Monday, 15 Rabiul Akhir 1442 / 30 November 2020

Monday, 15 Rabiul Akhir 1442 / 30 November 2020

LIPI: Pemeriksaan PCR Idealnya Satu Persen dari Jumlah Warga

Jumat 26 Jun 2020 16:32 WIB

Red: Reiny Dwinanda

Dokter patologi klinik menunjukkan cara kerja alat Polymerase Chain Reaction (PCR) di Ruang Ektraksi DNA dan RNA Laboratorium Mikrobiologi RSUD Sidoarjo, Jawa Timur.

Dokter patologi klinik menunjukkan cara kerja alat Polymerase Chain Reaction (PCR) di Ruang Ektraksi DNA dan RNA Laboratorium Mikrobiologi RSUD Sidoarjo, Jawa Timur.

Foto: Umarul Faruq/ANTARA FOTO
LIPI juga menyoroti hasil pemeriksaan PCR yang tergolong lama untuk didapat.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Laksana Tri Handoko mengatakan, pemeriksaan spesimen untuk mendeteksi Covid-19 menggunakan metode polymerase chain reaction (PCR) idealnya satu persen dari jumlah penduduk. Handoko menuturkan jika DKI Jakarta dengan populasi 10 juta penduduk, maka pemeriksaan Covid-19 idealnya dilakukan pada 100 ribu orang.

Saat ini, Pemerintah Indonesia menargetkan setiap hari ada 20 RIBU pemeriksaan spesimen terduga Covid-19 dengan metode PCR. Jumlah itu meningkat dari target sebelumnya yang telah tercapai yakni 10 ribu pemeriksaan spesimen dengan metode PCR.

Target 20 ribu uji spesimen per hari masih tergolong jauh dari ideal satu persen dari jumlah populasi penduduk untuk pemeriksaan laboratorium. Pemeriksaan menggunakan metode PCR meskipun bertambah secara bertahap tapi masih perlu waktu cukup lama untuk mendapatkan hasilnya.

Umumnya, jika uji usap dan pemeriksaan laboratorium di swasta, butuh tiga sampai empat hari untuk mendapat hasil pemeriksaan entah positif atau negatif Covid-19. Menurut Handoko, jangka waktu lama hasil pemeriksaan diperoleh itu tidak ideal.

Handoko mengatakan, jika bisa uji usap dan pemeriksaan laboratorium dilakukan pada hari yang sama dan hasilnya seharusnya keluar pada hari itu juga. Handoko menuturkan di masa normal baru, kebutuhan untuk deteksi cepat dan diagnosa Covid-19 semakin tinggi.

Oleh karena itu, diperlukan penguatan dari sisi kapasitas dan kemampuan melakukan pemeriksaan dan diagnosa untuk mendukung percepatan deteksi Covid-19 di masyarakat dan kegiatan ekonomi bisa berjalan produktif dengan memastikan kondisi sehat.

Pemeriksaan dan diagnosis itu dilakukan dengan tes cepat Covid-19 dan uji usap dengan pemeriksaan laboratorium menggunakan metode PCR.

"Teknologi alternatif berbasis virusnya sendiri bukan antibodi menjadi mutlak," tutur Handoko dalam pertemuan dengan media secara virtual diikuti di Jakarta, Jumat.
.

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA