Sunday, 14 Zulqaidah 1441 / 05 July 2020

Sunday, 14 Zulqaidah 1441 / 05 July 2020

Iwan Fals, Sting, dan Pesan dari SOS Rainforest Live

Senin 29 Jun 2020 15:15 WIB

Red: Karta Raharja Ucu

Penyanyi legendaris Indonesia, Iwan Fals.

Penyanyi legendaris Indonesia, Iwan Fals.

Foto: Tangkapan Layar
Kehidupan masyarakat adat terancam kerakusan manusia yang membabat hutan.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Priyantono Oemar

Sekitar 06.30 WIB, Iwan Fals tampil. Ia langsung menyuarakan jerit rimba. ‘Isi Rimba tak Ada Tempat Berpijak Lagi’ sebelum membawakan ‘Balada Orang-Orang Pedalaman’. Iwan memetik gitar di hutan kota dengan cahaya matahari pagi yang menerpa pepohonan dan dedaunan.

Raung buldozer gemuruh pohon tumbang, Berpadu dengan jerit isi rimba raya. Orang-orang pedalaman pun, kata Iwan Fals, lantas yang menanggung akibatnya. Di mana mencari ranting pohon (he) Kalau sang pohon tak ada lagi.

Populasi masyarakat adat hanya lima persen dari populasi penduduk dunia, namun mereka melindungi 82 persen biodiversitas dunia. Namun kehidupan mereka terancam oleh kerakusan manusia yang membabat hutan demi kepentingan lain, bukan karena demi kebutuhan.

"Kalau hutan kami punah, kami jadi miskin,” kata Petrus dari Kampung Kinggo Kambenap, di Bovel Digul, Papua. Petrus dan Matius Gerem memperlihatkan herbal dari hutan Papua yang berguna bagi kehidupan. "Alam mendukung kita punya kehidupan," ujar Matius di video dokumenter yang diputar.



Sebelumnya, Ketua Artikulasi Masyarakat Adat Brasil (Articulação dos Povos Indígenas do Brasil) Sonia Guajajara menyampaikan bumi terus berteriak, tapi tak ada yang mendengarkannya. "Kami masyarakat adat dan perempuan adat, kami juga hutan, kami juga air, kami juga bumi," ujar aktivis kelahiran 1974 itu.

Pada 21 Juni 2020, Rainforest Foundation yang didirikan Sting mengadakan konser daring SOS Rainforest Live, melibatkan sekitar 60 musisi. Yang menyukai jaz, bisa menikmati penampilan Lisa Simone yang membawakan "My World". Yang kangen dengan grup Daramuda yang bubar April lalu, bisa menyimak penampilan Sandrayati Fay membawakan 'Suara Dunia' yang ada di album Daramuda yang dirilis pada Februari 2019, Salam Kenal.

Di Amerika konser bisa disaksikan mulai pukul 15.00, di Brasil pukul 16.00, di Inggris pukul 20.00, di Norwegia pukul 21.00, dan di Indonesia pukul 02.00 dinihari 22 Juni. Konser berikut komentar dan video dokumenter selama delapan jam ini digelar untuk mendukung perjuangan masyarakat adat di Amerika Tengah dan Selatan, Asia Tenggara, dan Afrika Tengah menghadapi pandemi Covid-19.

Ketua Aliansi Masyarakat Adat Indonesia Rukka Sombolinggi menegaskan, masyarakat adat telah berjuang mermpertahankan pangan lokal, ketika distribusi pangan dunia terganggu pandemi Covid-19. Namun, diakui Ketua Yayasan Econusa, Papua Barat, Bustar Maitar, pembalak-pembalak tak memberi kesempatan hutan bernapas di masa pandemi. Pembalakan terus berlanjut, ketika bidang kehidupan lain istirahat sejenak karena pandemi.



Musnahkan rimba sampai habis kehidupan, Hancurkan belantara sampai tak ada sisa. Slank teriak nyinyir lewat Hutan Karma, namun kualitas rekaman untuk konser ini kurang bagus. Suara dan soundnya kependem. Para slankers tentu kecewa dengan ini, sebagaimana kecewanya para penggemar Sting, yang tampil seperti sedang berkaraoke. Sting menyetel rekaman lama lagu The Police, lalu ia seperti bermain gitar dan seperti bernyanyi.

Meski kecewa pada penampilan, namun masih bisa mengambil pesan yang dikirim Sting lewat botol. I'll send an SOS to the world, I hope that someone gets my message in a bottle, yeah.

Kata Sting, hanya harapan yang bisa membuat tetap bersama. Bahwa cinta dapat memperbaiki kehidupan. Selama pandemi, inilah yang bergaung. Kepedulian terus ditebar dengan penuh cinta. Dan harapan terus disemai agar bisa mengatasi situasi bersama-sama.

Hari ini saya bisa melihat dari dekat. Itu hati yang terbuka, Membuat segalanya lebih mudah terjadia. Suara sopran Sandy Leah mendendangkan lagu 'Respirar’ (Bernapas) membuat hati menjadi ceria. Suaranya memang empuk, sehingga menjadi penawar atas kecewaan pada Sting dan Slank. Artis kelahiran 1983 ini oleh Forbes dinobatkan dalam daftar 100 orang berpengaruh di Brasil pada 2013.



Lewat ‘Tempo’ (Waktu), Sandy memupuk harapan yang sudah tumbuh. …seperti rasa sakit yang menyakitkan dada. Ini juga akan berlalu. Dan semua ketakutan, keputusasaan, dan suka cita. Dan badai, kepalsuan… Ini juga akan berlalu

Konser ini, selain menampilkan artis-artis, juga menayangkan video dokumenter masyarakat adat dan komentar aktivis dan pakar. Ada pula tantangan menari di Tiktok.

Penampilan grup band dari Meksiko, Café Tacvba, tentu memberi penghiburan. Dengan empat personel kelahiran 1967 dan 1969, di koda lagu, mereka meletakkan alat musik masing-masing, lalu berjoget. Sang vokalis Ruben Albarran yang terus berjoget selama menyanyi lantas istirahat di hammock di teras rumah ketika Joselo Rangel Arroyo (gitar), Emmanual del Real (piano), dan Enrico Rangel Arroyo (bas), asyik berjoget. Café Tacvba cukup popular di Meksiko era 1990-an.

Penampilan Carlinhos Brown dengan lagu yang pernah dinyanyikan Sergio Mendes ‘Magalenha’ mendorong kaki dan tangan terus bergerak menari. Pun penampilan Overdriver Duo (Fabi Terada dan Evandro Tiburski) bersama Evandro Mesquita. Mesquita yang mengajak Overdriver Duo bergabung di konser daring ini.

Overdriver Duo adalah duo yang kemunculannya berawal dari kebiasaan mengkaver lagu hits dunia dengan iringan ukulele. Media-media memujinya sebagai duo yang menginspirasi sejak kemunculannya pada 2014. Pasangan ini disebut telah menciptakan cara mengeksekusi lagu, bernama OverStyle, yang kemudian menjadi referensi untuk kreativitas, inovasi dan kualitas. Video-video kaver lagu yang sudah tayang di media sosial banyak dilihat publik. Ada yang dilihat 6,1 juta kali.

Di konser SOS Rainforest ini, Mesquita dan Overdriver Duo membawakan “A Dois Passos Do Paraíso” (Dua Langkah dari Surga) yang pernah dipopulerkan Blitz pada 2007. Rekaman dilakukan pada awal-awal masa karantina.



Lagu ‘Dua Langkah dari Surga’ ini mewakili gambaran yang dialami pribadi-pribadi selama pandemi di belahan dunia mana pun. Tak bisa lagi bersilaturahim secara fisik, sehingga seperti di Italia dan Jerman misalnya, setelah lockdown, secara bertahap silaturahim fisik diperbolehkan dimulai dari keluarga dekat dulu.

Jauh dari rumah. Lebih dari seminggu. Jarak bermil-mil. Tentang cintaku. Suara Fabi Terada dan Evandro Mesquita yang ditimpali petikan ukulele terus mengalun.

Mereka hanya bisa saling memantau dari kejauhan melalui alat komunikasi atau mungkin lewat media sosial, seperti Sting yang juga selalu memberi pengawasan lewat ‘Every Break You Take’. Every breath you take and every move you make. Every bond you break, every step you take, I'll be watching you.

Melalui lagu, masyarakat adat terhubung ke semua penjuru dunia. ‘’Kami menghubungkan semuanya, melalui lagu kami dan tindakan luar biasa nenek moyang kami,’’ ujar Sonia Guajajara.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA