Monday, 22 Zulqaidah 1441 / 13 July 2020

Monday, 22 Zulqaidah 1441 / 13 July 2020

Hidroksiklorokuin tak Bantu Selamatkan Nyawa dari Covid-19

Sabtu 06 Jun 2020 20:33 WIB

Rep: Puti Almas/ Red: Reiny Dwinanda

Pil hidroksiklorokuin yang dikenal sebagai obat antimalaria banyak digunakan sebagai pengobatan Covid-19.

Pil hidroksiklorokuin yang dikenal sebagai obat antimalaria banyak digunakan sebagai pengobatan Covid-19.

Foto: EPA
Bukti yang mendukung efektivitas hidroksiklorokuin untuk Covid-19 terus melemah.

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- hidroksiklorokuin, obat malaria yang telah diuji sebagai pengobatan untuk infeksi virus corona jenis baru (Covid-19), mendapat perhatian dunia setelah digembar-gemborkan oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Meski demikian, sejulah studi tentang efektivitas obat ini terus dilakukan dan hasilnya jauh dari harapan.

Dilansir BBC, hidroksiklorokuin dalam uji coba yang terbaru dilakukan menunjukkan bahwa obat ini tidak dapat menyelamatkan nyawa. Saat ini, hidroksiklorokuin telah diterik dari percobaan pemulihan di Inggris, yang dilakukan oleh tim dari Oxford University.

Temuan dari studi telah diteruskan kepada Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Pada awal pandemi Covid-19, penelitian di laboratorium menunjukkan bahwa obat malaria dapat mempengaruhi virus. Studi skala kecil di China dan Perancis kemudian mengisyaratkan bahwa itu mungkin membantu pasien.

Ada banyak harapan dari hidroksiklorokuin. Selain karena obat dengan harga yang murah dan aman digunakan untuk mengobati malaria serta kondisi seperti lupus dan radang sendi.

Namun, bukti yang mendukung penggunaannya untuk virus corona jenis baru terus melemah. Karena itu, data dari percobaan Pemulihan sangat penting. Ini adalah yang pertama untuk menguji obat pada sejumlah besar orang dalam uji klinis menyeluruh.

Uji coba terbaru melibatkan lebih dari 11 ribu pasien Covid-19, di mana 1.542 diantaranya diberikan hidroksiklorokuin. Karena meningkatnya kontroversi tentang obat, regulator obat Inggris meminta para peneliti dari Universitas Oxford untuk meninjau data.
 
Hasilnya menunjukkan 25,7 persen orang yang menggunakan hydroxychloroquine telah meninggal setelah 28 hari. Ini dibandingkan dengan 23,5 persen yang diberi perawatan rumah sakit standar.

"Ini bukanlah pengobatan untuk Covid-19," ujar Martin Landray, seorang profesor yang menjadi bagian dari uji coba Pemulihan.

Temuan ini muncul setelah keprihatinan mendalam dalam penerbitan akademis yang menyebabkan artikel ditarik kembali di Lancet, salah satu jurnal medis paling bergengsi. Itu telah menerbitkan sebuah studi yang melibatkan hampir 15 ribu pasien, dari ratusan rumah sakit, diberikan hydroxycholoroquine atau obat klorokuin serupa.

Disimpulkan dalam studi, obat tersebut tidak bermanfaat dan meningkatkan risiko irama jantung yang tidak teratur dan kematian. Publikasi itu menyebabkan WHO menangguhkan uji coba obat antimalaria.

Data telah dikumpulkan dari rumah sakit oleh perusahaan perawatan kesehatan Surgisphere yang kurang dikenal.

Peter Horby, dari Oxford University yang menjalankan uji coba Pemulihan, mengatakan hidroksiklorokui dan klorokuin telah menerima banyak perhatian, serta  digunakan secara luas untuk merawat pasien Covid-19 meskipun tidak ada bukti yang baik. Tetapi, ia menekankan bahwa cukup mengecewakan bahwa obat ini terbukti tidak efektif, itu memungkinkan peneliti untuk memfokuskan perawatan dan melakukan studi lebih lanjut pada obat yang lebih menjanjikan.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA