Jumat 26 Jun 2020 22:57 WIB

Pertumbuhan UMKM Digital di Bengkulu Capai 10 Persen

Pertumbuhan tersebut salah satunya dipengaruhi pandemi COVID-19.

Produk kerajinan UMKM.  (ilustrasi)
Foto: Republika/Wihdan
Produk kerajinan UMKM. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, BENGKULU  -- Pertumbuhan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) berbasis digital di daerah itu mencapai 10 persen. Pertumbuhan tersebut salah satunya dipengaruhi pandemi COVID-19, dimana banyak masyarakat yang memilih berbelanja via daring.

"Saat ini masyarakat ingin bertransaksi tetapi malas bergerak karena membatasi diri selama obat atau vaksin COVID-19 belum ditemukan," kata Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) Provinsi Bengkulu Erdiwan, Jumat (26/6).

Erdiwan menambahkan, penerapan era normal baru yang digagas pemerintah untuk mensiasati pandemi COVID-19 telah menciptakan banyak peluang usaha baru.

Menurutnya, di era normal baru ini akan merubah kebiasaan berbelanja masyarakat dari cara konvensional ke moderen dengan berbasis digital, karena akan banyak masyarakat yang memilih beraktivitas di rumah untuk menghindari penularan virus corona jenis baru.

Pelaku UMKM di Bengkulu diminta mampu beradaptasi dengan era normal baru jika tak ingin ketinggalan.

"Hal ini menjadi peluang bagi pelaku usaha memanfaatkan teknologi digital dan mudah-mudahan dengan pandemi ini ada hikmahnya, UMKM bisa memasarkan produknya melalui digital atau online," papar Erdiwan.

Ia menyebut, pertumbuhan ekonomi daerah yang ditargetkan tumbuh dua hingga tiga persen diharapkan juga disumbang dari sektor usaha digital yang dilakukan para pelaku UMKM.

Menurutnya, jika Provinsi Bengkulu tidak melakukan upaya-upaya ekonomi maka diperkirakan pertumbuhan ekonomi daerah hanya tumbuh berkisar di bawah satu persen saja.

"Jika Bengkulu tidak melakukan upaya-upaya ekonomi, tidak melakukan adaptasi kebiasaan baru pada Juni ini, hasil hitungan ekonomi bisa minus di bawah nol persen," tegasnya.

Sementara itu, Asisten II Setda Provinsi Bengkulu Yuliswani mengatakan jika Pemprov Bengkulu telah memberikan pelatihan kepada UMKM dalam rangka meningkatkan pengetahuan mereka terhadap dunia usaha digital.

"Kita sudah mendatangkan salah satu marketplace untuk mengajarkan bagaimana cara berjualan secara online bagi para pelaku UMKM," katanya.

Selain itu, Pemprov Bengkulu juga akan meluncurkan program penjualan sayur mayur berbasis daring yakni BERIJO akronim dari Belanja Sayur Dari Rumah Ajo.

Program usaha berbasis digital ini diharapkan akan memudahkan masyarakat dalam mendapatkan kebutuhan bahan pokok, terlebih selama masa pandemi COVID-19.

"Kita bekerja sama dengan Bank Indonesia, Telkomsel dan BPJS, juga tukang sayur, kita juga menggandeng para ojek online jadi masyarakat cukup di rumah saja sudah bisa membeli kebutuhan pokok," demikian Yuliswani.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement