Sunday, 16 Muharram 1444 / 14 August 2022

Perjalanan Pemikiran Tasawuf Hasan Al-Basri (1)

Sabtu 13 Jun 2020 07:30 WIB

Rep: Imas Damayanti/ Red: Muhammad Hafil

Perjalanan Pemikiran Tasawuf Hasan Al-Basri. Foto: (Ilustrasi) kaligrafi nama Hasan al-Bashri

Perjalanan Pemikiran Tasawuf Hasan Al-Basri. Foto: (Ilustrasi) kaligrafi nama Hasan al-Bashri

Foto: tangkapan layar wikipedia
Hasan Al Bashri dianggap sebagai patriarki tradisi sufi.

REPUBLIKA.CO.ID, SABAH -- Meskipun ada banyak alternatif yang menjelaskan munculnya sejarah tasawuf, narasi populer memberi tahu kita bahwa Ali bin Abi Thalib atau Abu Bakar As-Shiddiq adalah generasi pertama para sufi. Dari waktu ke waktu, sufisme berkembang luas, salah satunya adalah dengan hadirnya pemikiran tasawuf dari Hasan Al-Basri.

Semua perintah sufi mengaitkan garis keturunan mereka dengan Nabi Muhammad. Namun, jelas bahwa kesalehan dan asketisme, yang merupakan dasar bagi tasawuf, tidak umum di kalangan sahabat Nabi Muhammad. Dilansir di Daily Sabah, Sabtu (13/6), Masyarakat Muslim awal tidak melepaskan bagian atau warna kehidupan.

Baca Juga

Beberapa Muslim cenderung meninggalkan aspek-aspek kehidupan tertentu setelah Nabi Muhammad wafat. Orang-orang mulai memuji perilaku dan perasaan seperti asketisme, kesalehan, dan kemurungan setelah bentrokan politik muncul di antara para pemimpin masyarakat Islam.

Perilaku sufi pertama termasuk kerap diidentikkan dengan sering menangis dan tidak tertawa, kesedihan terus menerus, ketakutan dan cinta kepada Allah. Di antara tokoh-tokoh terkemuka dari periode awal tasawuf itu antara lain Rabia al-Adawiyah, Said bin Musayyab, dan Hasan al-Basri. Mereka dapat dicatat karena ketenaran mereka di kalangan Muslim dari segala usia. Hasan Al-Basri khususnya dianggap sebagai patriarki tradisi sufi oleh banyak orang.

Masa muda Hasan Al-Basri

Al-Basri lahir pada 642 Hijriyah, sembilan tahun setelah kematian Nabi Muhammad SAW. Beliau dilahirkan di Madinah dari pasangan Yaser dan Khayra. Atas kelahiran Al-Basri, keduanya membebaskan budak. Hasan Al Basri dibesarkan dalam lingkaran keluarga Nabi.

Umar bin Khattab dikatakan telah memberikan nama Hasan (yang berarti indah) kepadanya dan berdoa untuknya ketika ia masih kecil. Dia bertemu lebih dari 100 sahabat Nabi, 70 di antaranya adalah ghazi yang bergabung dengan Pertempuran Badr.

Hasan pergi ke Wadi al-Qura untuk belajar. Anas bin Malik, seorang sahabat Nabi, adalah tutornya. Setelah itu, keluarga Al-Basri pindah ke Basra setelah Pertempuran Siffin yang mengakibatkan bentrokan politik bersenjata antarsekte.

Basra berfungsi baik sebagai pelabuhan komersial dan sebagai pangkalan militer. Ekspedisi militer turun dari Basra ke timur, beberapa di antaranya ikut Al-Basri. Ia menemani Rebi ibn Ziyad, komandan salah satu ekspedisi semacam itu, sebagai juru tulisnya. Dia juga berpartisipasi dalam ekspedisi militer lain di Kabul.

Setelah kembali ke Basra, Hasan bertindak sebagai qadi (hakim Islam) tanpa dibayar untuk sementara waktu atas permintaan gubernur, Suleiman ibn Harb. Setelah berhenti dari pekerjaannya, ia mulai bergelut di bidang dakwah Muslim.

Dalam khutbah-khutbahnya, ia kebanyakan menggarisbawahi bahwa seorang Muslim sejati tidak hanya harus menghindari dosa tetapi tetap berada dalam kecemasan yang terus-menerus terhadap kenyataan bahwa kematian itu pasti, dan tidak ada yang bisa memastikan nasib mereka sendiri di dunia lain. Mentalitas yang berhati-hati ini akan mengarah pada fondasi asketisme dan mistisisme dalam Islam.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA