Saturday, 2 Jumadil Awwal 1444 / 26 November 2022

Lawan Otoritas Pro Saudi, Milisi Yaman Sita Miliaran Riyal

Senin 15 Jun 2020 12:48 WIB

Rep: Dwina Agustin/Lintar/ Red: Teguh Firmansyah

 Reruntuhan sisa perang di Kota Sana

Reruntuhan sisa perang di Kota Sana

Foto: EPA-EFE/Yahya Arhab
Uang miliaran riyal itu sejatinya untuk bank sentral di Aden.

REPUBLIKA.CO.ID, ADEN -- Milisi selatan di Yaman menyita pengiriman miliaran riyal yang ditujukan untuk bank sentral di Aden pada Sabtu (13/6). Langkah ini upaya lebih lanjut untuk mengambil kendali dari pemerintah yang didukung Saudi sejak mendeklarasikan pemerintahan sendiri di selatan pada April.

Pasukan yang setia kepada Southern Transitional Council (STC) telah menyatakan pembentukan pemerintahan sendiri di Aden pada April. Mereka melakukan konvoi yang membawa uang tunai ketika meninggalkan pelabuhan.

Baca Juga

"Tindakan itu merupakan bagian dari beberapa langkah untuk mengakhiri sumber korupsi dan untuk mencegah penggunaan uang publik dalam mendukung terorisme," kata STC dalam sebuah pernyataan.

Sumber Pemerintah mengatakan, konvoi itu membawa 64 miliar riyal dalam uang kertas yang dicetak untuk bank sentral Yaman di Rusia. Sedangkan sumber pemerintah lainnya mengatakan, uang tunai itu dibawa ke pangkalan militer untuk pembajakan.

Atas peristiwa itu, bank sentral, memperingatkan akan ada konsekuensi berbahaya. Langkah berani ini dapat mengancam perdamaian rapuh antara STC dan pemerintah yang didukung Saudi, sekutu dalam perang melawan gerakan Houthi yang selaras dengan Iran.

Pemerintah dan STC menandatangani perjanjian tahun lalu untuk mengakhiri perebutan kekuasaan di selatan. Namun, para pihak gagal untuk mengimplementasikan kesepakatan di lapangan. STC menuduh pemerintah yang salah kelola dan korupsi dan tuduhan itu tentu saja dibantah.

Perang di Yaman telah menghancurkan ekonomi dan menyebabkan inflasi yang parah di negara yang telah lama miskin. Perserikatan Bangsa-Bangsa pun menyatakan negara ini mengalami krisis kemanusiaan terbesar di dunia.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA