Monday, 22 Zulqaidah 1441 / 13 July 2020

Monday, 22 Zulqaidah 1441 / 13 July 2020

Orang yang Diingat-ingat Umar bin Khattab Usai Masuk Islam

Kamis 18 Jun 2020 07:58 WIB

Red: Muhammad Hafil

Orang yang Diingat-ingat Umar bin Khattab Usai Masuk Islam. Foto: Sahabat Nabi (Ilustrasi)

Orang yang Diingat-ingat Umar bin Khattab Usai Masuk Islam. Foto: Sahabat Nabi (Ilustrasi)

Foto: Republika
Umar bin Khattab mengingat-ingat dan mencari seseorang setelah masuk Islam.

REPUBLIKA.CO.ID, MAKKAH -- Penulis sejarah Muslim di abad pertama Islam, Ibnu Ishaq meriwayatkan, Umar bin Khattab, setelah masuk Islam berkata, "Tatkala aku sudah masuk Islam, aku mengingat-ingat siapa penduduk Makkah yang paling kejam terhadap Nabi. Aku berkata, pasti Abu Jahallah orangnya."

Setelah itu, Umar mendatangi rumah Abu Jahal dan dia keluar menyambutnya sambil berkata, "Selamat datang, ada apa denganmu?"

Kemudian, Umar berkata, "Aku datang untuk memberitahumu bahwa aku telah beriman kepada Allah dan RasulNya, Muhammad, serta membenarkan yang telah dibawanya."

Lalu, Abu Jahal membanting pintu di hadapan wajah Umar dan berkata, "Semoga Allah menjelekkanmu dan apa yang engkau bawa."

Sebelum memeluk Islam, Sayyidina Umar bin Khattab dikenal sebagai pemuka Quraisy yang garang dan sangat menentang dakwah Nabi Muhammad SAW. Dalam buku Mukjizat Alquran karya Prof Quraish Shihab disebutkan, Sayyidina Umar pernah keluar dari rumahnya bermaksud membunuh Rasulullah SAW.

Tujuannya itu lantaran Rasulullah dianggap sebagai orang yang telah memecah-belah masyarakat, serta telah merendahkan sesembahan leluhur. Maka dalam perjalannya menemui Rasulullah, beliau bertemu dengan seorang yang menanyakan tujuannya.

Orang itu kemudian berkata: “Tidak usah Muhammad yang kau bunuh, adikmu (Fatimah) yang telah mengikutinya (masuk Islam), yang lebih wajar engkau urus,”. Mendengar itu, Sayyidina Umar pun menemui adiknya yang saat itu tengah bersama suaminya membaca lembaran-lembaran ayat Alquran.

Melihat itu, seketika Sayyidina Umar menampar adiknya hingga Fatimah bercucuran darah. Kemudian dimintanya lembaran itu dan dibacanya. Lembaran ayat-ayat Alquran itu merupakan Surah Thaha ayat 1-6.

{طه (١) مَا أَنزلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لِتَشْقَى (٢) إِلا تَذْكِرَةً لِمَنْ يَخْشَى (٣) تَنزيلا مِمَّنْ خَلَقَ الأرْضَ وَالسَّمَاوَاتِ الْعُلا (٤) الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى (٥) لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا وَمَا تَحْتَ الثَّرَى(٦)

Yang artinya: “Kami tidak menurunkan kepadamu Alquran supaya kamu menjadi susah, tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut kepada Allah. Yaitu (Alquran) yang diturunkan dari Allah yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi. Tuhan Yang Mahapemurah, yang bersemayam di atas arsy. MilikNya semua yang ada di langit, semua yang ada di bumi dan apa yang ada di antara keduanya serta semua yang di bawah tanah."

Usai membaca ayat-ayat tersebut, bergetar jiwa Sayyidina Umar kemudian beliau bergegas menemui Nabi, namun kini bukanlah untuk membunuh Rasulullah. Begitu Sayyidina Umar bertemu Rasulullah, Rasulullah SAW menarik dengan keras ikat pinggang Sayyidina Umar sambil bersabda:

“Apa maksud kedatanganmu, wahai putra al-Khattab? Saya duga kamu tidak akan berhenti sampai Allah menurunkan siksaNya kepadamu.”

Sayyidina Umar pun menjawab: “Wahai Rasulullah, aku datang untuk percaya kepada Allah dan RasulNya, serta apa yang disampaikan dari Allah."

Baca Juga

sumber : Perjalanan Hidup Rasul yang Agung Muhammad SAW / Syekh Shafiyyurrahman al Mubarakfuri
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA