Jumat 12 Jun 2020 17:41 WIB

Dukung 'Black Lives Matter', Trio Lady Antebellum Ganti Nama

'Antebellum' disebut memiliki korelasi dengan perbudakan.

Grup musik country, trio Lady Antebellum, mengganti nama grupnya menjadi Lady A (Foto: grup musik country Lady Antebellum)
Foto: Wikimedia
Grup musik country, trio Lady Antebellum, mengganti nama grupnya menjadi Lady A (Foto: grup musik country Lady Antebellum)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Grup musik country, trio Lady Antebellum, mengganti nama grupnya menjadi Lady A. Hal itu dilakukan sebagai dukungan terhadap gerakan "Black Lives Matter".

"Sebagai sebuah band, kami telah berusaha agar musik kami menjadi tempat perlindungan, inklusif bagi semua," kata band dalam sebuah unggahan Twitter pada Kamis (11/6), dikutip Jumat (12/6).

Baca Juga

Band beranggotakan Charles Kelley, Dave Haywood, dan Hillary Scott itu mengatakan, protes dan dukungan terhadap hak-hak warga kulit hitam sudah membuka mata mereka. "Mata kami terbuka lebar terhadap ketidakadilan, ketidaksetaraan dan bias yang selalu dihadapi oleh perempuan dan laki-laki kulit hitam setiap hari," tulis mereka.

Band yang tenar lewat lagu "Need You Now" itu mengaku baru sekarang menyadari adanya korelasi antara kata "antebellum". Hal itu mereka dapatkan dengan masa perbudakan di era praperang saudara di Amerika Serikat sehingga baru mengganti nama band sekarang.

Menurut kamus Mirriam-Webster, kata "antebellum" merujuk kepada waktu sebelum perang. Tetapi biasanya dikaitkan dengan waktu perbudakan sebelum Perang Sipil AS yang merupakan konfrontasi antara negara-negara bagian di wilayah utara dengan selatan.

Perang yang berlangsung antara 1861-1865 itu berkonflik soal perbudakan atas orang-orang kulit berwarna. Kemenangan pihak utara, atau Union, dalam perang tersebut lantas mengakhiri era perbudakan yang berusaha dipertahankan negara-negara di bagian selatan.

Bukan cuma Lady Antebellum yang menyadari adanya asosiasi nama dan simbol dengan sejarah kelam perbudakan kulit hitam. Ajang balap mobil di AS, NASCAR melarang pengibaran bendera Konfederasi yang merupakan simbol rasialisme yang digunakan negara-negara bagian selatan yang pro-perbudakan.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement