Rabu 03 Jun 2020 11:39 WIB

Pentagon Pindahkan 1.600 Tentara AS ke Washington, Ada Apa?

Demonstrasi atas kematian George Floyd juga pecah di Washington, D.C.

Para pengunjuk rasa dan Polisi Militer berhadapan muka setelah polisi dan militer mendorong para pengunjukrasa mundur beberapa blok untuk memungkinkan Presiden AS Donald J. Trump berpose dengan sebuah Alkitab di luar Gereja Episkopal St. John setelah menyampaikan pidato di Rose Garden di Gedung Putih di Washington, DC , AS, 01 Juni 2020. Trump menyampaikan protes nasional menyusul kematian George Floyd dalam tahanan polisi.
Foto: EPA-EFE/CARLOS VILAS
Para pengunjuk rasa dan Polisi Militer berhadapan muka setelah polisi dan militer mendorong para pengunjukrasa mundur beberapa blok untuk memungkinkan Presiden AS Donald J. Trump berpose dengan sebuah Alkitab di luar Gereja Episkopal St. John setelah menyampaikan pidato di Rose Garden di Gedung Putih di Washington, DC , AS, 01 Juni 2020. Trump menyampaikan protes nasional menyusul kematian George Floyd dalam tahanan polisi.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON  -- Pentagon memindahkan sekitar 1.600 tentara Amerika Serikat ke (AS) wilayah Washington, D.C. Hal itu menyusul serangkaian aksi unjuk rasa atas kematian George Floyd, warga kulit hitam yang tewas karena disiksa anggota kepolisian, yang berujung kericuhan terjadi di kota Washington, D.C.

"Tentara-tentara itu ditempatkan di pangkalan militer di National Capital Region tetapi tidak di Washington, D.C," ujar juru bicara Pentagon Jonathan Rath Hoffman mengatakan dalam sebuah pernyataan.

Baca Juga

Dia mengatakan pasukan saat ini dalam "status siaga tinggi" tetapi tidak berpartisipasi dalam dukungan pertahanan untuk operasi otoritas sipil. Pejabat senior pertahanan mengatakan bahwa pasukan akan pindah ke wilayah Washington.

Pasukan termasuk polisi militer dan mereka yang memiliki kemampuan teknik, bersama dengan batalion infantri, kata Hoffman.

Floyd, 46, meninggal pada Senin setelah video menunjukkan seorang petugas kepolisian Minneapolis berkulit putih menekan leher Floyddengan lutut selama hampir sembilan menit. Hal itu menyulut kemarahan di seluruh penjuru AS menjelang pemilihan presiden pada November dan di tengah pandemi virus Corona. Komunitas minoritas sangat terpukul oleh pandemi dan kebijakan pembatasan tersebut.

Pihak berwenang memberlakukan jam malam di puluhan kota di seluruh Amerika, yang terbesar sejak 1968 setelah pembunuhan Martin Luther King Jr, yang juga terjadi selama kampanye pemilihan presiden dan di tengah pergolakan demonstrasi anti-perang.

Di Santa Monica, toko-toko kelas atas dijarah di sepanjang Third Street Promenade yang populer di kota itu sebelum polisi bergerak untuk melakukan penangkapan.  Lebih jauh ke selatan, di Long Beach pinggiran kota Los Angeles, sekelompok pria dan wanita muda menghancurkan jendela pusat perbelanjaan dan menjarah toko-toko sebelum mereka dibubarkan.

Di Washington, D.C., pengunjuk rasa memicu kebakaran di dekat Gedung Putih, dengan asap yang bercampur dengan awan gas air mata mengepul ketika polisi berusaha untuk membubarkan mereka dari daerah tersebut.

Kekerasan sporadis pecah di Boston menyusul protes damai ketika para pegiat melempar botol ke arah petugas polisi dan membakar sebuah mobil. Philadelphia mengumumkan pukul 6 sore sampai jam 6 pagi sebagai jam malam setelah seharian protes dan penjarahan.

Sementara itu beberapa ratusan demonstran berpawai melalui pusat kota Miami meneriakkan: "Tidak ada keadilan, tidak ada kedamaian."

sumber : Antara/Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement