Monday, 28 Zulqaidah 1443 / 27 June 2022

Strategi Dakwah di Era New Normal

Ahad 28 Jun 2020 13:36 WIB

Red: Muhammad Hafil

Strategi dakwah di era new normal. Foto: Habib Idrus bin Salim Al Jufri

Strategi dakwah di era new normal. Foto: Habib Idrus bin Salim Al Jufri

Foto: Tangkapan layar akun instagram idrusjufrie.
Para dai perlu dibekali dengan pengetahuan soal teknologi informasi di era new normal

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pandemi covid-19 yang masih terjadi di era new normal saat ini seharusnya tidak menghalangi gerakan dakwah. Justru sebaliknya, ini dijadikan kesempatan bagi para dai untuk semakin kreatif dalam berdakwah.

Ketua Himpunan Da'i Muda Indonesia, Habib Idrus Bin Salim Al-Jufri, Lc., MBA mengatakan, pada dasarnya setiap Muslim adalah dai. Apapun profesinya, tetapi sejatinya Allah memerintahkan setiap Muslim untuk menyeru kepada kebaikan.

Baca Juga

Menurut Habib Idrud, dakwah sendiri memiliki metode. Ada enam metode yang bisa digunakan untuk berdakwah.

Pertama, dakwah fardiyah yaitu dakwah seseorang kepada orang lain dalam jumlah yang sedikit. Kedua, dakwah ammah yaitu dakwah yang dilakukan seseroang dengan lisan yang ditujukan kepada banyak orang yang dimaksukan untuk menanamkan pengaruh.

Ketiga, dakwah bil lisan yaitu penyampaian secara lisan melalui ceramah dan komunikasi langsung dengan objek dakwah. Keempat, dakwah bil hal yaitu melalui perbuatan. Ini bisa dilihat bagaimana Nabi Muhammad dan para sahabat.

Misalnya, bagaimana ketika Mushab bin Umair, ketika menjadi duta dakwah di Madinah. Di sana, dakwahnya banyak diminati karena cara dakwah Mushab menarik banyak orang karena Mushab memwakai wewangian dan penampilan yang menarik.

Kelima, dakwah bil tadwin yaitu melalui tulisan. Baik itu buku, koran, atau tulisan yang mengandung pesan dakwah. Keenam, dakwah bil hikmah. Yaitu, dakwah dengan cara arif dan bijaksana. Sehingga, membuat objek dakwah tertarik dengan materi dakwah tanpa ada tekanan dan konflik.

 

Namun, lanjut Habib Idrus, semenjak dunia dilanda pandemi virus covid-19 beberapa bulan terakhir ini, maka terjadi banyak perubahan. Dan ini berdampak pada aktivitas dakwah.

Tabligh akbar, seminar dakwah, pengajian, dilarang. Sementara, pandangan orang tentang dakwah itu adalah tabligh akbar. Dan hal itu saat ini tak bisa dilakukan sebagai bagian dari pencegahan penyebaran virus corona.

Karena itulah, di masa pandemi covid-19 ini, dan penerapan new normal sebagai salah satu upaya pencegahan penyebaran covid-19, maka ini bisa menjadi kesempatan di kalangan dakwah.

"Kondisi ini seharusnya tidak membuat aktivitas dakwah terhenti. Justru seharusnya membuat aktivitas dakwah kita menjadi terasah," kata Habib Idrus dalam gelar wicara bertajuk Strategi Dakwah di Era New Normal yang diselenggarakan oleh Mualaf Center BAZNAS, Ahad (28/6). 

Apalagi, sekarang muncul kebijakan new normal sebagai upaya mempercepat penanganan ekonomi, kesehatan, yang terdampak akibat pandemi covid-19. Maka, lanjut Habib Idrus,  dakwah secara virtual menjadi pilihan terbaik saat ini. Terutama, untuk mencegah perluasan virus covid-19.

"Dakwah virtual ini atau di linimasa medsos ini sifatnya low cost, tidak mahal," kata Habib Idrus.

Di mana, dakwah virtual ini tidak membutuhkan sejumlah hal seperti halnya dakwah tabligh akbar seperti konsumsi ataupun biaya tak terduga lainnya. Dalam dakwah virtual, orang hanya butuh kuota internet dan kemauan.

 

Karena itu, Habib Idrus seraya tersenyum mengatakan, metode dakwah yang ketujuh adalah dakwah bil internet. Karena platform teratas untuk media dakwah terbaik di masa pandemi covid-19 ini adlaah melalui youtube, dan medsos seperti facebook, instagram, dan twitter.

"Dan sekarang ada live streaming melalui zoom, google meeting. Ini marak di masyarakat," kata Habib Idrus.

Habib Idrus mengatakan, bahwa seorang dai saat ini perlu dibekali pengetahuan dan keterampilan tentang penguasaan teknologi informasi. Sangat disayangkan, jika seorang dai yang memiliki ilmu tetapi tidak tersampaikan kepada masyarakat di masa pandemi covid-19 ini.

"Mungkin Baznas bisa dimintakan tolong memberikan pelatihan dakwah virtual pada dai," kata Habib Idrus.

Namun, untuk hal ini, Habib Idrus juga mengatakan tak bisa dipaksakan seorang dai yang berilmu harus menguasai dakwah virtual. Jika memang di daerahnya, terutama di pedesaaan, yang masyarakatnya juga belum akrab dengan teknologi informasi, dan juga adalah zona aman dari covid-19, mungkin masih bisa menerapkan metode dakwah melalui tatap muka.

"Dilihat situasi dan keadaannya. Kalau masyarakatnya juga tidak punya gadget ya tidak bisa dipaksa. Tidak ada paksaan dalam agama apalagi paksaan dalam segi teknologi. Dakwah itu kan fleksibel. Tidak mesti pakai gadget juga," kata Habib Idrus.

Misalnya, seorang dai bisa berdakwah, dengan menggerakkan pemberian bantuan sosial kepada masyarakat. Selain itu, seorang dai di wilayah ini bisa memberikan contoh teladan yang baik kepada keluarga maupun khalayak ramai. Di mana, jika dai tersebut dekat dengan masyarakat, bisa membawa perubahan ke arah yang lebih baik kepada masyarakat.

"Maka berikan hikmah, bukan hanya kata-kata saja. Tetapi juga perbuatan baik yang bisa dicontoh. Sehingga, orang tahu mana perbuatan baik dan buruk," kata Habib Idrus.

Direktur Penerangan Agama Islam di Ditjen Bimas Islam Kemenag, Dr H Juraidi Malkan MA mengatakan, dalam kondisi apapun, dakwah mesti berjalan. Karena, dakwah itu adalah perubahan ke arah yang lebih baik.

"Dakwah never ending, perintah Alquran juga begitu," kata Juraidi.

Dalam Alquran disebutkan, "Orang beriman, berimanlah!". Perintah ini bertarti bahwa kita harus selalu disuruh bergerak. Yaitu, bahwa tugas dakwah harus selalu bergerak.

Meski dakwah harus terus bergerak, namun Juraidi berpesan tetap dakwah itu harus dipikirkan metodenya. Salah satunya adalah memikirkan dakwah yang efektif.

Para dai atau pegiat dakwah harus diberitahu tentang teknologi informasi. Misalnya, pelatihan untuk membuat film-film pendek yang bersifat dakwah. karena, ini bisa menarik kalangan milenial untuk menandingi konten-konten yang kurang positif.

Sedangkan anggota BAZNAS dan Ketua IKADI Pusat, Prof Dr KH Achmad Satori Ismail mengatakan, di era new normal ini, seharusnya dakwah bisa lebih digencarkan lagi. "Dai kita harus terus lebih dipacu lagi. Karena problematika kehidupan ini semakin banyak maka harus semakin rajin sesuai dengan tantangannya," kata Kiai Satori.

Kiai Satori berharap, para dai lebih kreatif lagi dalam berdakwah. Di mana, tujuannya adalah untuk menciptakan masyarakat Islam yang indah, damai, dan tidak saling memusuhi.

Dan, ciri dakwah yang berhasil menurut Kiai Satori adalah dakwah menciptakan generasi muslim yang baik yang bisa mengamalkan ajaran Islam dengan baik. Kemudian, mewujudkan pribadi muslim yang saling saling tolong menolong dalam kebersamaan.

 

  

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA