Sabtu 13 Jun 2020 07:04 WIB

Back to Gotong Royong 

Bagi umat Islam, ajaran tentang ‘gotong royong’ telah termaktub dalam Alquran.

Sutia Budi, Wakil Rektor ITB Ahmad Dahlan.
Foto: dok pri
Sutia Budi, Wakil Rektor ITB Ahmad Dahlan.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Sutia Budi (Wakil Rektor ITB Ahmad Dahlan) 

Hingga bulan ini, Juni 2020, Pandemi Covid-19 belum juga usai menghantam negeri kita. Idul Fitri 1441 H yang jatuh pada tanggal 24 Mei 2020 kita rayakan dengan suka cita di tengah Pandemi Corona. Tentunya, dengan cara yang berbeda. Kita tetap mematuhi protokol kesehatan, baik ketika di rumah maupun ketika terpaksa harus keluar rumah. 

Membantu korban covid-19, mengobati dan merawat pasien, meringankan beban masyarakat terdampak, berdiam di rumah, mematuhi protokol kesehatan, memberikan penyuluhan, mengikuti anjuran pemerintah, dan deretan tindakan positif lainnya dalam upaya menghalau Covid-19 merupakan bagian dari gotong royong kemanusiaan. Itulah cerminan dan implementasi nilai-nilai Pancasila secara nyata.  

Salah satu hikmah di balik Pandemi Covid-19, kita semakin menyadari bahwa hidup tidak bisa sendirian, individualisme harus disingkirkan. Bahwa Tolong-menolong, saling membantu dan meringankan beban hidup bersama adalah hal utama. Gotong royong menjadi kebutuhan bangsa, menjadi jalan hidup.

Seminggu pasca-Idul Fitri 1441 H, kita masuk bulan Juni 2020. Juni sering disebut sebagai bulan Bung Karno, karena banyak catatan sejarah di dalamnya. Pada bulan Juni, Bung Karno lahir dan wafat. Pada Juni pula Pancasila dilahirkan sebagai Weltanschauung, way of life, pandangan hidup bangsa Indonesia, menjadi dasar negara, dan ‘gotong royong’ adalah saripatinya. 

Sebagai warga bangsa, kita patut bersyukur menjadi bagian dari komponen bangsa Indonesia, menjadi satu dari ratusan juta warga negara yang lahir dari “rahim” Indonesia. Kini dan ke depan adalah waktu yang utama bagi kita untuk kembali kepada Pancasila, back to gotong royong. Pancasila telah menjadi “kesepakatan agung” semua komponen bangsa, untuk dihayati dan diinternalisasikan oleh setiap diri, serta dipancarkan dalam amal perbuatan. Pancasila bukanlah pajangan, tetapi harus menjadi pegangan. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya menjadi pegangan hidup dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Antar-sila dalam Pancasila menjadi satu kesatuan yang utuh. Sila Ketuhanan menyinari sila kemanusiaan, persatuan, permusyawaratan, dan keadilan sosial. Sila Kemanusian membingkai sila persatuan, permusyawaratan, dan keadilan sosial. Sila Persatuan mengikat erat sila permusyawaratan dan keadilan sosial. Sila permusyawaratan merupakan peneguhan untuk mewujudkan keadilan sosial. Sejarah telah memperlihatkan dengan jelas bahwa Lima Dasar berbangsa dan bernegara itu telah terbukti mampu menaungi seluruh komponen bangsa yang sangat bhinneka. 

Pancasila  dilahirkan melalui pergumulan yang sangat panjang oleh para pendiri bangsa. Berbagai rumusan diketengahkan untuk mencari dasar negara yang cocok untuk kehidupan berbangsa dan bernegara. Tiba saatnya sidang 1 Juni 1945, Bung Karno menyatakan dalam pidatonya bahwa bilangan Lima itu diperas menjadi Tiga Dasar. Dua dasar yang pertama, Kebangsaan dan Internasionalisme, Kebangsaan dan Perikemanusiaan, diperas oleh Bung Karno menjadi satu yang dinamakan Sosio-Nationalisme.

Demokrasi dalam rumusan Bung Karno bukanlah demokrasi Barat, tetapi politiek-economische demokratie, yaitu Demokrasi dengan Kesejahteraan, yang diperas Bung Karno menjadi satu yang dinamakan Socio-Democratie. Kemudian Bung Karno menyatakan, “Tinggal lagi Ketuhanan yang menghormati satu sama lain. Jadi yang asalnya Lima itu telah menjadi Tiga: Sosio-Nationalisme, Sosio-Demokratie, dan Ketuhanan. Kalau Tuan senang kepada simbolik tiga, ambillah yang tiga ini. Tetapi barangkali tidak semua Tuan-tuan senang kepada Trisila ini, dan minta satu, Satu Dasar saja? Baiklah, saya jadikan Satu, saya kumpulkan lagi menjadi Satu. Apakah yang Satu itu? Gotong Royong.”

Gotong royong menjadi intisari Pancasila. Lalu apa makna gotong royong itu? Bung Karno menegaskan bahwa gotong royong adalah “Pembantingan-tulang bersama, pemerasan-keringat bersama, perjuangan bantu-binantu bersama. Amal semua buat kepentingan semua, keringat semua buat kebahagiaan semua. Ho-lopis-kuntul-baris buat kepentingan bersama! Itulah Gotong Royong! Prinsip Gotong Royong diantara yang kaya dan yang tidak kaya, antara yang Islam dan yang Kristen, antara yang bukan Indonesia tulen dengan peranakan yang menjadi bangsa Indonesia.”

Ho-lopis-kuntul-baris adalah peribahasa Jawa yakni Saiyeg saeka praya, artinya seiya sekata, bekerja dengan gotong royong. Segala sesuatu yang dilakukan secara bersama-sama akan menjadi indah, yang berat menjadi ringan, yang sukar menjadi mudah, yang lambat menjadi cepat, dan yang pelik akan terurai. 

Bagi umat Islam, ajaran tentang ‘gotong royong’ telah termaktub dalam Alquran, surah al-Ma’idah ayat 2. Allah SWT berfirman; “...wa ta'āwanụ 'alal-birri wat-taqwā wa lā ta'āwanụ 'alal-iṡmi wal-'udwāni...” (...dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran...). Nabi Muhammad SAW bersabda; ”Barangsiapa menolong saudaranya, maka Allah akan selalu menolongnya”. (HR Bukhari dan Muslim).

Dalam petikan nasihat KH Ahmad Dahlan (Pendiri Muhammadiyah), berjudul “Tali Pengikat Hidup Manusia” yang merupakan Pidato terakhir KH. Ahmad Dahlan sebelum meninggal dunia, disampaikan pada Muktamar Muhammadiyah tahun 1922. Diantara wasiat agungnya, beliau menuturkan: “...Untuk memimpin suatu kehidupan itu seharusnya dan sepatutnya memakai suatu alat, yaitu Al-Qur’an. Bukankah manusia itu perlu bersatu hati karena beberapa sebab?. Pertama, Sebab manusia, bangsa apa saja, sesungguhnya nenek-moyangnya satu, yaitu Nabi Adam dan Ibu Hawa. Jadi, semua manusia itu satu daging dan satu darah. Kedua, supaya semua manusia dapat hidup senang bersama-sama di dunia. Jika manusia lalai akan tali pengikat ini, maka akan rusak dan merusakkan. Ini suatu kenyataan yang tidak boleh dipungkiri lagi. Pikirkanlah pemimpin-pemimpin! ...” 

Ta’awun (tolong menolong), kebersamaan adalah jalan suci, jalan utama, yang mesti kita jalani, dimana pun dan sampai kapan pun. Kita juga mesti kembali kepada suatu kesadaran penuh bahwa kita semua berasal dari “Ibu dan Bapak yang sama”, sebagaimana nasihat KH. Ahmad Dahlan. Tidak semestinya kita bertengkar dan mengumbar permusuhan. Kita semua mesti “bersatu hati”, saling mengikat untuk gapai kebahagiaan dan kebersamaan. Spirit gotong royong dimulai dari hati, niat yang suci, lalu dipancarkan dalam amal perbuatan yang nyata.

Gotong royong telah menjadi “warisan agung” yang mesti dijaga dan dipegang erat. Kita pun harus berupaya bersikap adil dalam segala hal, dimanapun dan kepada siapapun, karena disamping ta’awun, agama pun dengan tegas mengajarkan keadilan. 

Firman Allah SWT dalam surah al-Ma’idah ayat 8: “Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.”  

Menanggapi situasi sulit sekarang ini, tepat bagi kita untuk kembali membuka warisan agung nenek moyang yang ditegaskan kembali oleh para pendiri bangsa yaitu “Gotong Royong”. Indonesia dilahirkan oleh perjuangan bersama, bermula dari kesepahaman, berdiri atas dasar kesepakatan, dimerdekakan atas dasar kebulatan tekad bersama, dan dibangun atas dasar kebersamaan. Itulah Gotong Royong. Bung Karno menegaskan dalam Pidatonya; “Negara Indonesia yang kita dirikan haruslah negara Gotong Royong! Alangkah hebatnya! Negara Gotong Royong!”.

Pandemi Covid-19 yang melanda negeri kita harus dihadapi dengan “langkah bersama”, mesti disikapi dengan gotong royong untuk kemanusiaan, dan yakinlah bahwa wabah akan segera sirna, seraya memohon ampun dan lindungan Tuhan Yang Maha Kuasa.

Akhirul kalam, karena gotong royong yang menjadi intisari Pancasila itu merupakan pancaran Firman Tuhan yang termaktub dalam Kitab Suci dan Sabda Nabi, maka kita semakin yakin bahwa dengan gotong royong, Indonesia akan mampu dan kuat menghadapi pandemi Covid-19. 

Puasa Ramadhan sebulan lamanya dan hari kemenangan Idul Fitri 1 Syawwal 1441 H, telah menjadi momentum yang tepat bagi kita untuk introspeksi dan terus memperbaiki diri, lingkungan, dan negara kita, sesuai peran dan kemampuan masing-masing. Hari ini, kita masih berada di bulan Syawwal (bulan “peningkatan”), tentunya merupakan waktu yang utama untuk meningkatkan kualitas diri, kualitas hidup dan kehidupan. 

Pandemi Covid-19 “telah memanggil” kesadaran, kesetiakawanan, dan kepedulian sosial kita untuk selalu bergotong royong menghadapi situasi yang sulit ini dengan penuh kesabaran dan kebijaksanaan. Kita mulai dari hal kecil, menolong saudara, teman, dan tetangga agar tetap “bisa makan”. Pada saat yang sama, penyelenggara negara wajib memastikan seluruh rakyatnya tidak kekurangan pangan. Back to gotong royong!

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement