Monday, 22 Zulqaidah 1441 / 13 July 2020

Monday, 22 Zulqaidah 1441 / 13 July 2020

Nol Kasus Baru Covid di Enam Provinsi dan Tren Pasien Sembuh

Jumat 05 Jun 2020 18:01 WIB

Red: Andri Saubani

Juru bicara pemerintah untuk penanganan Covid-19 Achmad Yurianto. (ilustrasi)

Juru bicara pemerintah untuk penanganan Covid-19 Achmad Yurianto. (ilustrasi)

Foto: Antara/Sigid Kurniawan
Enam provinsi tak catatkan penambahan kasus Covid-19 selama 24 jam terakhir.

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Sapto Andika Candra, Fauziah Mursid

Baca Juga

Terdapat penambahan 703 kasus konfirmasi positif Covid-19 baru selama 24 jam terakhir. Total pasien positif Covid-19 di Indonesia hingga Jumat (5/6) menyentuh 29.521 orang.

Dari angka tersebut, Jawa Timur masih menyumbangkan penambahan kasus tertinggi dengan 141 pasien baru. Kemudian DKI Jakarta menyusul dengan 76 kasus baru, Kalimantan Selatan 71 kasus baru, Jawa Tengah 58 kasus baru, dan Sulawesi Selatan 54 kasus baru.

Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto juga menyampaikan, selain masih ada provinsi yang mencatatkan penambahan kasus dengan jumlah yang tinggi, provinsi yang mencatatkan penambahan kasus dengan angka rendah juga semakin banyak. Total, ada 19 provinsi di Indonesia yang hari ini mencatatkan penambahan kasus positif Covid-19 di bawah 10 orang.

Perinciannya, tiga provinsi dengan penambahan hanya dua kasus baru, empat provinsi dengan satu kasus baru, dan enam provinsi mencatat penambahan kasus antara dua hingga 10 orang. Bahkan ada ada enam provinsi yang tidak mengalami penambahan kasus Covid-19 yakni Aceh, Bengkulu, Riau, Sulawesi Barat, Gorontalo, dan Nusa Tenggara Timur.

"Ini sesuatu yang menggembirakan karena gambarkan kondisi masyarakatnya yang sudah bisa terapkan kriteria aman dari Covid," jelas Yurianto, Jumat (5/6).

Pemerintah juga mencatat adanya penambahan kasus sembuh sebanyak 551 orang dalam satu hari terakhir. Jumlah pasien yang meninggal dunia juga bertambah 49 orang, sehingga totalnya 1.770 pasien yang meninggal dengan status positif Covid-19.

Pemerintah, ujar Yuri, juga semakin gencar melakukan pelacakan terhadap pasien positif Covid-19. Pelacakan kontak ini juga menyasar keluarga dan rekan kerja pasien. Total, ada 49.320 orang dalam pemantauan (ODP) dan 13.592 pasien dalam pengawasan (PDP) di Tanah Air.

Tren pasien sembuh

Yurianto menyampaikan, tren penambahan pasien Covid-19 yang dinyatakan sembuh terus menanjak. Pada Kamis (4/6) sampai Jumat (5/6), tercatat ada 551 pasien sembuh di seluruh Indonesia. Sehingga total pasien yang sembuh sebanyak 9.443 orang. Pasien Covid-19 dinyatakan sembuh setelah mendapat hasil tes PCR negatif, sebanyak dua kali berurutan.

Yurianto mengungkapkan, penambahan kasus sembuh juga terjadi di daerah yang masih mengalami penambahan kasus positif cukup tinggi. Di Jawa Timur misalnya, kendati angka penambahan kasus positifnya tertinggi nasional dengan 141 orang, namun tercatat ada penambahan 118 pasien sembuh dalam satu hari terakhir.

Kemudian DKI Jakarta yang mencatatkan 76 kasus baru dalam satu hari terakhir, juga terdapat 144 pasien sembuh. Artinya, pasien yang sembuh di ibu kota justru dua kali lipat dari penambahan kasus baru.

Serupa dengan Jawa Timur dan DKI Jakarta, Banten juga mencatatkan 45 pasien sembuh saat penambahan kasus positifnya 24 orang. Lalu ada Sumatra Barat dengan 21 pasien sembuh, meski kasus baru tercatat 13 orang. Jawa Barat ada 45 sembuh, saat penambahan kasus positif ada 12 orang.

Selanjutnya, ada Kalimantan Barat yang mencatatkan 15 pasien sembuh dan 3 kasus positif baru. Papua Barat, ada 17 pasien sembuh dan 2 orang penambahan kasus baru.

"Ini yang harus kita syukuri bahwa sekarang semakin banyak cenderung sembuh," jelas Yuri, Jumat (5/6).

Pemerintah pun telah mengaktifkan 66 mesin tes cepat molekuler (TCM) di kabupaten/kota. Pengaktifan mesin TCM ini untuk menambah kecepatan pengujian spesimen yang saat ini sudah ada di 101 laboratorium real time berbasis PCR, dan laboratorium jejaring yang berjumlah 186 lab.

Yurianto mengatakan, ini juga bagian meningkatkan pengujian spesimen secara masif sebagaimana target Presiden Joko Widodo (Jokowi), hingga 20 ribu tes sehari.

"Kita kejar target 20 ribu sehari, karena sarana untuk lakukan ini sudah cukup dan tersebar di banyak tempat. Kami sudah aktifkan 66 mesin tes cepat molekular yang berada di semua kabupaten/kota," kata Yurianto.

Ia mengatakan, pengaktifan 66 mesin tes cepat molekuler ini juga bagian upaya memperpendek jarak dan waktu tempat pemeriksaan dengan laboratorium. Sebab, saat ini jarak antara RS yang melakukan pemeriksaan, dengan laboratorium tidak merata di seluruh daerah.

"Ini menjadi salah satu tulang punggung kita sehingga jarak antara RS yang butuh pemeriksaan dengan lab bisa diperpendek. Makanya target mengejar 20 ribu akan selalu kami upayakan. Kami juga perbaiki sistem pelaporan oleh seluruh lab," ujarnya.

Hingga saat ini total keseluruhan spesimen yang telah diperiksa 380.973 spesimen. Untuk hari ini, pengujian yang dilakukan yakni sekitar 13.333 spesimen.

"Ada 13.333 spesimen yang diperiksa. Kita akan terus tingkatkan upaya pemeriksaan testing yang lebih masif. Sehingga kita bisa dapatkan hasil optimal," katanya.

Sebelumnya, Presiden Jokowi menetapkan target baru pengujian spesimen virus corona hingga 20 ribu per harinya. Ia mengatakan, target yang sebelumnya telah ia tetapkan, yakni 10 ribu per hari, pun telah terlampaui.

"Untuk pengujian spesimennya, saya kira saya mengucapkan terima kasih bahwa target pengujian spesimen yang dulu saya targetkan 10 ribu ini sudah terlampaui. Saya harapkan target berikutnya ke depan adalah 20 ribu per hari. Ini harus mulai kita rancang untuk ke sana,” kata dia.

Karena itu, ia pun meminta agar pelacakan secara agresif lebih ditingkatkan. Jokowi mengatakan, pelacakan dapat dilakukan dengan menggunakan bantuan sistem teknologi telekomunikasi.

Ia mencontohkan negara lain yang telah menggunakan sistem teknologi telekomunikasi dalam melakukan pelacakan seperti Selandia Baru yang menggunakan diari digital dan Korea Selatan yang mengembangkan mobile GPS sehingga data pelacakan pun termonitor dengan baik.

"Saya minta untuk pelacakan secara agresif dilakukan lebih agresif lagi dengan menggunakan bantuan sistem teknologi telekomunikasi dan bukan dengan cara-cara konvensional lagi,” ucap Jokowi.

photo
Jadwal pembukaan kegiatan sosial ekonomi saat PSBB transisi di Jakarta - (Republika)

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA