Jumat 12 Jun 2020 04:45 WIB

Respons Mengejutkan Warga Amerika Serikat Terhadap Islam 

Warga Amerika Serikat menyikapi berbeda Islam sejak 11/9.

Kelompok Muslim Amerika Serikat mengampanyekan anti Islamofobia
Foto: world bulletin
Kelompok Muslim Amerika Serikat mengampanyekan anti Islamofobia

REPUBLIKA.CO.ID, Selama ini, persepsi kita mengenai kiprah Islam di AS didominasi profil komunitas Afro-America, seperti Malcolm X, pimpinan ''Nation of Islam'' Elijah Muhamad, Louis Farrakhan, atau olahragawan kondang seperti Muhamad Ali, Mike Tyson, Kareem Abdul Jabbar.

Baru-baru ini, saya berkesempatan mengintip sisi lain dari komunitas Muslim di Chicago, negara bagian Illinois, AS. Pada tanggal 11 Desember, Konjen RI di Chicago-AS, Daulat Pasaribu, menfasilitasi dialog rombongan Ikatan Alumni Permias (Persatuan Mahasiswa Indonesia di Amerika Serikat) dengan Islamic Foundation (IF) dan Council of Islamic Organizations of Greater Chicago (CIOGC).

Baca Juga

Rombongan tersebut terdiri dari Prof Dr Ismail Suny, Konjen Pasaribu, kami, dan sejumlah Pengurus Ikatan Alumni Permias. Pihak Islamic Foundation terdiri dari warga AS generasi pertama dan kedua, yang berasal dari Pakistan, Bangladesh, India, dan Timur Tengah. Muslimah IF dan CIOGC yang hadir dalam pertemuan ada yang berjilbab (termasuk pemandu acara Amina Saeed, Director Community Relations) dan ada yang berbusana modern ala Chanel.

Pertanyaan pertama yang diajukan delegasi Indonesia adalah: sejauh mana penerimaan (comfort level) rakyat Amerika terhadap kaum muslimin? Menurut mereka, Islam adalah fenomena baru di AS. Dari survey yang mereka miliki, hanya sekitar 30 persen rakyat Amerika yang tahu mengenai Islam, dan hanya 1 dari 4 warga AS yang mengenal seorang Muslim.

Menurut survei lain, sebelum peristiwa 11 September 2001, 6 persen warga AS mempunyai pandangan negatif terhadap Islam; setelah peristiwa tersebut, angka ini naik menjadi 12 persen.

Rakyat AS memang belum terbiasa dengan masyarakat Islam (Muslim) sebagaimana halnya mereka terbiasa dengan agama Kristen, Katolik, atau Yahudi yang memang jauh lebih lama bercokol di AS dan mempunyai visibilitas yang tinggi di media setempat. Namun kecenderungan ini mulai berubah beberapa tahun belakangan ini.

Menurut Islamic Foundation, umat Islam di AS sempat mengalami masa yang sangat sulit ketika terjadi peristiwa 11 September, 2001. Amarah rakyat AS sempat menimbulkan intimidasi, vandalisme, demonstrasi, sehingga mengakibatkan sebagian besar keluarga Muslim merasa takut.

Untungnya, tidak lama kemudian muncul gelombang simpati dan dukungan solidaritas dari masyarakat setempat. Yang paling menyentuh perasaan mereka adalah ketika ada siswa-siswa sekolah-sekolah negeri lainnya, LSM, dan komunitas agama lain yang menawarkan diri untuk membuat ''barisan pagar manusia'' (human chain) bersama-sama umat Islam untuk menjaga sekolah Islam yang mereka dirikan, dan perumahan Muslim serta masjid.

Sejak saat itu, barulah mereka menyadari bahwa mayoritas rakyat AS berada di pihak mereka. Mereka juga tertolong dengan adanya pernyataan Walikota Chicago, Richard Daley, bahwa Pemerintah dan aparat kota Chicago tidak akan mentoleransi tindakan diskriminatif dan intimidasi terhadap etnis atau agama apa pun.

''Kok bisa begitu, ya?'' tanya seorang peserta rombongan dari Indonesia. ''Resepnya tidak sulit,'' jawab mereka. Komunitas Muslim di Negara Bagian Illinois, khususnya di the Greater Chicago, sudah menjadi aktivis politik yang mapan di Chicago.

photo
Ilustrasi warga Amerika Serikat. Minnesota Public Radio via AP)

Mereka sudah lama menjalin hubungan dengan pemda, walikota, universitas, kelompok bisnis, polisi, media, masyarakat setempat, dan dengan kelompok-kelompok agama lain. Ada sekitar 400 ribu Muslim yang bergabung di 50 kelompok organisasi masyarakat Islam di Chicago dan sekitarnya (8 persen dari seluruh umat Islam di AS). Politisi AS yang ingin berkampanye Chicago mau tidak mau harus ''melamar'' komunitas Muslim yang berpengaruh tersebut.

Komunitas Islam di Chicago juga mandiri dan aktif melakukan kegiatan sosial. Menurut Amina, yang didampingi sekitar 20 tokoh masyarakat di daerah tersebut, mereka mempunyai program mengirim pramuka Muslim yang bekerja sama dengan McDonald's untuk membantu kelompok ekonomi sulit, dari berbagai agama. ''Dengan sikap toleransi, sesuai ajaran kita, alhamdulillah penduduk setempat dapat menerima kita.''

Saya menyatakan bahwa di Indonesia toleransi dibudayakan sejak dini, termasuk dalam kurikulum sekolah. Saya mencontohkan bahwa keponakannya saya, Indy, yang bersekolah di SD Al Izhar harus menjawab ulangan yang pertanyaannya antara lain:

Apakah Anda merayakan Lebaran dapat menerima tamu dari agama lain?; Apabila tetangga yang beragama Kristen merayakan Natal, apakah Anda akan mengucapkan selamat?; dan sebagainya.

Mereka tidak mau kalah. ''Kami juga.'' Pengetahuan umum mengenai agama-agama lain diajarkan di kelas. Seorang guru menceritakan bahwa setelah peristiwa 11 September, banyak siswa Islamic Foundation yang merasa bingung dan trauma.

Karenanya, guru-guru Muslim segera berdialog dengan siswa untuk membahas mengenai hubungan antara Muslim dan non-Muslim, serta menekankan tradisi kedekatan (closeness) dan toleransi antara umat Islam dan pengikut agama lainnya.

Sejak itu pula, Islamic Foundation lebih sering melakukan kegiatan antaragama. Mereka membentuk Komite Dakwah yang bertugas sebagai komite perantara antara komunitas Islam dan masyarakat setempat, antara lain dengan program mengundang siswa sekolah-sekolah negeri lain beserta orang tua mereka agar mereka lebih memahami jati diri Islam yang sebenarnya: Penuh semangat kedamaian, persaudaraan, dan kaya budi pekerti.

sumber : Harian Republika
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement