Tuesday, 23 Zulqaidah 1441 / 14 July 2020

Tuesday, 23 Zulqaidah 1441 / 14 July 2020

SBY Sebut Bush Berbicara dari Hati Soal Kasus George Floyd

Kamis 04 Jun 2020 06:25 WIB

Rep: Dewi Mardiani/ Red: Erik Purnama Putra

Presiden ke-6 RI sekaligus pendiri Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Presiden ke-6 RI sekaligus pendiri Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Foto: Thoudy Badai_Republika
SBY ingat, George Bush kirim bela sungkawa saat istrinya berpulang ke Rahmatullah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhyono (SBY) menulis artikel tentang kerusuhan di Amerika Serikat (AS) sebagai imbas tewasnya warga kulit hitam George Floyd setelah tak bisa bernapas akibat lehernya ditekan dengan lutut oleh polisi Derek Chauvin pada 25 Mei lalu. Salah satu bagian artikel berjudul 'Amerika, Are You Oke?' menyoroti tentang komentar presiden AS periode 2001-2009.

SBY mengungkapkan, ia memiliki kedekatan dengan Bush junior tersebut. Bahkan, ketika istrinya Ani Yudhoyono meninggal, Bush mengirimkan ucapan duka cita kepadanya. Berikut salah satu bagian artikel SBY yang diunggah di akun Facebook pribadinya:

Menarik apa yang disampaikan oleh mantan Presiden George W. Bush beberapa jam yang lalu. Bush jarang mengeluarkan pernyataan politik. Apalagi Bush dan Trump berasal dari partai yang sama, Partai Republik. Bush mengatakan bahwa dia dan Laura (mantan Ibu Negara) sedih dengan tewasnya George Floyd dengan cara seperti itu.

Di bagian lain dari pernyataannya, Bush juga mengatakan bahwa bukan saatnya bagi Amerika untuk 'menguliahi', tetapi saatnya untuk mendengar. Dia juga menggarisbawahi bagaimana Amerika bisa menghentikan rasisme yang sistemik dalam kehidupan masyarakatnya.

Menurut saya, Bush berbicara dari hatinya. Dari nuraninya. Beyond politics.

Pertanyaannya, apakah pernyataan Bush ini pertanda bahwa mungkin saja terjadi angin perubahan di negeri itu. Itulah yang kita tidak tahu.

Sedikit banyak saya mengenal Presiden Bush. Mungkin banyak yang mengira sosok yang teguh dan dianggap 'keras' itu sulit berempati. Dia justru sebaliknya.

Saya ingat ketika istri tercinta Ani Yudhoyono sedang dirawat di rumah sakit, Bush dan Laura mengirim surat yang penuh empati dan mendoakan kesembuhan Ani. Ketika Ani berpulang ke Rahmatullah, mereka kembali mengirim surat kepada saya sebagai ucapan bela sungkawa.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA