Friday, 19 Syawwal 1443 / 20 May 2022

Pahala tidak Berputus Asa

Ahad 14 Jun 2020 08:32 WIB

Red: Irwan Kelana

Petani menaburkan pupuk organik di lahan pertanian, Jalan Tangkuban Parahu, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Ahad (7/6). Nabi Muhammad SAW mengajarkan kepada umatnya agar bersemangat dalam mengerjakan hal-hal yang bermanfaat bagi dirinya.

Petani menaburkan pupuk organik di lahan pertanian, Jalan Tangkuban Parahu, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Ahad (7/6). Nabi Muhammad SAW mengajarkan kepada umatnya agar bersemangat dalam mengerjakan hal-hal yang bermanfaat bagi dirinya.

Foto: Edi Yusuf/Republika
Tidak berputus asa dari rahmat Allah,  melainkan kaum yang kafir.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Dr KH Syamsul Yakin MA

Orang yang tidak berputus asa dari rahmat Allah SWT akan diampuni dosa-dosanya. Allah SWT memastikan, “Katakanlah, ‘Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.” (QS. al-Zumar/39:53).

Hanya saja ada syaratnya. Menurut pengarang Tafsir Jalalain, semua dosanya akan diampuni apabila dia bertobat dari kemusyrikan. Karena Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya." (QS. al-Nisa/4: 48).

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa ada seorang lelaki yang bertanya (kepada Nabi SAW), “Wahai Rasulullah, apa dosa besar itu?” Rasulullah SAW menjawab, “Syirik kepada Allah, pesimis  terhadap karunia Allah dan berputus asa dari rahmat Allah.” (HR. al-Bazzar). Jawaban Nabi SAW dalam hadits ini mempertegas kedua ayat di atas.

Sementara itu, orang yang berputus asa dari rahmat Allah SWT termasuk orang yang sesat.  Allah SWT menegaskan, “Ibrahim berkata, ‘Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhannya, kecuali orang-orang yang sesat.” (QS. al-Hijr/15: 56). Orang-orang yang sesat dalam konteks ini, menurut pengarang Tafsir Jalalain, adalah orang-orang kafir. 

Pernyataan pengarang Tafsir Jalalain ini sesuai dengan makna tekstual ayat, “Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya tidak berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir.”  (QS. Yusuf/12: 87). Syaikh Nawawi Banten dalam Tafsir Munir menulis orang kafir adalah orang yang dimurkai Allah SWT.

Selanjutnya, pahala tidak berputus asa dari rahmat Allah SWT dapat dipahami dari hadits Nabi SAW yang dikutip oleh Muhammad bin Abi Bakar dalam Mawaidz al-Ushfuriyah,Orang durjana yang mengharap rahmat Allah, lebih dekat kepada Allah ketimbang orang yang tekun beribadah tapi berputus asa dari rahmat Allah.”

Terkait hadits ini, Muhammad bin Abi Bakar bercerita, “Satu riwayat telah sampai kepada kami yang bersumber dari Zaid bin Aslam dari Umar bin Khattab bahwa ada  seorang laki-laki yang hidup pada masa lalu yang terus beribadah hingga memaksakan  diri. Namun ia membuat orang berputus asa dari rahmat Allah SWT. 

Sesudah orang itu mati, ia bertanya kepada Allah SWT, ‘Ya Tuhanku, pahala apa untukku dari-Mu?’ Allah SWT menjawab, ‘Neraka’. Ia bertanya, ‘Ya Tuhanku ke mana pahala ibadahku dan kesungguh-sungguhanku?’ Allah SWT menjawab, ‘Saat di dunia kamu pernah membuat orang berputus asa dari rahmat-Ku, maka hari ini Aku membuatmu berputus asa dari rahmat-Ku”.

Jadi selain tidak berputus asa, seorang Muslim juga dilarang untuk membuat orang lain berputus asa yang mengakibatkan ia jadi lemah dan tidak mau bekerja dan beribadah. Nabi SAW mengajarkan untuk memberi motivasi, “Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah pada Allah, janganlah kamu lemah.” (HR. Muslim). 

Namun ada berputus asa yang dibolehkan. Nabi SAW katakan, ”Hendaklah kamu berputus asa dari apa yang ada di tangan manusia.” (HR. al-Hakim dan al-Baihaqi). Alasannya, Allah SWT berfirman, “Bukankah Allah cukup bagi hamba-Nya?” (QS. al-Zumar/39: 36). Lalu, "Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, Ia akan mencukupinya.” (QS. al-Thalaq/65: 3). 

Terakhir, spektrum pahala tidak berputus asa dari rahmat Allah SWT yang begitu luas dapat dipahami dari ayat ini, “Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka, Aku akan menetapkan rahmat-Ku bagi orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami.” (QS. al-A’raf/7: 156).

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA