Friday, 19 Rabiul Akhir 1442 / 04 December 2020

Friday, 19 Rabiul Akhir 1442 / 04 December 2020

Kafe Abai Pencegahan Covid-19 Masih Ditemukan di Sleman

Rabu 17 Jun 2020 14:18 WIB

Rep: Wahyu Suryana/ Red: Dwi Murdaningsih

Larangan berkumpul (Ilustrasi)

Larangan berkumpul (Ilustrasi)

Foto: Republika TV
Banyak kafe yang tidak memperhatikan jara jarak dan penggunaan masker.

REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN -- Pemantauan penerapan protokol pencegahan Covid-19 terus dilakukan di Kabupaten Sleman hampir setiap malam. Termasuk, pemantauan terhadap waktu operasional kegiatan usaha dalam masa darurat Covid-19 di Kabupaten Sleman.

Pemantauan yang dilakukan pada 16 Juni 2020, misal, kembali ditemukan kafe-kafe yang abai. Seperti Market Angkring di Jl KRT Pringgodiningrat, Warung Rica-Rica dan Bakmi Giyatno di Jl Magelang, dan Coffee Eskala di Jl Palagan.

Pelanggaran beragam. Ada yang dalam satu tempat diisi puluhan orang, kurang menerapkan jarak aman, dan pegawai tidak memakai masker. Beberapa kafe belum dilengkapi alat pengukur suhu dan masih melayani setelah pukul 21.00.

Atas pelanggaran-pelanggaran, ada yang dilakukan tindakan penertiban non-yustisial berupa pemberitan surat peringatan. Sebab, sebelumnya pernah dibuatkan BAP lapangan oleh Satpol PP Sleman karena beberapa pelanggaran.

Setiap tempat yang didatangi diberikan sejumlah masker. Lalu, kepada tiap pengelola tempat usaha yang didatangi diberikan salinan SK Bupati Sleman tentang Jam Operasional dan Kegiatan Usaha dalam Masa Darurat Covid-19.

"Tamu pengunjung kita bubarkan paksa, petugas meninggalkan lokasi setelah semua tamu pengunjung bubar," kata Plt Kasat Pol PP Sleman, Arif Pramana, Selasa (16/6).

Selain itu, pemantauan dilaksanakan pada 17 Juni 2020 dini hari di Pasar Prambanan. Pasar tidak cuma diisi pedagang-pedagang tradisional tapi pedagang-pedagang kuliner, sehingga banyak menjadi tempat berkumpul warga.

Giat dilakukan dengan mengingatkan dan menegur semua pengunjung agar selalu menggunakan masker. Kemudian, pedagang-pedagang luar daerah wajib melengkapi diri dengan surat keterangan sehat atau hasil rapid diagnostic test (RDT).

"Kegiatan ini dalam rangka antisipasi persebaran wabah dari zona merah (misal pedagang sayuran yang banyak berasal dari Temanggung dan Wonosobo). Masih perlu edukasi dan pemantauan secara terus-menerus," ujar Arif.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA