Saturday, 20 Zulqaidah 1441 / 11 July 2020

Saturday, 20 Zulqaidah 1441 / 11 July 2020

Wimar: Pemulihan Ekonomi Indonesia di New Normal 10 Tercepat

Kamis 04 Jun 2020 04:40 WIB

Red: Muhammad Fakhruddin

Halal Bi Halal Media Intermatrix Communications yang bertema

Halal Bi Halal Media Intermatrix Communications yang bertema

Foto: istimewa
New normal merupakan kenyataan yang harus dipahami secara serius.

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Pandemi Covid-19 di tahun 2020 ini telah mengubah seluruh tatanan kehidupan masyarakat dunia secara besar-besaran. Indonesia pun bukan perkecualian. Namun setelah pandemi ini berakhir keadaan tidak akan kembali seperti sebelumnya.

"Kita semua harus berdamai dengan kehidupan normal yang baru (new normal). Kabar baiknya bagi Indonesia ialah pemulihan ekonomi di Indonesia akan sangat cepat sekali," kata Pakar Komunikasi Wimar Witoelar. 

Wimar Witoelar merupakan pembicara utama pada pada Halal Bi Halal Media Intermatrix Communications yang bertema "Awal Baru Memasuki Normal Baru". Halal Bi Halal diselenggarakan secara online via Zoom pada Rabu (3/6). Turut hadir sebagai pembicara diskusi Halal Bi Halal Direktur Rumah Sakit Jantung Binawaluya dr. Jimmy Agung Pambudi, MARS. 

Bulan puasa di tahun ini baru saja berakhir. Sesuai tradisi, ini saat masyarakat Indonesia melakukan halal bi halal. Ini saat kita memulai lagi secara positif hubungan antar sesama dengan saling maaf-memaafkan. Intermatrix Communications mengajak rekan-rekan media untuk menggunakan momen tersebut untuk berdiskusi mengenai apa dan bagaimana new normal di Indonesia nantinya.

“Dampak ekonomi selama masa social distancing bagi Indonesia dan dunia tidaklah ringan. Itu sebabnya pemulihan ekonomi pada masa new normal adalah salah satu topik penting di dunia dan Indonesia. Indonesia sudah diprediksi oleh media internasional sebagai negara yang paling cepat pulihnya yaitu pada peringkat sepuluh dunia,” ujar Wimar.

Menurut Wimar, Indonesia bersama negara-negara dunia bersiap memulai berbagai aktivitas publik di bidang ekonomi, pendidikan, kegiatan-kegiatan ibadah, dan bidang-bidang lainnya. Dimulainya aktivitas publik tidak akan kembali ke keadaan normal sebelum pandemi Covid-19, namun akan menjadi new normal dengan menerapkan berbagai protokol Covid-19. 

New normal merupakan kenyataan yang harus dipahami secara serius karena mau tidak mau itulah dunia baru kita bersama. Dunia di mana semua tatanan masyarakat dunia akan disesuaikan dengan berbagai protokol penanganan Covid-19,“ lanjut Wimar.

dr. Jimmy menyatakan bahwa data dari Gugus Tugas per tanggal 2 Juni 2020 menunjukkan bahwa jumlah yang positif  ada 27.549 kasus tersebar di 34 provinsi. “Seluruh provinsi tidak ada yang bebas. Ini sebaran yang luar biasa. Kasus baru juga juga masih ada 609 kasus di 23 provinsi.” 

Kesiapan fasilitas kesehatan juga masih sangat terbatas dengan rasio ketersediaan tempat tidur rumah sakit kurang lebih 1,2 per seribu penduduk dan jumlah ventilator juga sangat terbatas yaitu 8400 ventilator. Jika terjadi gelombang kedua yang besar maka akan sangat sulit mendapatkan pelayanan kesehatan yang cukup.

Mempersiapkan menghadapi new normal juga tidak mudah. “New normal adalah keniscayaan karena ekonomi harus dikembalikan. Kementerian Kesehatan RI sudah memberikan banyak protokol serta panduan untuk new normal yang harus kita ikuti,” ujar dr. Jimmy.

dr. Jimmy  menyatakan, “Pembatasan jarak dan budaya mencuci tangan adalah yang paling penting. Sebelum new normal digaungkan saya sudah khawatir, karena sebelumnya pun orang sudah mengabaikan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Kita tidak boleh percaya siapapun bebas Covid-19 karena ada kasus-kasus orang terinfeksi tapi tidak menunjukkan gejala spesifik. Banyak yang terlihat sehat tapi bisa menularkan karena terinfeksi. Itu kita harus hati-hati.”

“Kita harus mengikuti protokol yang sudah ditetapkan dan menjaga keluarga kita. Kita harus belajar dari sejarah. Pada saatnya jika terjadi gelombang kedua maka tidak semua pasien akan dapat pelayanan rumah sakit yang memadai. Tapi jika kita menjaga diri dengan mengikuti protokol, mungkin gelombang kedua tidak perlu terjadi,” tutur dr. Jimmy.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA