Sabtu 13 Jun 2020 22:58 WIB

Penurunan Pendapatan Masyarakat Relatif Tinggi Saat Pandemi

BPS melakukan survei sosial demografi kepada 87 ribu responden di Indonesia.

Kendaraan melaju di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Kamis (11/6/2020). Ilustrasi
Foto: ANTARA FOTO/NOVA WAHYUDI
Kendaraan melaju di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Kamis (11/6/2020). Ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Survei sosial demografi Badan Pusat Statistik (BPS) kepada 87.379 responden di Indonesia menunjukkan terjadi penurunan pendapatan relatif tinggi di masa pandemi Covid-19. Hanya 1-2 persen responden yang mengatakan pendapatan mereka selama pandemi meningkat.

“Dugaannya sektor yang terdampak positif Covid-19 seperti produksi masker, APD (alat pelindung diri), belanja online dan seterusnya,” kata Kasubdit Indikator Statistik BPS Windhiarso Ponco Adi Putranto di Jakarta, Sabtu (13/6)

Namun demikian, ia mengatakan dari survei diketahui pendapatan masyarakat yang turun relatif tinggi bahkan ada yang mencapai 53 persen untuk mereka yang jenis pekerjaannya memang tidak memungkinkan untuk Work From Home (WFH).

Sedangkan yang jenis pekerjaannya sebagian dilakukan di kantor namun sebagian lainnya dapat dikerjakan dengan WFH yang mengalami penurunan pendapatan ada 37 persen. Ada 62 persen mengatakan pendapatannya tetap dan satu persen meningkat.

Tenaga kerja di sektor perekonomian yang paling terdampak Covid-19 seperti transportasi, akomodasi, perdagangan, hiburan, dan lain-lain. Semua itu, ia mengatakan berdampak langsung pada pendapatan pekerjaan.

Pada saat yang sama ia mengatakan terjadi peningkatan pengeluaran masyarakat untuk bahan makanan, kesehatan dan pulsa paket data. WFH membuat 51 persen responden membeli lebih banyak bahan makanan, dan kecenderungannya perempuan lebih baik belanja daring.

Ketua Umum Ikatan Praktisi dan Ahli Demografi Indonesia (IPADI) Sudibyo Alimoeso mengatakan hasil survei BPS tersebut paling tidak menjadi peringatan dini untuk mengambil kebijakan meski tidak mewakili semua penduduk.

Dari segi ketahanan keluarga untuk dapat memetik bonus demografi maka ia mengatakan penyesuaian diri keluarga dalam era normal baru sangat menentukan untuk membangun ketahanan keluarga di tengah pusaran pandemi Cocid-19.

“Keluarga yang mempunyai ketahanan bagus, mempunyai peluang lebih besar memetik bonus demografi,” katanya.

Jika dilihat dari ketahanan ekonomi, menurut dia, memang sudah mulai terusik pandemi. Beberapa pekerja mulai dirumahkan dan itu memengaruhi kondisi keuangan keluarga, ujar dia.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement