Kamis 25 Jun 2020 00:17 WIB

Harimau Sumatera Serang Ternak Warga di Agam

BKSDA kini memasang kamera trap sebanyak 3 unit untuk memantau pergerakan harimau. 

Rep: Febrian Fachri/ Red: Agus Yulianto
Seekor anak harimau sumatra (Panthera tigris sumatrae) terperangkap dalam kerangkeng yang dipasang Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumbar.
Foto: Antara/Muhammad Arif Pribadi
Seekor anak harimau sumatra (Panthera tigris sumatrae) terperangkap dalam kerangkeng yang dipasang Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumbar.

REPUBLIKA.CO.ID, PALEMBAYAN -- Kepala Resor Konservasi Wilayah Agam BKSDA Sumbar Ade Putra melaporkan, ada kejadian penyerangan harimau sumatera terhadap ternak warga di Nagari Sungai Pua, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam. BKSDA mendapat informasi dari warga terkait serangan satwa liar yang dilindungi ini pada Selasa (23/6) kemarin.

"Dilaporkan bahwa ternak kerbau milik warga terluka diserang oleh satwa buas yang diduga adalah harimau," kata Ade kepada Republika, Rabu (24/6).

Setelah mendapat informasi dari warga, menurut Ade, BKSDA menelusuri ke lokasi tadi pagi. BKSDA meminta keterangan dari warga dan pemilik hewan ternak. Kemudian melakukan identifikasi.

Hewan ternak warga yang diserang satwa liar ini adalah dua ekor kerbau. Satu ekor kerbau dewasa dan satu ekor kerbau masih anak-anak. Pada tubuh kerbau terdapat luka cakaran dan gigitan di bagian kaki belakang serta leher.

Menurut Ade, pemillik kerbau dewasa bernama Con sudah menjual kerbaunya kepada toke karena kondisi ternak yang sudah terluka parah. Sedangkan Ratini pemilik kerbau yang masih kecil membawa ternaknya ke mantri kesehatan hewan untuk diobati.

Penelusuran tim BKSDA di lokasi kejadian, terdapat temuan berupa jejak satwa liar berukuran 11 sentimeter. Ade menyebut jejak satwa liar masih terlihat baru yakni sekitar sejam sebelum tim BKSDA tiba di lokasi. Memang lokasi kejadian hanya berjarak 2 kilometer dari kawasan cagar alam.

BKSDA kini memasang kamera trap sebanyak 3 unit untuk memantau pergerakan satwa liar tersebut. Kemudian mereka juga memasang alat bunyi-bunyian untuk pengusiran. Agar satwa tersebut kembali ke dalam hutan lindung.

"Himbauan dan sosialisasi dilakukan terhadap penduduk sekitar lokasi kejadian untuk waspada dan berhati-hati serta mengamankan ternak pemiliharaannya," ujar Ade.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement