Sunday, 14 Zulqaidah 1441 / 05 July 2020

Sunday, 14 Zulqaidah 1441 / 05 July 2020

Ini Hubungan Lelaki Botak dengan Covid 19

Sabtu 06 Jun 2020 08:05 WIB

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Joko Sadewo

botak

botak

Foto: passionmagz.com
Lelaki Botak Lebih Berisiko Terhadap Covid-19 Berat

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA — Laki-laki dengan masalah kebotakan memiliki kecenderungan lebih berisiko terkena Covid-19 bergejala berat. Kebotakan dinilai sebagai prediktor sempurna untuk tingkat keparahan penyakit yang disebabkan virus corona tersebut.

Temuan ini disimpulkan dari dua studi yang dilakukan oleh peneliti dari Brown University Prof Carlos Wambier. Kedua studi ini dilakukan di Spanyol karena Wambier menemukan cukup banyak laki-laki dengan masalah kebotakan yang menjalani rawat inap di rumah sakit akibat terkena Covid-19.

Dari 41 pasien yang diperiksa dalam studi pertama, sebanyak 71 persennya diketahui memiliki pola kebotakan. Persentase ini jauh lebih tinggi dari masalah kebotakan yang umumnya ditemukan pada laki-laki dalam rentang usia yang serupa dengan para pasien tersebut.

Pada studi kedua yang dimuat dalam Journal of the American Academy of Dermatology, Wambier menemukan hampir 80 persen dari 122 pasien Covid-19 laki-laki di Madrid mengalami kebotakan.

"Kami berpikir androgen atau hormon laki-laki pasti merupakan pintu gerbang bagi virus (SARS-CoV-2) untuk masuk ke sel-sel kita," jelas Wambier, seperti dilansir Independent.

Studi ini dilakukan karena sebelumnya ditemukan bukti ilmiah bahwa laki-laki memiliki risiko kematian akibat Covid lebih besar dibandingkan perempuan. Ilmuwan meyakini bahwa hormon laki-laki androgen tak hanya dapat menyebabkan rambut rontok, tetapi juga meningkatkan kemampuan virus corona untuk menyerang sel.

Dari temuan ini, beberapa peneliti mulai melakukan investigasi untuk mengetahui apakah terapi yang berfungsi menekan hormon androgen bisa membantu pasien Covid-19. Terapi hormon seperti ini biasanya digunakan untuk kasus lain, seperti kanker prostat.

Terlepas dari itu, temuan yang didapatkan Wambier tentu masih memiliki kekurangan. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian yang lebih lanjut demi mendapatkan lebih banyak bukti sebelum mulai mempertimbangkan terapi hormon untuk kasus Covid-19.

"Bukti yang lebih banyak dibutuhkan sebelum kita bisa mengetahui apakah terapi hormon akan menjadi terapi yang efektif untuk Covid-19," pungkas Head of Policy Prostate Cancer UK Karen Stalbow.


BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA