Tuesday, 23 Zulqaidah 1441 / 14 July 2020

Tuesday, 23 Zulqaidah 1441 / 14 July 2020

BMKG: Waspadai Potensi Gempa dari Sesar Aktif Segmen Aceh

Sabtu 06 Jun 2020 23:15 WIB

Rep: Kiki Sakinah/ Red: Agus Yulianto

Dr. Daryono (Kepala Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKG)

Dr. Daryono (Kepala Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKG)

Foto: Dok. Pri
Daratan Aceh merupakan salah satu kawasan aktif gempa di Indonesia.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kepala Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono, mengingatkan masyarakat agar mewaspadai potensi gempa dari sesar aktif segmen Aceh. Peringatan ini dikeluarkan setelah pada Kamis (4/6) pukul 05.30.58 WIB, gempa Aceh dan Sabang berkekuatan M 4,9 terjadi dan berdampak merusak belasan bangunan serta menyebabkan beberapa orang luka ringan di Sabang.

Daryono mengatakan, bahwa Segmen Aceh menjadi salah satu segmen sesar aktif yang patut diwaspadai. Ia menuturkan, bahwa daratan Aceh merupakan salah satu kawasan aktif gempa di Indonesia. Lokasi Kota Banda Aceh sendiri diapit oleh 2 segmen sesar aktif, yaitu Segmen Aceh dan Segmen Seulimeum. Ke arah selatan, 2 segmen sesar aktif ini selanjutnya bertemu dan membentuk Segmen Tripa.

Sejarah mencatat, Segmen Tripa pernah memicu gempa merusak berkekuatan M 7,3 pada 23 Agustus 1936 yang menimbulkan korban jiwa. Belum lama ini, Segmen Tripa juga memicu gempa berkekuatan M 5,1 pada 8 Februari 2018 yang merusak beberapa rumah di Geumpang, Pidie. 

Sementara itu, Segmen Seulimeum juga pernah memicu gempa merusak pada 2 April 1964 dengan kekuatan M 6,5. Dampak kerusakan yang ditimbulkan gempa saat itu mencapai skala intensitas VIII MMI banyak rumah rusak tingkat sedang hingga berat.

Dari ketiga segmen sesar di Aceh tersebut, hanya Segmen Aceh saja yang belum memiliki catatan sejarah gempa kuat. Segmen Aceh adalah segmen sesar aktif yang melintas di sebelah barat Kota Banda Aceh, berarah tenggara-barat laut. Segmen sesar ini memiliki laju pergeseran 2 milimeter per tahun dengan magnitudo tertarget M 7,2.

Selama ini di sepanjang Segmen Aceh sepi dari aktivitas gempa signifikan. Kondisi semacam ini, menurutnya, dapat disebut sebagai zona kekosongan gempa atau “seismic gap”. Daryono mengatakan, kekosongan gempa ini diduga karena masih dalam proses akumulasi medang tegangan (stress) di sepanjang jalur sesar. Hal itu menilik pada aktivitas gempa Kamis pagi lalu dengan kekuatan M 4,9, yang artinya masih jauh dari magnitudo tertargetnya. 

"Informasi ini tidak bermaksud menakut-nakuti masyarakat, tetapi hanya sekedar mengingatkan bahwa potensi gempa itu ada dan harus direspon dengan upaya mitigasi yang nyata guna meminimalkan risiko jika terjadi gempa. Salah satu upaya nyata dalam mewaspadai terjadinya gempa kuat adalah melakukan upaya sosialisasi yang berkelanjutan kepada masyarakat terkait mitigasi bahaya gempabumi agar masyarakat memahami cara selamat saat terjadi gempa," kata Daryono, dalam keterangan yang diterima Republika.co.id, Sabtu (6/6).

Namun demikian, Daryono menekankan bahwa upaya mitigasi bahaya gempa yang paling utama sebenarnya adalah mitigasi struktural dengan cara membangun bangunan tahan gempa. Hal itu karena peristiwa gempabumi sebenarnya tidak membunuh dan melukai, tetapi bangunan tembok dengan struktur lemah yang kemudian roboh saat terjadi gempa kuat adalah penyebab timbulnya korban jiwa. 

"Untuk itu, jika kita belum mampu membangun rumah tahan gempa maka salah satu alternatifnya adalah dengan membangun bangunan rumah dari bahan ringan dari kayu atau bambu yang didisain menarik," lanjutnya. 

Setelah gempa Aceh dan Sabang berkekuatan M 4,9 terjadi pada Kamis lalu, hasil monitoring BMKG hingga Sabtu siang menunjukkan aktivitas gempa susulan yang terjadi sebanyak 23 kali. Magnitudo gempa susulan terbesar M 3,8 dan terkecil M 2,5. Menurut Daryono, trend gempa susulan yang terjadi tampak terus melemah kekuatannya.

Ia menambahkan, bahwa gempa Aceh dan Sabang memiliki tipe yang diawali dengan gempa pendahuluan. Beberapa saat sebelum terjadi gempa utama didahului aktivitas gempa kecil sebagai gempa pendahuluan (foreshocks), kemudian disusul gempa utama (mainshock), dan selanjutnya diikuti serangkaian gempa susulan (aftershocks). Menurutnya, hasil monitoring gempa BMKG selama Mei 2020 di wilayah sekitar Banda Aceh ini sudah tampak menunjukkan adanya kluster peningkatan aktivitas seismisitas yang aktif. 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA