Kamis 18 Jun 2020 07:47 WIB

Mengasah Kemampuan Entrepreneurship Saat Krisis

Meski ada resesi, selalu ada perusahaan besar yang muncul. Krisis ekonomi dinilai sebagai katalis bagi perusahaan untuk melakukan transformasi tatanan bisnis mereka. Di sisi lain, krisis adalah pisau asah bagi jiwa entrepeneurship masing-masing pemimpin bisnis.Managing Director East Ventures, Willson Cuaca menyebut pandemi COVID-19 adalah game reset yang perlu dilihat...

Rep: Andi Hana (swa.co.id)/ Red: Andi Hana (swa.co.id)
Nusantics, startup portfolio East Ventures yang membantu pengadaan test kit COVID-19
Nusantics, startup portfolio East Ventures yang membantu pengadaan test kit COVID-19

Meski ada resesi, selalu ada perusahaan besar yang muncul. Krisis ekonomi dinilai sebagai katalis bagi perusahaan untuk melakukan transformasi tatanan bisnis mereka. Di sisi lain, krisis adalah pisau asah bagi jiwa entrepeneurship masing-masing pemimpin bisnis.

Managing Director East Ventures, Willson Cuaca menyebut pandemi COVID-19 adalah game reset yang perlu dilihat sebagai kesempatan meningkatkan skill entrepeneurship di tengah krisis. Setelah Asian Financial Crisis tahun 1998, Global Financial Crisis tahun 2008, dan kini The Great Lockdown, Willson melihat bahwa kondisi saat ini besar pengaruhnya bagi perubahan perilaku masyarakat.

Game reset, Willson menuturkan, terjadi karena bisnis yang telah berlangsung bertahun-tahun tiba-tiba harus off dan dari mulai dari awal. Perubahan yang pada awalnya dipandang tidak strategis untuk diadaptasi, ternyata bisa dijalankan.

Willson menyebut, di tengah krisis semacam ini ada tiga hal tentang entrepeneurship yang dipelajari, yaitu fokus, inovasi, dan adaptabilitas. Dari sisi East Ventures, fokus adalah hal yang paling diperhatikan. Dengan waktu terbatas yang dimiliki masing-masing individu, mereka harus berkonsentrasi mengerjakan sesuatu dengan benar. “Kita harus fokus hanya pada satu hal, tapi kerjakan dengan benar,” ujar Willson.

Yang kedua adalah inovasi. Masih banyak yang berpandangan bahwa inovasi adalah terobosan besar dilakukan dengan lompatan signifikan. Namun menurut Willson, inovasi sejatinya berasal dari the power of compounding. Kesuksesan inovasi yang dihasilkan suatu perusahaan atau individu sesungguhnya adalah gumpalan hal kecil yang dilakukan perlahan-lahan dan ditingkatkan menjadi sesuatu yang besar.

Ketiga adalah adaptabilitas. Willson memandang adaptabilitas ini datangnya dari skill yang dimiliki masing-masing. Kemudian skill tersebut diadaptasikan menjadi solusi untuk problem yang ada. Sehingga, skill jadi purpose untuk untuk menyelesaikan suatu masalah. Salah satu contoh konkretnya yaitu penciptaan ojek online.

Sementara itu, krisis telah mengubah beberapa hal terkait unit economics, business model, way of life, dan behaviour. Ada konektivitas antara entrepeneurship dalam ranah krisis. Menurut Willson, krisis memperjelas tujuan entrepeneurship karena kita dipaksa melihat sesuatu yang ada di depan mata. “Ada atau tidak adanya krisis, entrepeneurship akan tetap ada. Namun, perlu dicatat bahwa crisis brings clarity,” jelasnya.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Disclaimer: Berita ini merupakan kerja sama Republika.co.id dengan swa.co.id. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi berita menjadi tanggung jawab swa.co.id.
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement