Selasa 16 Jun 2020 09:47 WIB

Harga Minyak Meningkat di Tengah Upaya Pengurangan Produksi

Anggota OPEC Plus sepakat mengurangi produksi minyak.

Siluet kilang minyak di Oakley, Kansas, Amerika Serikat.
Foto: AP Photo/Charlie Riedel
Siluet kilang minyak di Oakley, Kansas, Amerika Serikat.

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Harga minyak naik lebih dari dua persen pada akhir perdagangan Senin (15/6). Kenaikan ini ditopang tanda-tanda bahwa permintaan bahan bakar pulih, sementara anggota OPEC Plus mematuhi kesepakatan pengurangan produksi, melebihi kekhawatiran bahwa infeksi baru virus corona dapat lebih lanjut memperlambat ekonomi global.

Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juli naik 86 sen atau 2,4 persen, menjadi menetap pada 37,12 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange. Sementara itu, minyak mentah Brent untuk pengiriman Agustus naik 99 sen atau 2,6 persen, menjadi 39,72 dolar AS per barel di London ICE Futures Exchange.

Baca Juga

Harga minyak rebound dari penurunan awal setelah menteri energi Uni Emirat Arab menyuarakan keyakinan bahwa negara-negara OPEC Plus dengan kepatuhan rendah terhadap pemotongan yang disepakati akan memenuhi komitmen mereka dan melaporkan tanda-tanda permintaan minyak meningkat.

"Itu sepertinya menghilangkan beberapa negativitas pasar. Ini ketakutan tentang virus corona versus kenyataan dari apa yang terjadi di lapangan," kata Phil Flynn, analis senior di Price Futures Group. 

Panel pemantauan yang dipimpin OPEC akan bertemu pada Kamis (18/6) untuk membahas apakah negara-negara telah memberikan bagian mereka dari pengurangan produksi. Irak setuju dengan perusahaan-perusahaan minyak utama untuk memangkas produksi minyak lebih lanjut pada Juni, kata para pejabat Irak yang bekerja di ladang minyak raksasa negara itu kepada Reuters, Ahad (14/6).

Arab Saudi juga telah mengurangi volume minyak mentah pemuatan Juli yang akan disuplai ke setidaknya lima pembeli di Asia, kata sumber.

Juga positif untuk harga, hasil pengolahan minyak mentah China pada Mei naik 8,2 persen dari setahun sebelumnya karena kilang-kilang independen meningkatkan pemrosesan untuk memenuhi pemulihan permintaan bahan bakar menyusul pelonggaran kuncian.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement