Wednesday, 17 Zulqaidah 1441 / 08 July 2020

Wednesday, 17 Zulqaidah 1441 / 08 July 2020

Kisah Kemuliaan 'Orang-Orang Gila'

Kamis 04 Jun 2020 20:01 WIB

Rep: Muhyiddin/ Red: A.Syalaby Ichsan

Tasawuf (ilustrasi)

Tasawuf (ilustrasi)

Foto: Blogspot.com
Dia menjawab tubuhnya memang gila, tapi hatinya tidak.

REPUBLIKA.CO.ID, Sejarah mencatat kisah orang-orang yang berpura-pura gila. Padahal, mereka memiliki akal yang sehat. Sikap itu untuk menutupi keadaan yang sebenarnya di hadapan manusia biasa.

Seperti dijelaskan dalam buku berjudul Kebijaksanaan Orang-Orang Gila, Abu al-Qasim Junaid pernah berkata, “Kegilaan Bani Amir disebabkan oleh kecintaannya kepada Allah. Tapi dia menyembunyikan keadaan itu dengan menampakkan kegilaan.”

Selain itu, Malik Ibnu Dinar juga pernah berkata, “Di Mashihah, saya melihat orang tua yang lehernya diikat belenggu dan rantai. Anak-anak kecil melemparinya dengan batu. Orang tua itu bersenandung, ‘Orang-Orang yang aku lihat berbentuk manusia, ternyata jika diteliti bukanlah manusia’.

Malik Ibnu Dinar lantas mendatangi orang yang dianggap gila akal tersebut. Dia menanyakan langsung kepadanya tentang kegilaannya. Namun, orang tua itu menjawab bahwa tubuhnya memang gila, tapi hatinya tidak. Lantas orang tua yang gila tersebut bersyair:

“Aku menampakkan diriku gila di hadapan manusia. Supaya aku sibuk dengan diriku sendiri. Wahai orang yang heran dengan cara berpikirku. Apa yang harus kukatan, sedang pikiranku tidak dipahami.”

Dalam kisah lainnya, Imran ibnu Ali ar-Raqi menceritakan bahwa Aban Ibnu Sayar ar-Raqi adalah seorang pemimpin qari’ dan orang-orang fakir di Raqqah. Dia juga merupakan referensi dalam bidang keilmuan.

Suatu hari, anak semata wayangnya dimangsa oleh serigala. Saking sedihnya, dia pun berkelana tak tentu arah dan menjadi gila. Lalu, Imran Ibnu Ali menemuinya di sebuah masjid saat dia bercengkrama dengan para pemuka masyarakat. Lalu Imran bertanya kepadanya, “Wahai Aban, apakah kamu gila?"

Aban menjawab, “Betul saya gila di hadapanmu dan orang-orang sepertimu”. Lalu, Imran bertanya lagi, “Bagaimana itu terjadi?”. Lalu Aban menjawab dengan sebuah puisi:

Menurut kalian akalku telah gila.

Demi Tuhan, hatiku tidak gila.

Dari diriku aku gila.

Demi Tuhan manusia, ada yang lebih gila dariku yakni yang membeli dunia dengan agama.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA