Saturday, 13 Zulqaidah 1441 / 04 July 2020

Saturday, 13 Zulqaidah 1441 / 04 July 2020

In Picture: Dapatkah Kawasan Pecinan di Australia Bertahan dari Pandemi?

Sabtu 06 Jun 2020 19:30 WIB

Red:

Sudah lebih dari 100 tahun lamanya mereka menjadi bagian dari Australia.

Sudah lebih dari 100 tahun lamanya mereka menjadi bagian dari Australia. Meski pandemi COVID-19 sempat memperlambat kegiatan mereka, jauh di lubuk hati terdalam, mereka percaya akan ada pemulihan.

Mereka sudah pernah melaluinya.

Baca cerita ini dalam Bahasa Inggris atau Bahasa Mandarin.

 

 

 

Hari itu, udara dingin musim gugur menerpa daerah bagian barat Sydney.

Seorang petani bernama Rita Kelman sedang sibuk memetik timun di kebun Wallacia di daerah Sydney Basin, yang dikenal sebagai daerah "penghasil makanan".

Hasil panen dari perkebunan di daerah tersebut sudah sejak lama memberi makan warga Sydney dan menyediakan bahan baku memasak bagi restoran dan kafe China di sana.

Namun, sejak pusat bisnis yang ikonik seperti Kawasan Pecinan atau 'Chinatown' banyak yang terpaksa tutup, perkebunan yang berperan di baliknya juga menjadi korban krisis tersebut.

 

 

 

 

 

"Saya tahu banyak perkebunan yang dikelola warga China sangatlah menderita secara keuangan," ungkap perempuan berusia 65 tahun ini kepada ABC.

"Banyak petani China terpaksa harus menghancurkan persediaan [hasil panen] mereka yang berlebih karena restoran tutup, sehingga mereka tidak tahu harus menjual ke mana."

Demi memburu peluang di sebuah negara baru, perempuan yang dulunya berprofesi sebagai seorang perawat di China ini bermigrasi ke Australia di tahun 1980 dan terjun dalam dunia pertanian setelah dua puluh tahun menikahi pria Australia, George Kelman.

Beberapa bulan setelah pandemi muncul, keluarga Kelman telah berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan bisnis mereka, dengan menjual produk secara online dan menyediakan layanan antar kepada pelanggan mereka.

Saat Kawasan pecinan masih ramai pengunjung dulu, mereka dapat memasok produk bagi setidaknya ratusan restoran dan ribuan pelanggannya. Namun, setelah pandemi, jumlah permintaan mereka menurun drastis. 

 

 

 

 

 

 

Seorang pemilik restoran bernama Henry Xu di Kawasan Pecinan Sydney mengatakan tidak sabar menyambut pelanggan di restoran 'hot pot' miliknya yang berkapasitas 100 orang, sejak dilonggarkannya aturan ‘lockdown’ yang memperbolehkan 50 pelanggan untuk makan di sana.

Sayangnya, Kawasan Pecinan bukanlah lagi tujuan wisata yang populer dan sama sekali belum ada sedikitpun tanda hiruk pikuk yang sudah dinantikan oleh warga Australia.

"Sepi sekali dan banyak toko yang tutup… sudah tidak ramai lagi," keluh Henry.

 

 

 

 

Enam bulan lalu, pemilik bisnis yang penuh harapan ini kesulitan mengatur antrean pelanggan yang yang tidak sabar menyantap makanan sambil bergosip ria, di depan pintu restorannya. 

Sekarang, di tengah bergantinya musim, antrean panjang dan gaung obrolan yang sering terdengar ini tinggal kenangan di bawah lampu neon berwarna terang.

"Tidak ada lagi mobil di jalanan. Tidak ada lagi orang-orang yang bekerja di Kampung China.”

 

'Kami tahu waktu sulit memang akan datang'

 

 

 

Pelanggan restoran dan mereka yang gemar berbelanja telah menghindar dari bisnis milik warga China di Australia, sejak pertama kali diumumkannya kasus virus corona di Australia, tepatnya tanggal 25 Januari.

"Saya ingat waktu itu adalah hari kedua Tahun Baru Imlek … tiba-tiba banyak pelanggan membatalkan reservasi mereka," kata Henry yang mengatakan langsung kehilangan pendapatannya setidaknya 70 persen dari biasanya.

"Kami sadar masa-masa akan menjadi semakin sulit — kami tahu kesulitan akan segera muncul."

Henry mengatakan restorannya harus dengan cepat beradaptasi dengan strategi bisnis yang baru, yakni menyediakan layanan pesan-antar dan mengubah menu, demi bertahan.

 

 

 

 

 

Simon Chan, ketua Perkumpulan Dagang Haymarket mengatakan bahwa Kawasan Pecinan atau 'Chinatown' adalah salah satu kawasan bisnis yang paling terdampak oleh pandemi.

"Pemerintah Pusat telah menghentikan kunjungan turis dari China sebagai langkah pertama pencegahan," kata dia.

 

 

 

"Banyak bisnis-bisnis sekitar Chinatown — restoran, toko, pariwisata … dan sejenisnya — sangatlah bergantung pada turis China."

"Mereka lmulai kehilangan sekitar 50 hingga 80 persen pendapatan mereka."

Dalam kurun waktu beberapa minggu, beberapa restoran China kalangan atas 'ambruk'. Salah satunya adalah restoran Shark Fin House, yang terletak di 'Chinatown' kota Melbourne yang telah beroperasi selama sekitar 30 tahun. 

 

 

 

 

"Kawasan Pecinan biasanya sangatlah ramai. Kebanyakan restoran biasanya punya dua ruang duduk, dan bila ada acara bisa menjadi hingga tiga ruang duduk," kata Eng Lim, wakil ketua Asosiasi 'Chinatown' di Melbourne.

"Namun, tahun ini [kawasan bisnis tersebut] sangatlah sepi. Beberapa di antaranya tetap buka dan membuka layanan 'takeaway'."

"Tapi kami tetap bertekad untuk menghidupkan kembali Kawasan Pecinan."

 

 

 

 

Tidak hanya bisnis, kegiatan kebudayaan dan aktivitas di sekitar Kawasan Pecinan juga sangat terdampak.

"Setiap minggunya sekitar 1.000 anak sekolah datang mengunjungi museum pendidikan. Multikulturalisme adalah salah satu bagian kurikulum sekolah," ujar Mark Wang, CEO dari Museum Sejarah Warga China-Australia.

"Ini adalah [situasi] yang sulit untuk ditangani… kami harus menggunakan dana cadangan kami, berupa uang tunai untuk bertahan diri."

 

 

 

 

Namun, walaupun Kawasan Pecinan atau 'Chinatown' dikenal sebagai tempat untuk menikmati hidangan hot pot bersama teman-teman, atau sekedar untuk mengunjungi museum, Kawasan Pecinan di Australia memiliki makna lebih dari sekadar itu.

"Kampung China Melbourne adalah Kampung China tertua di dunia Barat… kawasan ini adalah pondasi kuat bagi keuangan dan komunitas," kata Mark. 

"Kampung China dulu merupakan tempat penginapan dan persediaan bagi penambang emas yang tiba di Melbourne sekitar tahun 1800, setelah selama dua bulan berlayar dari Hong Kong dalam perjalanan menuju ladang emas."

"Gereja-gereja dibangun, rumah makan bermunculan. Masyarakat awal dan gereja yang ada sekarang masih menempati gedung yang sama yang mereka dirikan 160 tahun lalu."

 

 

 

 

Sementara Kawasan Pecinan di Sydney adalah yang terbesar di Australia, dibangun di era 1800-an di kawasan The Rock, yang sebelumnya dikenal sebagai 'Chinese Quarter' atau daerah warga China, sebelum sentimen anti-migran dan memaksa mereka pindah ke kawasan ke Haymarket di tahun 1920.

Mark mengatakan meskipun kehidupan di 'Chinatown' lebih dikenal secara komersial, kekuatan terbesarnya terdapat pada orang-orang dan ikatan komunitas yang mereka miliki.

"Inilah mengapa kami berjuang dari dasawarsa ke dasawarsa, biarpun sempat tergoyangkan oleh virus corona atau krisis keuangan global, atau keadaan lainnya, kami tetap bisa melewatinya dan berdiri tegak," kata dia.

"Kekokohan Komunitas China di Melbourne hari ini dimulai dari kehadiran Chinatown yang terus aktif di tengah pusat kota Melbourne."

 

Kekhawatiran akan ada yang lebih buruk

 

 


Dampak pandemi virus corona bukan hanya sekadar dirasakan oleh bisnis di pusat perkotaan.

Seperti juga dirasakan Debbie Gunawan, warga Indonesia keturunan Tionghua yang memiliki restoran Indonesia-Malaysia di daerah timur selatan Melbourne.

 

 

 

Ia mengatakan bahwa meskipun bisnisnya tetap dapat bertahan dengan membuka layanan 'takeaway', jumlah pelanggan yang menurun karena ditutupnya layanan makan di tempat, turut mempengaruhi karyawan dan komunitasnya.

"Pengeluaran biaya operasional untuk layanan takeaway dan delivery lebih rendah dibandingkan makan di tempat … tapi keuntungannya kurang lebih sama," kata Debbie.

"Namun, kami tetap harus memikirkan karyawan kami yang juga memerlukan pendapatan."

Kini Pemerintah Australia sudah mulai memperbolehkan kembali makan di restoran, banyak pula pemilik bisnis restoran yang merasa lebih optimis.

Para pemilik bisnis kecil memuji skema pembayaran inisiatif Pemerintah Pusat, bernama 'JobKeeper', yang menyediakan bantuan keuangan dan pengurangan biaya sewa, dan telah membantu banyak orang dalam bertahan di tengah pandemi.

Namun, anggota komunitas khawatir tempat seperti Kawasan Pecinan atau 'Chinatown' tidak akan segera kembali ke kondisi sebelum pandemi virus corona, mendengar pengumuman dari Perdana Menteri Scott Morrison bulan lalu, yang mengatakan bahwa pemulihan ekonomi di Australia akan memakan waktu setidaknya tiga hingga lima tahun.

 

 

 

"Menurut saya Chinawtown tidak akan kembali senormal dulu sebelum pandemi, sampai ditemukannya vaksin," kata Simon Chan dari Kamar Dagang Haymarket.

"Dan sampai sekarang, Pemerintah sepertinya sama sekali tidak akan membuka perbatasan negara sama sekali tahun ini."

"Menurut saya mungkin kejadian terburuk akan muncul dalam kurun waktu enam bulan, kecuali Pemerintah terus mengeluarkan paket bantuan".

 

 

 

 

Untuk sementara waktu, petani seperti keluarga Kelman mengatakan krisis ini tidaklah terlalu buruk.

"Pandemi ini telah memberikan kesempatan bagi saya untuk berhenti sejenak dan merefleksikan diri," kata Rita Kelman.

"Apapun yang terjadi, kita harus tetap optimis. Penting saya rasa untuk berhenti memikirkan apa yang ingin kita lakukan nanti setelah pandemi."

 

 

 

Baca cerita ini dalam Bahasa Inggris atau Bahasa Mandarin.

 

 

Kredit

  • Penulis: Samuel Yang & Jason Fang
  • Fotografer: Jarrod Fankhauser & Brendan Esposito
  • Laporan dan video tambahan: Natasya Salim dan Sean Mantesso
  • Supervising Producer: Emily Clark
  • Produksi dan Penyuntingan Digital: Steven Viney & Xiaoning Mo
 

 

Sumber : https://www.abc.net.au/indonesian/2020-06-06/nasib-kawasan-pecinan-di-australia-akibat-pandemi-virus-corona/12316874
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES