Monday, 15 Rabiul Akhir 1442 / 30 November 2020

Monday, 15 Rabiul Akhir 1442 / 30 November 2020

Sumbangan Islam pada makanan dunia

Islam, Haji dan Kehidupan Batin Masyarakat Jawa

Sabtu 06 Jun 2020 04:33 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Raja Pakubuwono X ketika berkunjung ke Masjid Luar Batang 1920

Raja Pakubuwono X ketika berkunjung ke Masjid Luar Batang 1920

Foto: Gahetna.nil
Islam dalam kedalaman sanubari orang Jawa

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh:Muhammad Subarkah, Jurnalis Republika

Sampai kini masih ada anggapan bahwa orang Jawa masih memeluk Islam setipis kulit ari. Dan hal hal ini sudah lama dibantah. Banyak orang, seperti sejarawan  UI, Dr Didik Pradjoko mengatakan tidak benar. Dia mencontohkan dengan fakta dengan mengacu pada hasil penelitian Nancy Florida mengenai pengaruh Islam dalam kehidupan orang Jawa yang justru semenjak masa lalu sudah sangat dalam.

Bahkan  Didik mencontohkan bila ditelisik dalam berbagai dokumen atau kitab tulisan Jawa, ternyata pengaruh Hindunya hanya sekitar 10 persen saja. Yang 90 persen adalah ajaran Islam yang ditulis dalam bahasa dan aksara Jawa. Akibatnya, karena ditulis dengan memakai huruf Jawa langsung secara  ‘gampangan’ dianggap tulisan yang terpengaruh ajaran Hindu.

‘’Naskah kitab jawa itu kira-kira semua jumlahnya sekitar 450 buah. Dari penelitian Nancy Florida hanya yang berisi ajaran Hindu kurang dari 40 buah.  Sisanya ajaran Islam. Nah, fakta inilah yang kemudian disembunyikan pihak kolonial seolah orang Jawa itu tidak atau asing dari Islam, karena selama ini hanya membesar-besarkan tulisan yang 10 persen saja. Sisanya lebih dari 400 buah tidak disentuh karena mereka tahu isinya ajaran Islam. Jadi selama ini  anggapan negatif ini dibangun dengan maksud tertentu oleh kolonial dengan tujuan sangat politis,’’ kata Didik Pradjoko dalam sebuah percakapan.

Pada sisi lain, kitab-kitab berbahasa Arab semenjak masa lalu banyak sekali diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa, sekaligus berhuruf Jawa. Seperti Kiai Ahmad Rifa’i (Ripangi) dari Batang, Pekalongan. Beliau yang hidup abad 19 akhir, banyak menulis saduran dan terjemahan dari kitab berbahasa Arab, sekaligus menuliskan pemikirannya dalam bahasa Jawa.

“Masalahnya orang awam begitu melihat kitab berhuruf Jawa sudah apriori, wah pasti karya kejawen,’’ kata Didik dalam tulisannya ‘Menguji Keislaman Orang Jawa Santri dan Abangan’. Artikel ini terbit di Harian Pelita 6 November 1992 dan ditulis Didik kala masih mahasiswa.

Bukti ke dalaman batin orang Jawa terhadap Islam terlihat sekali pada sikap priyayi yang rata-rata tetap enggan berpidan dengan masuk agama lain, kecuali Islam. Ini sangat jelas ditunjukan misalnya dalam sikap keluarga bangsawan Surakarta yang terlibat aktif dalam perjuangan pergerakan yang beridiologi Islam. Bahkan Pangeran Hangabehi yang kala itu menjadi putra mahkota dan kemudian menjadi raja dengan gelar Pakubuwono XII, sempat terpilih menjadi pelindung Central Comite Sarikat Islam pada tahun 1913.

Akibatnya, kemunculan Sarekat Islam pernah diramalkan Snouck Hurgronje, bahwa Gubernur Jendral Idenburg harus menghentikan program Kristenisasi karena hal ini akan menimbulkan alasan bagi munculnya gerakan Islam. Snouck kemudian menawarkan program ‘Asosiasi’ yaitu mendidik para pelajar Jawa untuk menjadikan mereka berpikir Barat dan sekuler serta menjauhkan diri dari agama (Islam).

Mengenal Tradisi Sekaten yang Tak Lekang Oleh Waktu - Ublik.id

  • Keterangan foto: Tradisi sekaten yang lestari hingga sekarang menjadi bukti ke dalaman ajaran Islam dalam sanubari orang Jawa.
                                         ******

Bukti itu terdapat  dalam laporan A.D Cornet de Groot pada tahun 1822 yang waktu itu merupakan Residen Gresik. Dalam sebuah laporannya yang mendeskripsikan Gresik di Jawa Timur. Dia mengisahkan bahwa rukun Islam sudah dijalankan secara luas oleh masyarakat. Dia menulis begini seperti dikutip oleh sejarawan M.C Ricklefs dalam karyanya ‘Mengislamkan Jawa’:

Poin-poin utama dalam keyakinan Islam, yang dijalankan oleh banyak orang, adalah syahadat (pengakuan iman), sembahyang (doa harian), puasa, zakat (sedekah), fitrah (sumbangan di akhir puasa), dan haji (peziarahan).. Puasa dilakukan oleh sebagian besar orang Jawa dari semua kelas.

Dukungan lain untuk pandangan ini datang dari J.W Winter, yang bekerja sebagai penerjemah di Surakart semenjak akhir abad ke-18 dan menuliskan laporan pada 1824. Pengamatannya terhadai Islam di antara orang jawa mengggabungkan wawasan dan ketidaktahuan dan, karenya, mesti dipahami secara hati-hati. Namun demikian, sungguh menarik bahwa di bagian akhir laporan yang diberi judul ‘Takhayul’, Winter menulis:

‘’Saya tidak mengatakan bahwa masyarakat Jawa tidak menjalankan dengan sungguh-sungguh agama mereka seturut kepercayaan Muhammad, yang dipeluk mereka di segenap penjuru Jawa. Para pemeluknya sangat patuh pada ajaran Islam.

Pada bagian lain, M.C Ricklefs juga mengutup tulisan Sir Thomar Stanford Raffles yang merupakan gubernur Letnan Jawa selama kekuasaan Inggris di Hindia Belanda pada tahun 1811-1816. Dalam bukunya yang terkenal itu ‘History of Java’ dia menulis bahwa pergi haji atau peziarahan ke Makkah adalah lazim. Raffles juga menuliskan laporan bila di setiap desa di Jawa memiliki ‘imamnya’, dan ... di desa yang penting terdapat sebuah masjid atau bangunan khusus yang diperuntukkan untuk peribadatan.

Raffles juga melaporkan tentang praktik sunat utuk anak laki-laki dan perempuan di setiap orang Jawa, di mana yang belakangan dia tulis ‘mengalami operasi kecil, dimaksudkan agar serupa.
 
                       

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA