Rabu 03 Jun 2020 17:38 WIB

Mahasiswa Anambas Berunjuk Rasa di Tengah Pandemi

Mahasiswa tidak menerapkan protokol kesehatan Covid-19 saat berunjuk rasa

Rep: Antara/ Red: Christiyaningsih
Mahasiswa tidak menerapkan protokol kesehatan Covid-19 saat berunjuk rasa. Ilustrasi.
Foto: Antara/Jojon
Mahasiswa tidak menerapkan protokol kesehatan Covid-19 saat berunjuk rasa. Ilustrasi.

REPUBLIKA.CO.ID, TANJUNGPINANG - Puluhan mahasiswa yang tergabung di dalam Aliansi Mahasiswa dan Masyarakat Anambas (AMMA) Bergerak nekat menggelar unjuk rasa meskipun di tengah situasi pandemi Covid-19. Aksi tersebut dilakukan di halaman Mess Pemda/Kantor Penghubung Kabupaten Anambas di Jalan Sei Jang, Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau, Rabu (3/6).

Pantauan Antara, dalam menjalankan aksinya para mahasiswa tampak tidak menerapkan protokol kesehatan Covid-19, seperti tidak menjaga jarak. Bahkan beberapa di antaranya tidak mengenakan masker.

Baca Juga

Polisi yang mengawal jalannya aksi beberapa kali mengimbau menggunakan pengeras suara agar mahasiswa tetap mematuhi protokol kesehatan demi meminimalkan risiko penularan Covid-19. "Silakan adik-adik mahasiswa sampaikan tuntutannya. Asal jaga jarak dan kenakan masker," kata Kasat Sabhara Polres Tanjungpinang, AKP Darmin.

Dalam unjuk rasa tersebut Koordinator Aksi AMMA Bergerak, Khaidir, menyampaikan empat poin tuntutan kepada Pemerintah Kabupaten Anambas.

Pertama, menuntut dan mendesak Pemkab Anambas segera merealisasikan dan menyalurkan bantuan langsung tunai (BLT) sebesar Rp 450 ribu per bulan. Hal itu sesuai hasil keputusan rapat yang telah dilakukan bagi mahasiswa dan masyarakat Anambas yang berada di luar daerah dan terdampak Covid-19.

"Warga Anambas yang kuliah maupun berdomisili di Kota Tanjungpinang sekitar 500 orang," ungkap Khaidir.

Kedua, menuntut Pemkab Anambas untuk mengambil langkah nyata terkait usaha pemulangan mahasiswa dan masyarakat Anambas terdampak, tertahan, dan ingin pulang ke Anambas.

Ketiga, mendesak pihak APDESI Anambas untuk segera mengeluarkan pernyataan sikap terkait kedatangan 10 pekerja SP II yang datang dengan tanpa dasar yang jelas. Mereka juga menuntut APDESI untuk mengambil sikap atas pemulangan seorang mahasiswa yang dilakukan oleh oknum Kepala Desa di tengah pelarangan pemulangan mahasiswa ke tempat asal.

Keempat, menuntut klarifikasi Staf Ahli Bupati Anambas Syahzinan yang menyatakan bahwa aksi AMMA Bergerak ditunggangi oleh kelompok politik tertentu tanpa ada bukti serta fakta yang jelas.

"Jika poin-poin di atas tidak segera dipenuhi, maka kami akan menduduki Mess Pemda Anambas dan tidak akan membubarkan diri sampai ada klafirikasi secara langsung oleh pihak terkait," tegas Khaidir.

Hingga sore, para pengunjuk rasa masih memadati gedung tersebut sembari menunggu bupati atau perwakilan Pemkab Anambas memberikan jawaban atas tuntutan yang disampaikan AMMA Bergerak.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement