Thursday, 11 Zulqaidah 1441 / 02 July 2020

Thursday, 11 Zulqaidah 1441 / 02 July 2020

Cara Muslimah Masa Kini Menghidupkan Sunnah

Ahad 21 Jun 2020 04:55 WIB

Rep: Ratna Ajeng Tejomukti/ Red: Ani Nursalikah

Cara Muslimah Masa Kini Menghidupkan Sunnah.

Cara Muslimah Masa Kini Menghidupkan Sunnah.

Foto: Prayogi/Republika
Kehidupan modern menjadi tantangan tersendiri menjalankan sunnah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Nabi Muhammad adalah utusan terakhir Allah. Allah membimbing tindakan Nabi Muhammad, baik pribadi maupun ketika berada di hadapan umum. Setiap Muslim kemudian meniru dan mengagumi Nabi dengan meniru tindakannya sepenuhnya ke dalam kehidupan praktis mereka sendiri.

Baca Juga

"Jika kamu mencintai Allah, maka ikutilah aku, Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosamu," (Alquran Surah Al Imran 3 ayat 31).

Allah akan mencintai seorang mukmin, pria atau wanita bergantung pada tingkat di mana ia mencintai dan menaati Nabi Muhammad. Ini berarti seseorang harus menunjukkan cintanya kepada Nabi dengan menerapkan kebiasaan dan kepribadian Nabi ke dalam gaya hidupnya.

Di masa Nabi, para sahabat mengikuti sunnah secara otomatis dan sepenuh hati. Sekarang, zaman telah berubah, dan mengikuti sunnah Nabi dalam kehidupan sehari-hari secara berangsur-angsur menjadi tantangan bagi umat Islam masa kini.

Tantangan yang dihadapi Muslim masa kini diantaranya, kemajuan dalam sains, penerbangan, teknologi, dan industrialisasi yang telah membuat hidup serba cepat dan sibuk. Perilaku Muslim dianggap primitif jika seseorang mengikuti metode yang usang, bukan hasil dari beberapa penelitian modern, temuan ilmiah atau studi data. Salah satu, perilaku yang dianggap modern adalah mencukur jenggot bukannya menumbuhkannya.

Selain itu semua orang saat ini bekerja untuk mencari nafkah, bahkan orang tua, wanita, remaja, dan kadang-kadang anak-anak. Hidup berputar di sekitar karier dan kenaikan pangkat perusahaan. Orang-orang enggan berkompromi dengan karier ketika praktik sunnah menjadi hambatan di dalamnya.

Misalnya, seorang wanita Muslim mungkin tidak bisa mengenakan jilbab di tempat kerjanya karena aturan berpakaian karyawannya yang ketat, dan mungkin perlu memprotes untuk memperpanjang roknya sesuai dengan perintah Islam. Muslim yang tinggal di wilayah mayoritas non-Muslim terus-menerus di bawah tekanan untuk membuktikan keteguhan iman mereka atau melepaskannya untuk gaya hidup sekuler. Ketaatan terhadap hukum halal yang ketat, misalnya, mungkin menjadi tantangan, jika tidak ada alternatif makanan lain yang tersedia.

Mengirim anak-anak ke sekolah umum dapat merusak pendidikan agama mereka, namun sekolah di rumah berisiko menimbulkan isolasi sosial. Seorang Muslim yang menolak kebiasaan minum bersama dengan tidak menghadiri jamuan makan serta alkohol sesuai instruksi Nabi Muhammad, mungkin akhirnya dikucilkan lingkaran sosialnya sama sekali.

Banyak Muslim yang ingin mempraktikkan Islam menghadapi tekanan dari generasi Muslim yang lebih tua di lingkungan geografis dan etnis mereka sendiri. Generasi yang lebih tua kadang-kadang memberi preferensi pada budaya daripada sunnah Nabi.

Perangkat teknologi dan berbagi informasi kini memungkinkan untuk melihat gambar, video, dan konten lainnya di mana saja, kapan saja. Konten yang eksplisit dan tidak diperbolehkan tidak terkecuali. Umat Muslim saat ini menghadapi tantangan bagaimana mengikuti beberapa sunnah Nabi meskipun ada tantangan di sekitar mereka. Ini termasuk menurunkan pandangan ketika foto-foto provokatif wanita muncul bahkan di ponsel saat membaca berita.

Sayangnya, beberapa kelompok di antara umat Islam telah melakukan inovasi dalam Islam. Inovasi adalah praktik-praktik keagamaan yang tidak memiliki dasar dalam Islam, yang tidak didukung Nabi. Setiap kali seseorang jatuh dalam mempraktikkan inovasi, ia melepaskan sunnah.

 

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA