menarik: pertama, Hagia Sophia menjadi masjid dan kedua, ada ruang berdoa (gereja) bagi umat Kristen di sana.

Buat saya, ini solusi terbaik yang menjadi jalan tengah. Hagia Sophia tidak boleh jadi museum to. Ia adalah rumah ibadah.

Kita tidak perlu khawatir dengan persoalan kuantitas turis yang datang. Dengan perubahan ini, minat wisawatan dari seluruh dunia saya perkirakan akan lebih banyak yang datang ke Hagia Sophia.

Hagia Sophia menjadi simbol perdamaian, toleransi, dan pentingnya agama dalam kehidupan kita sehari-hari.

Pengirim: M Nafis, Jl Mochtar Sawangan, Depok, Jawa Barat

Mau Tanggapi atau Sanggah Artikel Retizen Soal Hagia Sophia Ini? Kirim Pandangan Kamu ke Email: retizen@rol.republika.co.id

 

 

sumber : Retizen
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
Disclaimer: Retizen bermakna Republika Netizen. Retizen adalah wadah bagi pembaca Republika.co.id untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal. Republika melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda baik dalam dalam bentuk video, tulisan, maupun foto. Video, tulisan, dan foto yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim. Silakan kirimkan video, tulisan dan foto ke retizen@rol.republika.co.id.
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA