Friday, 28 Rabiul Akhir 1443 / 03 December 2021

Friday, 28 Rabiul Akhir 1443 / 03 December 2021

Ekonomi Arab Saudi, Terlalu Optimistiskah?

Rabu 03 Jun 2020 07:39 WIB

Rep: Arabnews/ Red: Elba Damhuri

Ekonomi Arab Saudi: Mata uang Saudi Riyal

Ekonomi Arab Saudi: Mata uang Saudi Riyal

Foto: Republika/Putra M. Akbar
Moody memberikan penilaian kinerja ekonomi Arab Saudi terkait pandemi virus corona

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Talat Zaki Hafiz*

Sebuah laporan Moody baru-baru ini mengeksplorasi langkah-langkah yang diambil Pemerintah Arab Saudi untuk membatasi dampak pandemi virus corona. 

Moody khususnya menyoroti kebijakan ekonomi Saudi melalui pemotongan belanja, kenaikan tiga kali lipat pajak pertambahan nilai (PPN), dan membatalkan biaya tunjangan hidup.

Dikatakan, langkah-langkah seperti itu akan membantu pemerintah mengimbangi sebagian besar kerugian pendapatan dari turunnya produksi dan harga minyak dunia yang selama ini jadi basis pendapatan Saudi.

Juga, diperkirakan Pemerintah Arab Saudi menghasilkan 120 miliar riyal (5 persen dari PDB) dan 50 miliar riyal lainnya dari kenaikan PPN dan pembatalan masing-masing subsidi biaya hidup.

Moodt melanjutkan, dengan melihat dampak dari pembatalan, perluasan atau penundaan beberapa pengeluaran operasional dan modal, bisa mencapai pemotongan belanja hingga 100 miliar riyal ---setara dengan 4 persen dari PDB.

Sementara saya sangat menghormati perkiraan Moody dan penilaian profesionalnya. Saya merasa beberapa temuan dan taksiran pendapatan yang diharapkan dihasilkan dari melipattigakan tarif PPN dan membatalkan tunjangan biaya hidup, mungkin terlalu optimistis dan dilebih-lebihkan.

Mengambil perhitungan PPN sebagai contoh, pendapatan yang diharapkan dihasilkan dari tiga kali lipat retribusi ini didasarkan pada perubahan pada paruh kedua tahun ini.

Seperti disebutkan dalam laporan, mencapai pendapatan seperti itu tergantung pada sejauh mana pandemi (dan kenaikan PPN) mengurangi konsumsi dan menyusutkan basis pendapatan pajak tahun ini.

Beban PPN yang lebih tinggi dapat menyebabkan penurunan substansial dalam konsumsi. Ini juga dapat mendorong konsumen untuk beralih ke barang dan jasa alternatif yang mengharuskan mereka membayar lebih sedikit PPN dibandingkan dengan yang lain.

Asumsi yang dibuat tentang pemotongan belanja juga dipertanyakan karena pemerintah dapat mengalihkan belanja modal untuk mendukung kesehatan dan belanja lainnya yang terkait langsung dengan dampak sosial dan ekonomi dari pandemi.

Itu dibuktikan dengan perkiraan 226 miliar riyal untuk bantuan dan subsidi pada kuartal pertama tahun ini, untuk memberikan dukungan bagi kebutuhan medis memerangi virus corona dan memperkuat sektor swasta.

sumber : Arabnews
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA