Sunday, 14 Zulqaidah 1441 / 05 July 2020

Sunday, 14 Zulqaidah 1441 / 05 July 2020

Perang Melawan Hoax tentang Covid-19 di Indonesia

Sabtu 06 Jun 2020 11:13 WIB

Red: A.Syalaby Ichsan

Dr Rohadi

Dr Rohadi

Foto: Dok Pribadi
Tenaga medis harus memberikan informasi apapun berdasarkan kaidah ilmiah

Oleh Dr. Rohadi Sp.BS, FICS, FINPS (Ketua IDI Kota Mataram, Ketua BSMI Provinsi NTB)

REPUBLIKA.CO.ID, Kehadiran media sosial seperti facebook, instagram, line, whatsaap membuat kita lebih mudah mendapatkan informasi ketimbang dari media cetak seperti Koran dan majalah. Namun kemudahan yang kita peroleh ternyata membawa dampak yang serius. Media sosial ternyata menjadi tempat yang sumber tumbuhnya Hoax.

Hoax merupakan berita bohong yang merugikan orang lain. Hal itu disebabkan informasi tersebut dapat menilai seseorang secara sepihak tanpa mengetahui kebenarannya Sejak Virus corona yang menjangkit Negara china dan sebagian besar Negara-negara didunia termasuk Indonesia. Banyak sekali temuan berita mengenai virus tersebut yang ternyata merupakan informasi palsu.

Dari sinilah sesungguhnya peran kaum terpelajar Indonesia untuk tidak mudah tergiring oleh opini yang beredar di media sosial. Tidak mudah percaya pada informasi yang sedang diperbincangkan di masyarakat. Sebab kaum terpelajar ini memiliki sikap kritis dalam melihat setiap persoalan yang terjadi di sekelilingnya. Tidak boleh apatis atau menerima apa adanya tanpa menganalisis, menelaah terlebih dahulu setiap berita yang dikonsumsinya.

Sudah menjadi kewajiban besar kaum terpelajar ini membawa masyarakat menuju perubahan kearah yang lebih baik. Dalam Menjaga kenyamanan masyarakat terkait maraknya hoax virus tersebut ada beberapa hal yang perlu mereka lakukan bukan sebaliknya ikut menyebarkan dan menulis Hoax.

Pertama ialah bijak dalam memanfaatkan internet. Gunakanlah internet secukupnya saja. Melihat begaimana media sosial saat ini menjadi ladang subur tumbuhnya hoax, maka untuk mencegah peluang besar kita terpengaruh sebaiknya membatasinya dengan kegiatan yang lebih positif, seperti membaca buku dan sebagainya.

Kedua adalah membudayakan membaca yang baik dan benar. Agar mendapatkan inti sari dari sebuah berita, kita dituntut teliti memahami keseluruhan teks tersebut. Maka jangan membaca hanya sepenggal tetapi secara utuh mulai dari judul sampai kalimat akhir. Supaya tidak mudah terpedaya oleh judul-judul berita yang isinya bisa jadi merupakan provokasi.

Ketiga ialah jangan menyebarluaskan konten hoax. Jangan mudah tergoda untuk membagikan tautan.Bahaya betul jika seorang yang kita anggap terpelajar malah ikut-ikutan dalam menyebarluaskan sebuah hoax. Oleh karena itu kawan-kawan kaum terpelajar Indonesia harus benar-benar menjadi filter ditengah-tengah masyarakat. Memberikan informasi yang kredibel bagi masyarakat. Menjadi tameng dalam menjegah hoax corona yang mencoba merusak ketertiban masyarakat Indonesia.

Disinilah peran kaum terpelajar ini sebagai agen perubahan dan sebagai agen control sosial masyarakat dapat memberikan suasana disiplin, aman, tentram ditengah maraknya hoax corona. Demi membantu mewujudkan Negara Indonesia yang lebih baik lagi.

Wahai kawan-kawan tenaga medis dan paramedis, hendaknya memberikan informasi apapun yang berhubungan dengan kesehatan harus berdasarkan kaidah ilmiahnya…Harus berdasarkan Evidence Base Medicine dan Value Base Medicine, Bukan Testimoni Base Medicine. Evidence-based medicine (EBM) adalah suatu pendekatan medik yang didasarkan pada bukti-bukti ilmiah terkini untuk kepentingan pelayanan kesehatan penderita.

photo
Seorang petugas medis memeriksa pasien anak di IGD salah satu Rumah Sakit Di Mataram, NTB, Rabu (3/6/2020). Juru Bicara Tim Gugus Tugas Penanganan COVID-19 NTB I Gede Putu Aryadi mengatakan jumlah tenaga kesehatan (Nakes) yang terpapar COVID-19 di NTB per tanggal 31 Mei 2020 sebanyak 132 orang yang tersebar di sejumlah rumah sakit dan satu Puskesmas di wilayah NTB - (Antara/Ahmad Subaidi)

Dengan demikian, dalam praktek, EBM memadukan antara kemampuan dan pengalaman klinik dengan bukti-bukti ilmiah terkini yang paling dapat dipercaya. EBM merupakan keterpaduan antara Best research evidence dan Clinical expertise. Identifikasi evidence yang lebih baru yang mungkin bisa berbeda dengan apa yang telah diputuskan sebelumnya, juga untuk menjamin agar intervensi yang akhirnya diputuskan betul-betul memberi manfaat yang lebih besar dari resikonya (“do more good than harm”).

Demikian pula menulis opini yang berarti akan menyebarluaskan gagasan ke ruang publik dimanapun termasuk koran cetak, koran online maupun media lain. Menulis opini berarti memberikan wawasan dan pengetahuan untuk orang lain. Berbagai informasi, data, juga pengalaman.  Karena itulah, kegiatan menulis opini mestinya kegiatan yang dilakukan dengan hati-hati. Bikinlah Opini sesuai kaidah ilmiah dan ada patokan ilmiahnya. Beropinilah sesuai Bidang yang di Kuasai..Jangan mengeluarkan opini yang bukan bidangnya.

Hoax yang beredar dari berbagai Daerah. Yang terbaru dari Manado dan Mataram ini sangat menggangu dan menyakiti tenaga medis yang sudah berpeluh melawan Covid-19. Ayo Masyarakat jangan Mudah termakan Hoax…ini membahayakan.  (Dirangkum dari Berbagai Sumber).

 

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
Disclaimer: Retizen bermakna Republika Netizen. Retizen adalah wadah bagi pembaca Republika.co.id untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal. Republika melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda baik dalam dalam bentuk video, tulisan, maupun foto. Video, tulisan, dan foto yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim. Silakan kirimkan video, tulisan dan foto ke retizen@rol.republika.co.id.
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA