Monday, 24 Rajab 1442 / 08 March 2021

Monday, 24 Rajab 1442 / 08 March 2021

Melacak Covid-19 Lewat Aplikasi

Selasa 09 Jun 2020 16:01 WIB

Red: Indira Rezkisari

Warga menunjukan aplikasi Peduli Lindungi di Pasar Raya Salatiga, Jawa Tengah. Penggunaan aplikasi Covid-19 bisa membantu melindungi diri dari bahaya virus corona.

Warga menunjukan aplikasi Peduli Lindungi di Pasar Raya Salatiga, Jawa Tengah. Penggunaan aplikasi Covid-19 bisa membantu melindungi diri dari bahaya virus corona.

Foto: Antarafoto
Aplikasi bisa dimanfaatkan membantu melindungi diri dari Covid-19.

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Nugroho Habibi, Kamran Dikarma, Antara

Ada banyak cara untuk melindungi diri dari bahaya Covid-19. Selain mematuhi protokol kesehatan, publik juga bisa mengunduh sejumlah aplikasi untuk melindungi diri.

Salah satu aplikasi yang terbaru keluar dari Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) Kementerian Perhubungan yang akan memperkenalkan aplikasi Lacak Covid (L-Cov) bagi pengguna transportasi di Jabodetabek. Aplikasi itu dirancang agar pengguna transportasi dapat memperoleh informasi tentang potensi penularan Covid-19 di sekitar lingkungan mereka.

Kepala BPTJ Polana B. Pramesti menjelaskan aplikasi L-Cov akan diluncurkan Rabu (10/6). Dia mengatakan, aplikasi itu telah memperoleh dukungan Satuan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 dan juga Pemerintah Daerah Provinsi DKI Jakarta.

Polana berharap, aplikasi dapat membantu mobilitas masyarakat melakukan pencegahan dini terhadap potensi penyebaran virus Covid-19 baik menggunakan angkutan umum massal maupun kendaraan pribadi. Pasalnya, sampai saat ini, belum ditemukan vaksin virus corona.

"Oleh karenanya pencegahan dini khususnya ketika sedang bermobilitas menjadi penting," ujar Polana dalam keterangannya, Selasa (9/6).

Dia menguraikan, aplikasi itu memiliki keunggulan untuk mengetahui potensi penularan Covid-19 secara mobile khususnya di sepanjang rute jalan yang akan dilalui. “Melalui fitur pantau jalan, pengguna dapat mengetahui potensi penyebaran Covid-19 secara realtime yang terdapat di sepanjang rute yang akan dilalui,” jelas Polana.

Selain itu, pengguna akan mendapat informasi tentang peta persebaran pasien Covid-19 berupa jumlah pasien positif, PDP, dan ODP di sekitar pengguna aplikasi. “Dengan catatan selain GPS aktif, pengguna juga berada di wilayah yang sudah tersedia datanya,” ungkapnya.

Polana mengatakan, aplikasi L-Cov juga memiliki fitur yang berfungsi untuk mendeteksi potensi penularan Covid 19 pada fasilitas transportasi umum yang akan digunakan masyarakat. Ke depan, Polana menyebut, L-Cov akan dilengkapi dengan teknologi QR code.

"Pengguna dapat melakukan pemindaian terhadap sarana dan prasarana transportasi umum untuk mengidentifikasi potensi penularan Covid-19," jelas dia.

Dia menambahkan, peluncuran aplikasi ini untuk membuat masyarakat lebih leluasa dalam bermobilitas. Mengingat, penyebaran Covid-19 sangat bergantung kepada mobilitas masyarakat.

"Maka diharapkan jika potensi penularan Covid-19 dapat diketahui lebih dini masyarakat bisa bersikap lebih bijak dan hati-hati untuk memutuskan berkegiatan di luar rumah atau lebih memilih untuk tinggal di rumah saja,” kata Polana.

Aplikasi lain terkait Covid-19 yang sudah lebih muncul di Indonesia adalah PeduliLindungi. Staf Khusus Kementerian BUMN Arya Sinulingga beberapa waktu lalu mengungkapkan aplikasi PeduliLindungi membantu masyarakat mengetahui daerah yang akan dikunjungi merupakan zona merah Covid-19 atau bukan.

Dengan menggunakan fitur bluetooth, maka jangkauannya kecil. Aplikasi ini dapat membantu masyarakat mengetahui apakah ada orang yang terkena Covid-19, berkategori pasien dalam pengawasan (PDP) dan sebagainya di daerah tersebut.

Aplikasi ini membantu masyarakat untuk mengetahui apakah daerah yang mereka kunjungi merupakan zona merah pandemi Covid-19, kuning atau hijau. "Malah ke depan saya melihat aplikasi memiliki pengaruh besar ke depan, kalau vaksin belum ditemukan maka masyarakat membutuhkan radar baru di mana area yang akan dikunjungi merupakan zona merah atau bukan," kata Arya yang juga merangkap sebagai Satgas Covid-19 Kementerian BUMN.

Cara kerjanya, saat PeduliLindungi dipasang di ponsel orang yang positif terjangkit Covid-19, aplikasi ini memiliki fitur tracking, pelacakan, dapat melihat 'log' pergerakan orang yang positif terinfeksi virus corona selama 14 hari ke belakang. Berdasarkan hasil tracking dan tracing (penelusuran), aplikasi akan memberikan peringatan kepada nomor-nomor ponsel yang berada di sekitar pasien positif Covid-19 untuk segera melakukan protokol Orang Dalam Pemantauan (ODP).

Lalu ada pula aplikasi mandiri bernama Lawan Covid FC19S untuk melacak penyebaran virus corona di Tanah Air. Aplikasi tersebut telah tersedia di Google Play Store.

"Aplikasi ini gratis, tinggal akses Google Playstore, dan install," kata pendiri dan inisiator Kita Lawan Covid-19, Connie Rahakundini Bakrie.

Selain di Google Playstore, LawanCovid19 juga bisa didapatkan dengan mendaftar di situs www.kitalawancovid19.com. Dari situ, aplikasi Lawan Covid FC19S bisa diunduh di ponsel pintar.

"Setelah diunduh di ponsel pintar, pengguna cukup memasukkan data tentang suhu tubuh dan menjawab beberapa pertanyaan penting dengan model ya dan tidak. Dengan kecerdasan buatan yang tertanam di dalam Lawan Covid FC19S, aplikasi akan langsung menunjukkan status kedaruratan kita," papar Connie.

Jika berada di zona merah (risiko tinggi), maka aplikasi akan langsung menghubungkan pengguna ke nomor darurat (Kemenkes 119, BNPB 117 dan 102). Jika berada di zona kuning aplikasi akan langsung menyarankan pengguna untuk pergi ke RS rujukan. Selain itu, aplikasi juga akan memberi saran agar pengguna dapat tetap tenang bila berada di zona hijau.

Penggunaan aplikasi untuk melacak Covid-19 memang sudah banyak diaplikasikan di sejumlah negara. Italia misalnya yang telah meluncurkan aplikasi seluler untuk melacak infeksi virus corona di empat kawasan sebelum menyebar lebih luas. Meskipun terdapat banyak penolakan dari warga terhadap aplikasi yang khawatir melanggar privasi.

Sejak awal Mei Italia secara perlahan mulai melonggarkan pembatasan dan kegiatan usaha. Tetapi ada kekhawatiran bahwa infeksi bisa kembali melonjak jika warga tidak mematuhi aturan jaga jarak sosial.

Aplikasi yang dijuluki "Immuni" (imun/kebal) bertujuan mengurangi risiko seperti lonjakan kasus dengan merekam ketika pengguna berdekatan jarak dengan yang lainnya. Ponsel mereka akan bertukar kode melalui teknologi bluetooth.

Jika seseorang terbukti positif Covid-19, aplikasi itu akan memberitahu kontak-kontak terbaru untuk melakukan isolasi dan tes, sehingga membantu otoritas kesehatan bereaksi cepat dan membatasi penularan. "Dengan cara ini kita akan mampu mengidentifikasi seseorang yang sedang duduk di dalam bus di sebelah orang yang terinfeksi," kata Pier Luigi Lopalco, kepala unit darurat Covid-19 di kawasan Puglia yang ikut merintis aplikasi tersebut, kepada Reuters.

Terjadi perdebatan hebat di Italia atas potensi pelanggaran privasi. Namun pemerintah mengatakan data pribadi pengguna tidak akan dikumpulkan dan aplikasi tersebut tidak akan memberitahukan lokasi keberadaan mereka.

Penggunaan aplikasi untuk melindungi diri dari Covid-19 berguna ketika ternyata berdekatan dengan penderita tanpa gejala. Spesialis penyakit menular dan profesor epidemiologi dari Yale School of Medicine Dr. Manisha Juthani mengatakan banyak orang dengan Covid-19 yang tampaknya asimtomatis, sebenarnya memiliki gejala ringan atau atipikal.

Bisa pula mereka pada tahap pra-gejala. Pra-gejala mengacu pada tahap awal suatu penyakit sebelum gejala berkembang. Sedangkan asimtomatis mungkin merujuk pada tidak adanya gejala selama infeksi.

Juthani, yang belum meninjau laporan WHO mengenai kasus asimtomatis dan penyebarannya mengatakan temuan itu tidak selalu tidak konsisten dengan perkiraan lain mengenai bagaimana korona secara pra-gejala dapat terjadi. Sebuah penelitian pada April lalu menemukan bahwa pelepasan virus, ketika seseorang mungkin dapat menulari orang lainnya, dapat dimulai dua sampai tiga hari sebelum gejala muncul.

Selain itu, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (AS) memperkirakan dalam skenario perencanaan bahwa 40 persen penularan Covid-19 terjadi sebelum orang merasa sakit.  “Pasien-pasien ini tidak menunjukkan gejala. Sebaliknya mereka menyebarkan penyakit sebelum menjadj gejala. Secara keseluruhan, temuan ini menunjukkan bahwa jika kita mengarantina dan mengikuti jejak orang yang bergejala, kita dapat membuat pandemi yang signifikan,” kata Juthani, seperti dikutip laman CNN.

photo
Beda Herd Immunity Alami dan Via Vaksinasi - (Republika)

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA