Sunday, 14 Zulqaidah 1441 / 05 July 2020

Sunday, 14 Zulqaidah 1441 / 05 July 2020

Mimpi Seorang Istri (Bagian Pertama)

Rabu 17 Jun 2020 04:21 WIB

Red: Karta Raharja Ucu

Sepasang Suami-Istri (ilustrasi)

Sepasang Suami-Istri (ilustrasi)

Foto: Wihdan Hidayat/Republika
Nugroho mencintainya dengan seluruh detak jantungnya.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: AJ Hara

Langit agak mendung, awan hitam tipis berarak menutupi sinar matahari, menghasilkan suasana yang teduh dan cenderung terasa dingin, walaupun ruangan itu didinginkan oleh pengatur suhu, tetapi suasana sendu terasa hadir di hati Nugroho. Dari lantai dua di kantornya yang berjendela besar dia menatap kosong ke depan, jauh ke ujung gedung-gedung bertingkat yang bertebaran di Kota Bandung.

Lagu I’ll Play The Blues for You mengalun lembut dari digital player di meja kerjanya. Melodi gitar blues Daniel Castro yang begitu lembut namun menyentak-nyentak syahdu seakan mengaduk-aduk hatinya yang sedang gundah.

Persoalan ini dimulai bulan lalu, pagi hari saat Nugroho baru tiba di ruangannya. Datang Mang Uca petugas dapur menyuguhkan kopi jahe, pekerjaan yang biasa dilakukan Mang Atang office boy. Statusnya memang office boy, tetapi Mang Atang umurnya sudah 62 tahun, lebih dari masa pensiun seorang pegawai pada umumnya. Namun bagi Nugroho kadang belas kasihan melandasi keputusannya.

Mang Atang ditinggal istrinya meninggal lima tahun lalu dan kini hidup sendiri. Dua anaknya laki-laki menjadi pedagang di pasar di Bekasi dan satu lagi di Pasar Induk Bogor. Mereka jarang sekali pulang karena sudah berkeluarga semua.

Mang Atang tinggal sendiri di rumahnya di sudut kumuh Kota Bandung sekitar Cileunyi, jauh masuk ke dalam gang sempit yang bahkan motor pun tidak bisa berpapasan. Nugroho memarkir mobilnya di sebuah masjid yang parkirannya luas di daerah itu, dan ia berjalan ke dalam gang sendiri.

Mang Uca mengabarkan kalau Mang Atang sakit sudah tiga hari dan tidak bisa masuk kantor. Kesendirian Mang Atang yang membuat Nugroho terpaksa mendatanginya sendiri untuk menjenguk. Memang tidak ada yang bisa disuruh waktu itu karena semua karyawan sibuk, dia sendiri waktu itu yang tidak sibuk.

Nugroho adalah Direktur sekaligus pemilik usaha keluarga, sebuah perusahaan konveksi dengan 50 orang pegawai. Empat puluh orang di antaranya adalah tukang jahit, dua orang desainer dan selebihnya adalah supporting unit, bagian dapur, ahli teknik dan listrik, sopir, dan Mang Atang office boy.

Ada kekhawatiran karena sakitnya seorang yang berumur 62 tahun dan waktu itu niatnya mau sekalian membawanya ke dokter jika diperlukan. Dalam benak Nugroho hidup tentunya bukan hanya sekedar cari materi tetapi orang-orang yang menggantungkan hidup pada perusahaannya harus diperhatikan secara seksama.

Jauh juga NUgroho berjalan, arah jalan yang diberikan Mang Uca tidak cukup untuk menemukan rumah Mang Atang. Di persimpangan gang ada sebuah warung kecil terjepit di antara rumah yang padat, warung kopi, gorengan dan makanan-makanan kecil.

Punteen….” Nugroho menyapa sambil tingak tinguk mencari si pemilik warung.

Mangga..” ada sahutan dari dalam, seorang perempuan.

Dan keluarlah seorang perempuan sekira seumur dirinya. “Mangga bade naon.” (mau apa) si perempuan menyahut sambil memunculkan diri.

Sejenak Nugroho terkesima, dia seperti disetrum dan sejenak terkaget. “Eh.. Ria.. Rianah yaa,” Nugroho secepat kilat mengenali perempuan itu.

Si perempuan terkejut dengan mata membesar. Terlihat dia sedang berusaha mengingat lelaki berpakaian rapi yang berdiri di hadapannya sambi menyodorkan dua tangan untuk menyalami.

“Eh.. siapa ya.. ehh.. Hadi… “ perempuan itu menyebut nama sambil menutup mulutnya pertanda kaget.

Nugroho Hadiyanto itu memang namanya, zaman sekolah SMA dulu teman-temannya lebih suka memanggilnya Hadi. “Eh.. Hadi… apa kabar," perempuan itu menyodorkan dua tangan juga untuk menerima salaman Nugroho.

“Kabar baik Yan,” jawab Nugroho. Arianah Sundari nama perempuan itu, teman sekolah dulu, panggilannya Yanah.

Mereka sejenak saling menatap, dan saling menahan senyum, ada kaget, jengah, grogi bercampur aduk di hati masing-masing. Benak Nugroho sejenak melayang jauh kebelakang, tahun 1993 saat mereka sama-sama duduk di bangku sekolah SMA.

Arianah Sundari adalah teman sekelas sekaligus nama yang mengisi relung hatinya sehari-hari. Nama yang membuatnya rajin paling pagi datang ke sekolah, nama yang membuatnya rajin belajar dan tidak ingin terkalahkan oleh yang lain sekedar untuk menjadi buku hidup dan sabar menanti Arianah bertanya padanya untuk semua pelajaran sekolah.

Waktu itu Arianah adalah energinya yang membakar sumber daya potensial menjadi api semangat menghadapi apa pun. Kini perempuan idamannya dulu berdiri di hadapannya dengan segala apa adanya. Tak ditutupi oleh polesan apa pun, tak ditutupi oleh topeng apa pun yang mampu menyamarkan keadaan yang sebenarnya.

Sejenak Nugroho tak mampu berkata-kata, juga Arianah. Mereka terpaku sejenak saling menatap, saling mencari sesuatu di bola mata masing-masing, tapi sebentar saja.

“Mama… “ tiba-tiba ada suara anak kecil memanggil.

“Oh maaf ya itu anakku.” Arianah melepaskan tangan dari bersalaman dan segera masuk ke dalam.

Tak lama keluar lagi diikuti anak perempuan kecil sekira umur 10 tahun.
“Ini Tanti, anakku yang bungsu.”

“Oh..eh iya.. maaf, Yanah kamu di sini toh sekarang.” Nugroho berkata sejenak setelah menemukan kesadarannya kembali.

“Ya aku di sini.. di Bandung-Bandung aja, nggak ke mana-mana," jawab Arianah sambil menautkan kedua tangannya di depan sesungging senyum mengakhiri perkataannya.

Sejenak Nugroho kembali terpaku, bingung mereka-reka apalagi pertanyaan yang akan diajukan. Selintas terpikir olehnya untuk mengakhiri bertanya agar tidak menimbulkan kesan menginterogasi.

“Hmm.. aku ke sini mencari tempat tinggalnya Pak Atang, dia kerja di Kota Bandung,” Nugroho kembali ke dunia nyata.

“Ohh… Mang Atang, yang tinggal sendiri?” Arianah menjawab.

“Iya..”

“Itu gang yang ke kiri ini, kira-kira empat rumah paling pojok berdempet dengan mushola," Arianah menjawab sambil tangannya memberikan arah.

“Oke, makasih Yanah," Nugroho membalikkan badan seraya siap melangkah.

“Yanah.. boleh kapan-kapan kita ketemu lagi? mungkin aku akan beberapa kali lagi menjenguk Mang Atang, dia karyawan di tempatku kerja. Sekarang sedang sakit, aku mau menjenguknya, nanti aku mampir sini."

“Boleh, aku di sini tinggalnya,” jawab Arianah sambil menunjuk warung kecil itu yang ternyata di belakangnya adalah rumah.

“Baik. aku tinggal dulu ya,” Nugroho Pamit.

Sambil berjalan, dalam hati Nugroho merutuki dirinya sendiri, nanti aku mampir, bagaimana kalau bertemu suaminya. “Punten…” Nugroho mengetuk pintu rumah, rumah itu rumah tembok setengah, setengahnya lagi bilik bambu yang dibuat berlapis, warnanya hijau.

"Kenapa rumah kayu selalui diberi warna hijau ya?" Nugroho clingak clinguk melihat-lihat.

Sebuah sepeda motor bebek tua buatan tahun 90-an terstandar di teras. “Mangga,” terdengar suara tua dan parau menyahut dari dalam, kemudian pintu terbuka.

"Masya Allah… Den Nugroho… aya naon rurumpaheun kadieu?” (ada apa memaksakan diri ke sini) Mang Atang terkaget melihat bosnya berdiri di depan rumahnya.

Obrolan pun mengalir, ternyata Mang Atang hanya terserang flu dan meriang. Obrol ke sana ke mari akhirnya tak tahan juga Nugroho bertanya ke Mang Atang.

“Mang, itu perempuan yang punya warung itu siapa?"

“Siapa gimana Den? Itu namanya kalau ngga salah Neng Anah, anaknya tiga, ditinggal mati suaminya 6 tahun lalu. Suaminya dulu sopir angkot sini, terus entah sakit apa atau gimana terus meninggal nggak lama. Cuma seminggu sakitnya,” Mang Atang cerita sambil matanya menatapku heran.

“Ohh.. gitu, ya itu dulu temen saya Mang. Satu sekolah, sekelas..” jawabku tak acuh.

“Ooh… “ Mang Atang seperti menemukan jawaban dari kecurigaannya.

“Iya Den itu kasihan nasibnya. Anaknya yang besar dan yang tengah, berhenti sekolah karena ibunya nggak kuat biaya. Sekarang mereka jual goreng pikulan di depan masjid sana,” kata Mang Atang seraya tangannya menunjuk ke arah masjid besar di depan.

“Kadang mereka dibantu tetangga-tetangga dikirimi makanan. Suaminya dulu baik, soleh, sopir angkot tapi juga marbot di mushola ini, bersih-bersih, memperbaiki yang rusak,” Mang Atang melanjutkan ceritanya.

Nugroho tercenung, hidup kadang luar biasa mengejutkan, Arianah dulu bukan orang tak punya. Ayahnya pegawai Dinas Kehutanan kalau tidak salah, sering ke luar kota. Ibunya guru SMP di dekat rumah mereka dulu di daerah Buah Batu bawah.

“Ya udah Mang, perlu ke klinik nggak?” kata Nugroho.

Ah ngga perlu Den, makan obat aja, besok juga Mamang usahakan udah bisa masuk lagi Den..” jawab Mang Atang.

“Ya udah, istirahat aja dulu kalau belum kuat, ini sekedar buat beli makan, beli buah Mang, beli susu biar Emang sehat,” kata Nugroho sambil menyodorkan dua lembar uang seratusan ribu.

Mang Atang menerimanya dengan mata berkaca-kaca. “Terima kasih Den, Den Nugroho baik sekali, sebaik almarhum Pak Sungkono,” jawab Mang Atang sambil menundukkan kepala. Pak Sungkono adalah ayah Nugroho, pendiri perusahaan. Mang Atang sejak remaja sudah ikut di perusahaan mereka.

Nugroho segera pamit dan keluar dari rumah Mang Atang, berjalan perlahan dan sejenak tiba di warung tadi. “Assalamu’alaikum,” Nugroho uluk salam.

‘Wa ‘alaikum salam, masuk kang,” kata suara dari dalam.

Arianah keluar dari pintu, kali ini dia sudah sedikit berdandan, kerudungnya berganti menjadi warna merah jambu, bibirnya kali ini sedikit disapu lipstik merah samar, bajunya diganti, gamis biru dengan sulaman bunga besar di bagian depannya, cantik. Ia cantik dalam ketegaran, nrimo dan kesederhanaan.

Arianah membuatkan kopi, Nugroho mengambil sebungkus rokok kretek. Mereka pun mengobrol berdua melintasi waktu, membuka-buka lembar kenangan dan saling menyelami hati masing-masing.

Tak terasa satu jam waktu yang terlewati, tiba saatnya Nugroho harus kembali ke kantor, sambil pamit dia sisipkan di bawah meja tiga lembar uang seratus ribuan.

“Ini untuk kopi dan rokoknya,” kata Nugroho.

“Rokok apa tiga ratus ribu,” kata Arianah.

Dan mereka tergelak, ada bunga-bunga yang tumbuh di hati Nugroho, juga Arianah. Mendung semakin gelap, sebentar lagi hujan, Nugroho masih berdiri mematung di depan jendela besar kantornya, alunan musik di speaker digital entah sudah berapa kali berganti.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA