Senin 08 Jun 2020 17:18 WIB

Aksi Solidaritas George Floyd di London Berujung Bentrok

Seorang demonstran ditangkap selama aksi solidaritas George Floyd di London.

Red: Nur Aini
Demonstran menyalakan suar selama aksi protes Black Lives Matter di London, Inggris, Ahad (7/6). Aksi tersebut sebagai tanggapan atas pembunuhan George Floyd oleh petugas polisi di Minneapolis, AS, yang telah menyebabkan protes di banyak negara dan di seluruh dunia.
Foto: AP / Alberto Pezzali
Demonstran menyalakan suar selama aksi protes Black Lives Matter di London, Inggris, Ahad (7/6). Aksi tersebut sebagai tanggapan atas pembunuhan George Floyd oleh petugas polisi di Minneapolis, AS, yang telah menyebabkan protes di banyak negara dan di seluruh dunia.

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Bentrokan terjadi antara demonstran dan polisi selama protes atas kematian George Floyd di London pada Ahad (7/6) waktu sempat.

Demonstran berunjuk rasa di depan kedutaan Amerika Serikat dan berlanjut di dekat kediaman perdana menteri. Beberapa demonstran melemparkan botol dan batu ke arah polisi. Setidaknya satu petugas menderita luka kepala dan satu demonstran ditangkap selama protes.

Baca Juga

Selama demonstrasi yang berlangsung pada Rabu dan Sabtu, puluhan demonstran ditangkap dan setidaknya 14 petugas polisi terluka. Pernyataan itu muncul di latarbelakangi oleh pembunuhan seorang pria kulit hitam, George Floyd, di Minnesota, Amerika Serikat di tangan seorang polisi kulit putih.

Floyd, seorang warga Afrika-Amerika berusia 46 tahun, terekam dalam video sedang terengah-engah dan meminta tolong ketika Derek Chauvin, seorang perwira polisi kulit putih, berlutut di lehernya selama hampir sembilan menit.

Menurut otopsi independen, Floyd terbunuh akibat sesak napas karena tekanan yang berkelanjutan. Kematiannya memicu protes massa yang berujung ricuh di seluruh bagian AS.

sumber : Anadolu Agency
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement