Monday, 22 Zulqaidah 1441 / 13 July 2020

Monday, 22 Zulqaidah 1441 / 13 July 2020

PM Boris Johnson: Corona Bencana Buat Inggris

Senin 29 Jun 2020 15:34 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Teguh Firmansyah

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson.

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson.

Foto: ANDREW PARSONS/DOWNING STREET/EPA-EFE
Keluarga korban Corona di Inggris menuntut penyelidikan publik.

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Perdana Menteri Boris Johnson mengatakan pandemi virus Corona adalah bencana bagi Inggris. Tapi saat ini bukan waktu tepat untuk menyelidiki siapa yang salah.

"Ini telah menjadi bencana, mari jangan pelintir kata-kata kami, yang saya maksud krisis ini benar-benar menjadi mimpi buruk bagi negeri dan negara ini telah mengalami guncangan besar," kata Johnson, Senin (29/6).

Sebelumnya sekitar 450 keluarga orang yang meninggal karena pandemi virus Corona menuntut penyelidikan publik. Pada 12 Juni lalu, BBC melaporkan keluarga pasien yang meninggal dunia menuntut adanya peninjauan terhadap langkah-langkah 'hidup dan mati' untuk meminimalisir dampak pandemi.

Baca Juga

Mereka juga meminta dokumen-dokumen yang berkaitan dengan krisis virus Corona dapat dimiliki. Pengacara keluarga-keluarga itu, Elkan Abrahamson mengatakan penyelidikan penuh akan dilakukan nanti. Sementara pemerintah Inggris menegaskan fokus mereka saat ini masih menanggulangi pandemi.

Namun keluarga pasien yang tergabung dalam Covid-19 Bereaved Families for Justice UK mengatakan harus ada pelajaran yang segera dipetik. Ini agar Inggris dapat mengurangi jumlah kasus kematian.

Seruan penyelidikan ini muncul setelah Kantor Audit Nasional (NAO) Inggris merilis laporan kesiapan badan kesehatan publik (National Health Service) dalam menghadapi pandemi. Dalam laporan tersebut disebutkan tidak diketahui berapa banyak dari 25 ribu orang yang dipindahkan dari rumah sakit ke tempat perawatan virus selama puncak wabah terinfeksi virus Corona.

Menteri-menteri Inggris menegaskan respons mereka terhadap pandemi berdasarkan saran ilmiah. Tapi bagi Jamie Brown yang ayahnya meninggal dunia karena Covid-19, keputusan pemerintah Inggris untuk menutup negeri itu pada 23 Maret terlalu terlambat.

Tony meninggal dunia dua minggu usai mengunjungi pusat kota London dengan menggunakan kereta. Jamie mengatakan paling banyak ayahnya bepergian satu pekan sekali. Karena itu menurutnya kematian Tony dapat dihindari bila pemerintah menerapkan karantina nasional lebih cepat.

"Saya tidak bisa tidak yakin jika kami melakukan penutupan lebih cepat dia (Tony) tidak akan terinfeksi seperti ini," kata Jamie.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA