Thursday, 11 Zulqaidah 1441 / 02 July 2020

Thursday, 11 Zulqaidah 1441 / 02 July 2020

Prabowo Kembali Pimpin Gerindra, Pengamat: Demokrasi Mundur

Sabtu 06 Jun 2020 05:01 WIB

Rep: Nawir Arsyad Akbar/ Red: Andri Saubani

Menteri Pertahanan Prabowo Subianto.

Menteri Pertahanan Prabowo Subianto.

Foto: Muhamad Ibnu Chazar/ANTARA FOTO
Pengamat menyoroti fenomena oligarki dalam partai politik di Indonesia.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dalam rapat pimpinan nasional (rapimnas) Partai Gerindra pekan ini, 34 DPD kembali mempercayakan Prabowo Subianto untuk kembali menjadi ketua umum. Melihat hal ini, pengamat politik Pangi Syarwi Chaniago menyoroti fenomena oligarki yang terjadi di partai politik Indonesia.

Menurutnya, kembali dipercayakannya Prabowo merupakan tanda bahwa kekuasaan partai hanya bertumpu pada satu atau beberapa orang saja. Padahal, hal tersebut dinilai buruk bagi sistem demokrasi.

"Ini yang menjadi penyebab belakangan demokrasi kita mundur, bagaimana mungkin negara akan demokratis apabila di tubuh internal partai sangat tidak demokratis," ujar Pangi saat dihubungi, Jumat (5/6).

Tanda berjalannya demokrasi dalam partai, kata Pangi, adalah adanya pergantian di tingkat pimpinan partai. Termasuk posisi ketua umum, yang merupakan pucuk pimpinan partai.

Hal inilah yang belum terlihat di Partai Gerindra. Meskipun Prabowo belum secara langsung memberikan pernyataan bahwa dirinya akan kembali memimpin partai.

"Keberadaan tokoh sentral dalam sebuah partai akan sangat mempengaruhi performanya, tapi sebagian partai salah mengartikan dengan melanggengkan kepemimpinan seorang tokoh," ujar Direktur Eksekutif VoxPol Center Research and Consulting.

Meski begitu, ia mengamini bahwa belum ada sosok lain di Partai Gerindra yang dapat menandingi peran Prabowo. Apalagi, Menteri Pertahana itu juga merupakan pendiri partai.

Hal senada juga diungkapkan Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR), Ujang Komarudin. Kembali dipercayakannya Prabowo sudah terprediksi sejak awal tahun 2020.

Tetapi, hal ini dinilai akan menghambat perkembangan partai. Karena proses regenerasi akan terhambat, karena hanya sejumlah orang yang mengisi posisi pimpinan partai.

"Regenerasi itu hanya angan-angan, hanya menjadi bayangan. Belum menjadi kenyataan, karena tokoh-tokoh tua masih ingin memegang partai," ujar Ujang.

Tetapi, ia tak memungkiri bahwa hadirnya Prabowo dapat meningkatkan elektabilitas Gerindra jelang Pemili 2024. Apalagi, kini partai tersebut punya dua orang yang menjabat sebagai menteri.

Serta, kader-kader yang mengisi posisi strategis di parlemen. Sehingga, hal tersebut dapat menjadi modal penting bagi Gerindra menyongsong kontestasi pada 2024.

"Di bawah komando Prabowo akan memudahkan konsolidasi partai dalam menghadapi tantangan ke depan," ujar Ujang.

Bagi Gerindra, Prabowo dinilai sebagai sosok yang masih diperlukan untuk memimpin partai berlambang garuda itu. Apalagi jasanya terhadap Partai Gerindra terbukti dalam pemilihan umum (Pemilu) sebelumnya.

"Gerindra masih butuh perekat, masih butuh figur yang dapat jadi pengayom dan masih butuh figur pejuang yang memimpin perjuangan Gerindra ke depan," ujar Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Sufmi Dasco Ahmad.

Hal senada juga diungkapkan Ketua DPD Gerindra Sumatera Barat, Andre Rosiade. Ia menyebut bahwa Prabowo menerima mandat yang diberikan oleh 34 DPD.

"Sebagai pejuang politik dan patriot, beliau siap menerima kepercayaan kembali dan InsyaAllah akan tetap berjuang bersama untuk memperjuangkan cita-cita Partai Gerindra," ujar Andre.

Adapun, pemilihan ketua umum akan dilaksanakan dalam kongres, yang rencananya digelar tahun ini. Meski masih dalam situasi pendemi Covid-19, forum tersebut akan tetap digelar secara virtual.

"Tidak masalah kalau kongres juga dilaksanakan virtual, DPP sedang mengkaji apakah bisa dilakukan virtual," ujar Andre.


Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA