Saturday, 9 Zulqaidah 1442 / 19 June 2021

Saturday, 9 Zulqaidah 1442 / 19 June 2021

WHO: Penyebaran Covid-19 Semakin Cepat di Afrika

Jumat 12 Jun 2020 08:49 WIB

Rep: Idealisa Masyrafina/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Seorang pria melihat melalui celah tenda ketika seorang wanita menyaksikan pekerja kesehatan menjelaskan proses mengumpulkan sampel untuk pengujian virus corona, selama kampanye penyaringan dan pengujian yang bertujuan untuk memerangi penyebaran COVID-19 Diepsloot, utara di Johannesburg, Afrika Selatan, Jumat, 8 Mei 2020.

Seorang pria melihat melalui celah tenda ketika seorang wanita menyaksikan pekerja kesehatan menjelaskan proses mengumpulkan sampel untuk pengujian virus corona, selama kampanye penyaringan dan pengujian yang bertujuan untuk memerangi penyebaran COVID-19 Diepsloot, utara di Johannesburg, Afrika Selatan, Jumat, 8 Mei 2020.

Foto: AP/Themba Hadebe
Perwakilan WHO menyebut Kasus Covid-19 di Afrika menyumbang 3 persen total global

REPUBLIKA.CO.ID, JENEWA -- Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan, pandemi Covid-19 semakin cepat menyebar di Afrika. Direktur regional WHO di Afrika, Matshidiso Moeti, mengatakan penyebarannya di luar ibu kota Afrika Selatan dan kurangnya tes dan pasokan lainnya menghambat upaya penanggulangan terhadap virus ini.

Tetapi dia mengatakan bahwa sepertinya tidak ada kasus parah dan kematian yang terlewatkan oleh pihak berwenang. Dilansir di BBC, Jumat (12/6) disebutkan, sejauh ini Afrika adalah benua yang paling sedikit terpengaruh oleh Covid-19.

Dr Moeti mengatakan, Afrika Selatan memiliki lebih dari seperempat dari kasus yang dilaporkan dan sedang menyaksikan sejumlah besar kasus yang dikonfirmasi dan kematian di provinsi Eastern Cape dan Western Cape. Dia menambahkan bahwa Western Cape terlihat mirip dengan wabah baru-baru ini di Eropa dan AS.

Negara ini memiliki salah satu sistem perawatan kesehatan paling maju di Afrika. Tetapi ada kekhawatiran bahwa peningkatan tajam dalam kasus dapat membanjiri layanan kesehatan.

Pemerintah Afrika Selatan telah dipuji karena pelaksanaan lockdown yang dilakukan lebih awal, tetapi pelonggaran pembatasan pada bulan Juni disertai dengan adanya peningkatan infeksi. Secara keseluruhan, seluruh dunia ada lebih dari 7,3 juta infeksi secara global dan lebih dari 416 ribu kematian. Dr Moeti mengatakan bahwa Afrika memiliki sekitar 200 ribu kasus dan 5.000 kematian, dengan 10 negara merupakan 75 persen dari kasus tersebut.

"Meskipun kasus-kasus di Afrika ini menyumbang kurang dari 3 persen dari total global, jelas bahwa pandemi ini semakin cepat," katanya.

Dia memperingatkan bahwa kasus cenderung terus meningkat di masa mendatang. Menurutnya, hingga vaksin yang efektif ditemukan, Afrika mungkin harus hidup dengan peningkatan yang stabil di kawasan ini. Apalagi dengan beberapa hotspot harus dikelola di sejumlah negara.

"Seperti yang terjadi sekarang di  Afrika Selatan, Aljazair, dan Kamerun, yang membutuhkan langkah-langkah kesehatan masyarakat yang sangat kuat, tindakan jarak sosial harus dilakukan, "kata Dr Moeti.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA