Kamis 18 Jun 2020 06:22 WIB

Islamofobia di Eropa

Uni Eropa gemar memberi 'kuliah' tentang nilai demokrasi, kebebasan, dan toleransi.

Duta Besar RI untuk Belgia, Luksemburg, dan Uni Eropa periode 2016-2020, Yuri O Thamrin.
Foto: Republika/Erik Purnama Putra
Duta Besar RI untuk Belgia, Luksemburg, dan Uni Eropa periode 2016-2020, Yuri O Thamrin.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Yuri O Thamrin/Duta Besar RI untuk Belgia, Luksemburg, dan Uni Eropa periode 2016-2020

Ternyata, di Benua Eropa yang konon maju dan berbudaya, banyak terjadi kisah 'seram'. Seorang Muslimah berhijab diadang di jalan gelap, dimaki-maki dengan ujaran rasis dan anti-Islam bahkan hampir saja diperkosa.

Seorang polisi mengunggah (posting) 'ancaman ISIS' palsu untuk memperbesar kebencian pada Islam. Ada pula kisah anak sekolah dirisak hanya karena berpuasa Ramadhan, politisi populis membakar Alquran dan mengancam mengusir kaum Muslimin dari Eropa. Semua cerita ini didokumentasikan lengkap dalam laporan tahunan tentang insiden Islamofobia di Eropa.

Indonesia sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia, berkepentingan membangun harmoni antaragama dan antarperadaban serta meluruskan salah pengertian tentang Islam, yang sebenarnya adalah agama rahmatan lil alamin. Selain sejarah panjang persinggungan Eropa dan Islam, tulisan ini mengulas solusi konkret bagi fenomena Islamofobia di Eropa.

Umat Islam di Eropa

Sesuai data The Economist, populasi Muslim di Eropa (tidak termasuk Turki dan Rusia), sekitar 26 juta jiwa pada 2019. Tak semua warga Muslim imigran atau penda ang. Sebagian justru asli Eropa yang beragama Islam, seperti di Bosnia-Herzegovina, Kosovo, dan Albania.

Para imigran Muslim didatangkan negara-negara Eropa Barat, terutama usai Perang Dunia II, untuk membantu rekonstruksi Eropa yang hancur akibat perang. Setelah menetap lebih dari tiga generasi di Eropa, warga Muslim menjelma menjadi warga Eropa, tidak lagi memandang dirinya sebagai 'imigran', tetapi 'warga negara'.

Terdapat tingkat keragaman yang tinggi pada komunitas Muslim Eropa. Di Inggris, warga Muslim umumnya berasal dari Pakistan dan Bangladesh. Di Prancis, mereka datang dari Aljazair, Tunisia, dan Maroko.

Di Jerman, banyak warga Turki beremigrasi ke negara itu. Selain perbedaan Suni, Syiah, dan Ahmadiyah, warga Muslim pun mengikuti ideologi dan gerakan politik yang saling berbeda, seperti Muslim Brotherhood, Salafi, Deobandis, dan gerakan Milli Gorus dari Turki.

Dari sisi sosial-ekonomi, sering diwartakan kondisi warga Muslim yang 'miskin' dan 'terpecah-belah' hidup di kawasan-kawasan kumuh, seperti Molenbeek di Brussels atau Banlieues di pinggiran Kota Paris dengan 25-30 persen pemudanya menganggur, terperangkap dalam kriminalitas, perdagangan narkoba.

 
Namun, sejatinya komunitas Muslim di Eropa kebanyakan bersikap moderat, cukup berpendidikan, berpenghasilan cukup baik, dan terus berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungan dan gaya hidup. Gambaran positif ini tampil dalam laporan khusus majalah The Economist (16 Februari 2019) berjudul Islam in the West. Here to Stay.

Eropa sejatinya adalah land of opportunity, tanah harapan bagi siapa pun yang mau berusaha, mau belajar, dan sanggup bekerja keras. Karena itu, banyak kita saksikan warga Muslim yang berhasil dalam karier mereka. Misalnya, Rachida Dati (menteri hukum Prancis 2007-2009, saat ini anggota Parlemen Eropa), Baroness Sayeeda Warsi (menteri Kabinet Inggris), Wali Kota London Sadiq Khan, atau Wali Kota Rotterdam Ahmed Abou Taleb.

Problem Islamofobia

John L Esposito mengaitkan Islamofobia di Barat dengan peningkatan serangan-serangan terorisme oleh kelompok-kelompok Muslim radikal, seperti peristiwa 911 di New York, rangkaian serangan teroris di Paris tahun 2015, atau pengeboman di Brussels tahun 2016.

Namun, Islamofobia tak dapat dibenarkan dengan alasan apa pun. Sejatinya, Islamofobia membahayakan kepentingan Eropa sendiri. Sebab, bagai 'kanker sosial', Islamofobia tengah menggerogoti nilai-nilai demokrasi, pluralisme, dan toleransi di dalam masyarakat Uni Eropa. Karena itu, Islamofobia harus diperangi bersama.

Ke depan, penulis menduga tren Islamofobia tetap kuat di Uni Eropa, khususnya karena partai-partai populis sayap kanan makin maju di benua ini. Mereka meraup lebih banyak suara pemilih dari 10,6 persen pada 1980 menjadi 18,4 persen pada 2017.

Solusi

Muslim di Eropa cukup besar jumlahnya dan karena itu, harus benar-benar masuk ke arus utama masyarakat dan tidak berada di pinggiran saja (periphery). Mereka seharusnya menjadi profesional dan pengusaha Muslim yang berhasil dan dihormati orang.

Muslim di Eropa, harus lebih baik mengorganisasi diri untuk memperjuangkan hak-hak mereka. Perlu dibangun hubungan dan pemahaman lebih baik dengan media, parlemen, pemerintah, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.

Di samping itu, Muslim Eropa perlu bersama-sama menolak ekstremisme dan terorisme, serta menempuh cara-cara dan prosedur demokrasi jika menginginkan perubahan atau jika ingin memperjuangkan tujuan politik mereka.

Organisasi Kerja sama Islam (OKI) dan negara-negara anggotanya, perlu mendekati masyarakat Muslim di Eropa untuk mengomunikasikan pesan-pesan pemerintah kepada masyarakat Muslim. Dan sebaliknya, OKI dapat pula mengomunikasikan aspirasi komunitas muslim Eropa pada pemerintah negara-negara Uni Eropa.

Kontribusi Indonesia

Selama bertugas sebagai dubes RI untuk Belgia, Luksemburg, dan Uni Eropa, penulis selalu berusaha memajukan salah satu priori tas politik luar negeri Indonesia untuk membangun harmoni antaragama dan antarperadaban.

Indonesia memiliki modal yang kuat karena negeri kita adalah perwujudan dari Islam, demokrasi, dan modernitas yang hi dup berdampingan secara serasi. Harmoni sosial di Indonesia pun mendapatkan apre siasi luas di Uni Eropa.

Penulis selalu melakukan engagement dengan anggota Parlemen Eropa, baik faksi European People's Party (faksi terbesar di parlemen) atau DASE (delegasi Parlemen untuk penguatan kerja sama dengan ASEAN).

Penulis menjelaskan Islam di Indonesia dan secara terang-terangan menyampaikan kritik terhadap Islamofobia di Eropa. Dialog kami sering hangat dan terus terang, tapi tetap bersahabat. Penulis juga sering mengatur kunjungan tokoh-tokoh lintas agama Indonesia untuk berinteraksi dengan berbagai pemangku kepentingan di Uni Eropa.

Selain itu, penulis rajin menjadi pembica ra di lembaga think tanks, seperti European Institute for Asian Study (EIAS) atau dalam forum-forum yang diselenggarakan Friends of Europe atau seminar yang digagas KBRI Brussels bersama majalah Diplomatic World.

Selama penulis bertugas sebagai dubes, sudah enam edisi diselenggarakan program beasiswa 'Indonesia Interfaith Scholarship' yang telah mendatangkan 52 orang ke Indonesia untuk toleransi dan Islam di Indonesia.

Pada November 2019, bertepatan dengan 70 tahun hubungan diplomatik Belgia-Indonesia, KBRI Brussels menyelenggarakan pa meran foto bertemakan 'Persatuan dalam Keberagaman' selama tiga pekan di gedung Parlemen Belgia.

Uni Eropa adalah sahabat Indonesia yang gemar memberi 'kuliah' pada dunia tentang nilai demokrasi, kebebasan, toleransi, mutual respect, multikulturalisme, perlindungan dan penghormatan HAM. Mungkin sudah saatnya Uni Eropa merealisasikan apa yang sering dikuliahkannya itu, dengan menanggulangi Islamofobia di Eropa.

Opini ini sudah dipublikasikan di Harian Republika pada Rabu, 10 Juni 2020.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement