Saturday, 13 Zulqaidah 1441 / 04 July 2020

Saturday, 13 Zulqaidah 1441 / 04 July 2020

Uji Klinis Kandidat Obat Covid-19 dari India Masuki Fase II

Sabtu 06 Jun 2020 20:08 WIB

Rep: Puti Almas/ Red: Reiny Dwinanda

Uji klinis kandidat obat Covid-19 milik Sun Pharmaceutical Industries, India tengah memasuki fase dua . (ilustrasi)

Uji klinis kandidat obat Covid-19 milik Sun Pharmaceutical Industries, India tengah memasuki fase dua . (ilustrasi)

Foto: Livescience
India telah memulai uji klinis fase dua AQCH sebagai kandidat obat Covid-19.

REPUBLIKA.CO.ID, MUMBAI -- AQCH, sebuah obat yang sedang dikembangkan untuk demam berdarah dilaporkan menunjukkan efek antivirus yang luas. Temuan ini membuatnya kemudian diuji lebih lanjut sebagai pilihan pengobatan potensial untuk infeksi virus corona jenis baru (Covid-19).

Sun Pharmaceutical Industries telah memulai uji klinis fase kedua untuk AQCH atau juga disebut sebagai obat fitofarmasi (dikembangkan dari tanaman) untuk pengobatan Covid-19. Perusahaan farmasi di India ini mendapat persetujuan dari Pengawas Obat-obatan Umum negara (DCGI) pada April lalu.

Uji klinis akan dilakukan di 12 pusat di India pada 210 pasien dengan durasi 10 hari. Hasil diharapkan dapat terlihat pada Oktober mendatang.

Studi keamanan AQCH terhadap manusia juga dilaporkan telah selesai. Obat diyakini aman pada dosis yang direkomendasikan untuk studi fase kedua.

Direktur Pelaksana Uji Klinis Dilip Shanghvi mengatakan itu adalah obat fitofarmasi pertama yang disetujui untuk uji klinis oleh DCGI sebagai pengobatan potensial untuk Covid-19. Ia mengungkapkan AQCH telah menunjukkan efek anti SARS-CoV-2, virus yang menyebabkan infeksi penyakit Covid-19 dalam studi in-vitro yang dilakukan bekerjasama dengan Pusat Internasional untuk Rekayasa Genetika dan Bioteknologi (ICGEB) di Italia.

"Hasil ini  dikombinasikan dengan informasi tentang mekanisme aksi melalui in-vitro dan penelitian pada hewan kecil memberi kami kepercayaan diri untuk mengevaluasi opsi pengobatan potensial ini untuk pasien COVID-19," ujar Shanghvi, seperti dilansir Times Now News, Sabtu (6/6).

Renu Swarup, Departemen Bioteknologi, Kementerian Sains dan Teknologi India mengatakan upaya untuk mengembangkan obat yang aman, efektif, dan terjangkau terhadap demam berdarah dimulai sekitar 13 tahun lalu. Tim peneliti kemudian berkolaborasi dengan cepat memulai studi untuk pengembangan obat Covid-19.

"Saya berharap tim yang berkolaborasi berhasil dalam melakukan uji klinis melawan Covid-19 dan pengembangan obat-obatan fitofarmasi terhadap penyakit menular lainnya," jelas Swarup.

Shekhar C Mande, Direktur Jenderal Dewan Riset Ilmiah dan Industri (CSIR) mengatakan kolaborasi dengan Sun Pharma dalam membawa AQCH ke dalam uji klinis untuk Covid-19 sangat diapresiasi. Kerja sama ini sejalan dengan dasar pemikiran ilmiah organisasi tersebut, untuk menemukan cara tercepat mengembangkan obat melawan SARS-CoV-2.
 

Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA