Sunday, 14 Zulqaidah 1441 / 05 July 2020

Sunday, 14 Zulqaidah 1441 / 05 July 2020

Menpora: Protokol Kesehatan untuk Olah Raga Rampung

Ahad 21 Jun 2020 15:22 WIB

Rep: Muhammad Ikhwanuddin/ Red: Gita Amanda

Menpora Zainudin Amali menyatakan Kemenpora telah merampungkan protokol kesehatan untuk olah raga.

Menpora Zainudin Amali menyatakan Kemenpora telah merampungkan protokol kesehatan untuk olah raga.

Foto: instagram Kemenpora
Cabor yang sudah dapat tiket ke Olimpiade dengan ketat diizinkan tetap pelatnas

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) RI, Zainudin Amali menyatakan protokol keolahragaan nasional sudah rampung. Ia mengatakan, hampir semua cabang olah raga berhenti menggelar latihan meski beberapa di antaranya tetap melakukan aktivitas keolahragaannya.

Tiga cabang olah raga (cabor) yang tetap melakukan pelatnas adalah bulutangkis, angkat besi dan menembak. "Memang ini cabor yang sudah dapat tiket ke Olimpiade. Jadi mereka minta izin pada kami untuk tetap pelatnas tetapi dengan protokol yang sangat ketat. Saya beri contoh, atlet bulutangkis sudah tiga bulan terkurung di pelatnas," ujar Menpora dalam keterangan tertulis yang diterima Republika, Ahad (21/6).

 "Jadi yang ada di pelatnas tidak bisa keluar dan yang ada di luar tidak bisa ke dalam, bahkan mendapat kirim dari keluarga baru boleh di buka setelah tiga hari. Jadi memang protokolnya ketat," tambah Menpora.

Ia melanjutkan, bagi cabor yang lain dapat melakukan latihan mandiri. Sebab menurutnya, beberapa cabor jika berhenti latihan selama satu bulan saja maka paling tidak dibutuhkan paling cepat enam sampai tujuh bulan untuk pengondisian. Oleh sebab itu, mereka memilih untuk tetap latihan secara virtual.

"Sekarang di era new normal baru ini kami sudah mengeluarkan protokol untuk kepemudaan dan keolahragaan. Untuk olah raga kita bagi tiga katagori yaitu katagori latihan, katagori jenis pertandingan dan katagori olahraga masyarakat. Itu pun masih kami bagi fase per fase," jelasnya.

Untuk fase pertama, cabor diizinkan melakukan latihan tetapi dengan protokol kesehatan yang sangat ketat. Misalnya, saat atlet ketempat latihan mereka sudah harus memakai pakaian latihan dari rumah. Saat tiba tempat latihan, paling tidak atlet harus di tes rapid, namun akan lebih baik kalau tes PCR.

"Tidak kita boleh try out atau try in. Fase kedua sama namun ada penambahan, latihan tidak boleh bergerombol. Fase ketiga, baru kita pilih-pilih, mana yang boleh ada turnamen atau kejuaraan namun dengan protokol kesehatan yang sangat ketat," tutupnya.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA