Saturday, 13 Zulqaidah 1441 / 04 July 2020

Saturday, 13 Zulqaidah 1441 / 04 July 2020

Kisah Narapidana di AS Pecahkan Problem Matematika Kuno

Kamis 25 Jun 2020 13:01 WIB

Red: Dwi Murdaningsih

Foto tangkapan layar soal matematika yang dikerjakan oleh narapidana AS.

Foto tangkapan layar soal matematika yang dikerjakan oleh narapidana AS.

Foto: the conversation
Seorang narapidana di AS mampu memecahka soal aritmatika rumit

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Seorang narapidana kasus pembunuhan di penjara AS secara mandiri belajar matematika tinggi. Dia mampu pecahkan masalah aritmetika rumit. Ia juga menularkan kecintaannya terhadap matematika kepada narapidana lainnya.

Kisahnya mirip film Hollywood. Christopher Havens (40) sudah meringkuk selama 9 tahun di balik terali besi sebuah penjara dekat Seattle. Havens putus sekolah, hidupnya berantakan sebagai seorang pengangguran dan pecandu narkoba.

Baca Juga

Dia divonis hukuman bui 25 tahun dalam sebuah kasus pembunuhan. Jadi masih ada sisa 16 tahun penjara yang harus dijalani.

Hidup Havens berubah di dalam penjara, ketika ia menemukan minat untuk belajar matematika. Secara otodidak ia belajar basis matematika tinggi.

Sebuah hal yang awalnya tidak mudah, karena sipir menyita buku-buku matematika yang dia pesan secara online. Havens kemudian diizinkan punya buku pelajaran matematika, setelah setuju mengajari narapidana lainnya.

Setelah belajar beberapa waktu, dasar matematika tinggi dirasa tidak lagi cukup baginya. Havens lantas mengirim surat yang ditulis tangan ke sebuah penerbit, meminta beberapa edisi Annals of Mathematics, sebuah jurnal bergengsi di bidang matematika.


Matematika jadi misi
Dalam suratnya, Havens menulis bahwa angka-angka telah menjadi misinya, dan memutuskan untuk meningkatkan kualitas diri selama berada di dalam penjara. Dia juga mengeluhkan, tidak ada orang yang bisa diajak berdiskusi topik matematika yang kompleks.

Seorang editor di Mathematica Science Publisher mengirimkan surat itu kepada partnernya, Marta Cerruti, seorang associate professor untuk bidang rekayasa materials di McGill University Montreal, Kanada yang kemudian meneruskannya kepada ayahnya, pakar matematika dari Turin, Profesor Umberto Cerruti.

Mula-mula pakar matematika kenamaan ini skeptis. Tapi untuk tidak mengecewakan anaknya, Prof. Cerruti menjawab surat Havens. Dia sekaligus mengirimkan sebuah soal matematika rumit ke penjara di Seattle, untuk menguji kemampuannya.

Beberapa waktu kemudian, Umberto Cerruti di Turin menerima jawabannya yang dikirim lewat pos. Isinya kertas sepanjang 120 sentimeter yang ditulisi rumus matematika panjang. Cerruti mula-mula memasukkan rumus itu ke dalam komputernya, untuk mengecek apakah yang dikirim narapidana itu benar. Hasilnya: Havens memecahkan soal matematik rumit itu dengan benar.

Profesor matematika dari Turin itu kemudian mengundang Havens untuk membantunya memecahkan masalah matematika kuno, yang sudah bertahun-tahun dicoba Cerruti untuk mencari solusinya.

sumber : DW
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA TERKAIT

 

BERITA LAINNYA